Kompak, 500 Buruh Pulp dan Kertas Outsourcing PT Tanjungenim Lestari Mogok Kerja

Mogok Kerja SPK TeL di Muara Enim Sumatera Selatan

Buruh.co, Jakarta – Sebanyak 500 buruh outsourcing di perusahaan PT.Tanjungenim Lestari Pulp and Papper di Muara Enim Sumatera Selatan dan PT Kaliguma Transindo di Lampung melancarkan aksi mogok kerja menjelang lebaran. Kedua anggota Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia (FSP2KI) itu Mogok dimulai  pada Rabu, 13 Juni hingga Jumat 15 Juni 2018.

Para pekerja yang mogok berasal dari Serikat Pekerja Kontraktor PT Tel di Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Serikat Pekerja TUKS (Terminal untuk Kepentingan Sendiri) di PT Kaliguma Transindo. PT Kaliguma adalah operator untuk pelabuhan milik PT Tel di Lampung tersebut.

Sebanyak empat unit outsourcing di anggota Serikat Pekerja Kontraktor bergabung melancarkan mogok tersebut. Keempatnya adalah  PT. Inti Bumi Mas, PT. Wira Putra Perkasa, PT. Mayapada Clinic Pratama dan PT. Fajar Muara Indah. PT TeL merupakan perusahaan eksportir kertas dan pulp besar di Indonesia dengan investasi Jepang yang mempekerjakan 2,500 karyawan, 1,700 di antaranya adalah pekerja outsourcing.

Di perusahaan perawatan dan perbaikan PT Inti Bumi Mas, pekerja mendesak pembayaran upah lembur sesuai hukum dan menolak PHK dengan alasan perusahaan vendor itu tidak mendapatkan kontrak dengan induk perusahaan PT TeL. Pasalnya, peraturan menteri tenaga kerja menyebutkan PT TeL seharusnya mempertahankan karyawan outsourcing meski berganti vendor.

Sementara, perusahaan bongkar bahan mentah PT Wira Putra Perkasa dan penyedia jasa kesehatan PT Mayapada Clinic Pratama mendesak penghapusan kontrak sebagaimana diatur dalam UU 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Di PT Fajar Muara Indah, buruh memprotes lembur yang tidak dibayar. Tidak hanya itu, buruh juga menuntut hak cuti dan kepesertaan dalam BPJS, kontrak kerja, dan Alat Perlindungan Diri.

Di lain sisi, buruh di PT Kaliguma Transindo di Lampung mendesak kenaikan upah sebagaimana upah minimum Lampung 2018. Pasalnya, buruh masih menerima upah minimum 2017 dan dengan itu upah lembur berdasarkan pada perhitungan upah lama. “Selama dua kali perundingan dengan manajemen mereka tetap bersikukuh tidak mau membayar itu semua sehingga terjadilan mogok kerja,” kata Ketua SP TUKS Ahmad Hafizd.

Aksi mogok tersebut mendapat dukungan federasi-federasi anggota KPBI. Di Sumatera Selatan, Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Sumsel turun mendukung pemogokan. Sementara, di Lampung perwakilan Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia turut memberikan dukungan.

Sementara, Asisten Sekretaris Jenderal IndustriALL, Kemal Ozkan, juga menyampaikan dukungan dari afiliasi FSP2KI di kancah internasional tersebut. “Kami mendesak perusahaan bertanggungjawab pada para pekerja yang selama ini memberi sumbangsih penting untuk operasional perusahaan,” katanya. 

Hingga berita ini diturunkan, ratusan buruh di kedua tempat tersebut masih melancarkan aksi mogok kerja.