Sastra

TAK BOLEH LAGI ADA KORBAN

TAK BOLEH LAGI ADA KORBAN

Namaku Ana,
22 tahun terbungkam Dalam ketakutan,
Dalam perih,
Dalam duka yang terus larut,
Dalam marah yang tak pernah bertepi,
Dalam kegelapan,
Lemah dan,
Tak berdaya.

Semua terlihat buram tanpa cahaya,
Mengingatnya adalah memporakporandakan jiwa,
Saat tubuh ini mungil,
Saat tenaga ini lunglai,
Saat pengetahuan belum mendera,
Saat bualan-bualan mencari mangsa,
Kau cabik-cabik kehormatan diri,
Kau rampas harga diri,
Kau campakkan sukma,
Kau rampas kemanusiaan anak manusia.
Kau berikan luka yang tak pernah terlupa,
Sangat menakutkan.

Duniaku gelap,
Mataku nanar menatap masa depan,
Tubuhku gemetar,
Marah tak bertenaga.

Jiwa ini memberontak,
Sorot tajam tak kau hiraukan,
Sebaliknya,
Langkah kakimu kian pasti,
Menepi pada korban,
Kemudian pada korban berikutnya,
Menyeruak, memangsa,
Tanpa sisi kemanusiaan, dengan segala iming-iming dalam bentuk pembodohan.

Kini,
Tubuhku berdiri tegak,
Tenagaku lebih dari kepalan-kepalan tinju,
Keyakinanku tajam,
Kau harus ku hentikan, Segera dihentikan.

Tak boleh lagi ada korban berjatuhan,
Tak boleh lagi ada korban terbungkam.

Tak boleh lagi ada korban.
Tak boleh lagi ada korban
Tak boleh lagi ada korban.

Jkt, 7 Maret 2019
Gadis Merah

 

(Puisi ini ditulis berdasarkan kisah nyata)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close