Serba-Serbi

Sri Rahmawati: Perempuan yang Mengambil Alih Kepemimpinan

Pada tahun 2013 basis FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) di PT Amos Indah Indonesia mengalami guncangan serius. Ketua serikatnya berkhianat. Dia menyetujui penangguhan upah tanpa berkoordinasi dengan pengurus basis yang lain dan Pengurus Pusat FBLP. Atas pengkhianatannya itu, dia diganjar jabatan baru oleh perusahaan.

Tertimpa masalah tak ringan ini, 800-an anggota FBLP di pabrik merasa resah dan kecewa. Organisasi menjadi tak kondusif. Bak diterpa gempa, rumah perjuangan itu tiang-tiangnya pun mulai bergoyang. Pengurus Pusat lantas bertindak cepat, melayangkan surat pemecatan. Tapi masalah belum kelar. Kekosongan kepemimpinan menjadi isu penting selepas pemecatan ketua lama.

Lantas dalam satu rapat penting serikat, seorang perempuan berdiri dan menyampaikan keyakinannya,

“Saya siap untuk menjadi ketua, menggantikan ketua kita yang tidak amanah!”

Perempuan yang berdiri dengan berani pada periode krisis itu, dia Sri Rahmawati. Sosok lembut dan ramah yang sepintas tampak seperti perempuan dari Jawa. Jika mendengar sejenak saja tutur dan logatnya kala berbicara, barulah kita mengerti, Sri Rahmawati bukan berasal dari Jawa, melainkan Bima, NTB.

Saat mengajukan diri sebagai ketua, banyak buruh di tempat kerjanya yang belum mengenalnya, bahkan mendengar namanya pun tidak. Apalagi pihak perusahaan, bukan semata tidak setuju, sosok Rahma bahkan mereka remehkan. Tetapi tekad sudah membulat. Keberanian membimbing Rahma untuk mengkonsolidasi kawan seperjuangannya. Membuatnya terpilih sebagai orang nomor satu di serikat tempat kerjanya. Perusahaan kelak akan paham, siapa perempuan yang mereka remehkan itu.

Perempuan yang lahir 39 tahun silam ini, sekarang sudah dua periode menjabat sebagai ketua basis FBLP (Federasi Buruh Lintas Pabrik) PT. Amos Indah Indonesia yang berlokasi di Kawasan Berikat Nasional (KBN) Cakung, Jakarta Utara. Sebagai ketua basis, ia adalah sosok yang membanggakan anggota-anggotanya.

Komitmennya untuk terus membela anggota tak pernah surut, terlebih ibu dua orang anak ini punya gaya tersendiri dalam bernegosiasi. Ia dikenal cerdik, gigih, dan pantang menyerah saat berdebat dan berargumentasi. Kegigihan dan kecerdikannya itu dia pergunakan saat mengadvokasi anggotanya di PT Amos Indah Indonesia, maupun ketika bertugas mengadvokasi anggota FBLP di pabrik lain.

Ditambah sikap jujurnya yang tak sudi menerima suap, Rahma, – begitu dia biasa dipanggil-, menjadi sosok yang cukup dicintai anggota. Tak jarang, ketika pihak managemen telah kehabisan akal menghadapi sikap tegas Rahma, intimidasi pun menerpanya. Dia mesti dipindah tempat kerja, dimaki atasan, tak diberi lemburan, sampai dengan politik pecah belah organisasi yang berusaha mengucilkannya. Rahma menghadapi semua itu dengan tegar. Dia yang dulu diremehkan, sekarang membuat pihak management menahan mulas, tak cukup daya menekuk ketegarannya.

Bermula Dari Ruang SD

Sekitar 9 tahun lalu, aku berjumpa kali pertama dengannya. Ketika itu FBLP tengah memasuki masa-masa awal pembangunan organisasi. Dalam sebuah pertemuan massal calon basis yang bertempat di SD Al Araf (belakang KBN), dia mendekatiku dan menyampaikan keluhannya. Katanya, kawan-kawannya takut berorganisasi.

Disaat yang sama, dia juga menyampaikan analisanya, tidak semua yang hadir di pertemuan bersikap mendukung organisasi. Tak sedikit dari mereka merupakan mata-mata perusahaan. Dari sinilah perhatianku mulai tertuju kepada Rahma. Sejenak muka kalem dan bersahaja ini ku amati, lalu perlahan ku sampaikan kepadanya,

Gak ada perjuangan yang gak ada rintangan. Kuncinya adalah terus menerus melakukan upaya. Nanti kita akan bertemu orang-orang yang benar-benar berposisi sama dengan tujuan kita…”

Menyimak hal itu, Rahma tersenyum, tampak gembira dan sekaligus penasaran. Saat itu dia belum bersedia masuk dalam jajaran kepengurusan serikat di pabriknya. Dia merasa belum cukup punya pengetahuan, tetapi dia berjanji akan tetap aktif sebagai anggota. Dan kelak, dia memang terbukti menunaikan janjinya itu. Satu lagi wataknya, setia dalam berjanji.

Ketertarikannya berorganisasi sendiri bermula saat melihat situasi kerja di pabrik yang tak nyaman. Ditambah adanya perbedaan-perbedaan fasilitas di setiap perusahaan di KBN. Masalah tersebut sering menjadi bahan obrolan Rahma bersama tetangga-tetangga kontrakannya. Rahma tinggal dengan suami dan kedua anaknya di sepetak kontrakan papan berukuran 3×5 meter di Kelurahan Sukapura, Cakung. Di daerah tersebut ada banyak buruh dari beragam pabrik.

“Kok bisa ya beda fasilitas, apakah ada aturannya, kenapa sebagai buruh kita tak mendapat sosialisasi oleh perusahaan?”, ujarnya suatu waktu.

Memang, kondisi tempat kerja Rahma tak sama dengan pabrik-pabrik lain di KBN. Ada pembedaan jam kerja, target produksi, cuti melahirkan, cuti haid, cuti tahunan, makan, dan sekeranjang pembedaan lain yang merugikan buruh. Terkait hal itu, sering dia hanya mendapat sosialisasi mengenai kewajiban demi kewajiban. Sementara perihal hak, satu-satunya yang di sebutkan hanyalah upah semata. Dari situlah awalnya Rahma ingin mencari tahu dan ingin berserikat.

Bergabungnya Rahma ke FBLP kemudian hari memberinya kesempatan untuk belajar. Pergaulannya lantas berkembang. Mengenal banyak aktivis menjadi hal yang memgembirakannya. Rasa cinta Rahma ke organisasi ikut dipupuk oleh kedudukannya sebagai perempuan dalam masyarakat. Pun kesehariannya di KBN, kawasan tempat buruh perempuan adalah mayoritas. FBLP organisasi dimana dia belajar dan berjuang terbilang cukup konsisten mengangkat isu perempuan, sesuatu yang jarang sekali diangkat oleh serikat buruh lain.

Mengenai isu perempuan ini, Rahma memiliki pandangan khusus,

“Lebih bagus jika pendidikan gender masuk dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Dengan begitu, akan semakin tumbuh kesadaran tentang kesetaraan perempuan. Termasuk pemahaman bahwa pekerjaan rumah tangga atau kerja domestik adalah tanggung jawab bersama. Bukan lagi beban perempuan semata. Pemerintah seharusnya memberikan perhatian terhadap kerja-kerja domestik, negara saat ini masih menganggap itu bukan sebagai pekerjaan.”

Buruh Perempuan, Mahluk Seribu Tangan

Bagi Rahma, hal yang paling berat namun harus terus dilakukan ialah mengajak dan meyakinkan anggota untuk belajar berani. Keberanian agar menyatakan bahwa ada hak buruh dalam bekerja yang harus ditaati. Pekerjaan mendidik ini tentu bukan pekerjaan sepele. Pun ia akan memakan waktu yang panjang, bahkan sepanjang umur.

Mengatur waktu kemudian menjadi hal yang tak mudah ditengah ragam tuntutan dan tanggungjawab. Rahma adalah buruh pabrik sekaligus ketua serikat buruh. Dia mesti bekerja sekurangnya 40 jam dalam sepekan. Dia juga wajib memperhatikan perkembangan anggota, melaksanakan kerja advokasi dan mengurusi semua tetek bengek keorganisasian.

Di waktu yang sama, sebagai perempuan dan istri, beban kerja ganda ikut diembannya. Kerja rumah tangga mengurus anak dan rona-rona urusan domestik adalah jadwal harian yang tak terhindarkan. Dari urusan mengiris bawang dan merebus air, hingga meneliti berkas kasus buruh, pendeknya semua harus tertangani. Terlebih, belakangan tahun Rahma menjadi pencari nafkah tunggal karena keterbatasan sang suami.

Dongeng yang menggambarkan perempuan sebagai sosok yang terbatas dan lemah, sama sekali tak menemukan kenyataannya dalam sosok-sosok perempuan seperti Rahma. Ada ragam tanggungjawab dengan masalahnya masing-masing yang harus bisa diatasi. Masalah-masalah yang juga ditentukan oleh posisi sosialnya, apakah dia buruh atau pemilik banyak uang.

Soal kesetaraan bagi perempuan kelas buruh jelas jauh lebih kompleks ketimbang perempuan borjuis atau pemilik modal. Perempuan borjuis bisa lebih berdaya dengan modal yang ia punya dan mengejar pencapaian tanpa perlu dirisaukan kurangnya upah, mengirit kebutuhan belanja rumah, naiknya harga sembako, berpanas-panas berdemonstrasi atau kuatir di-PHK.

Perempuan-perempuan borjuis juga bisa mengupah pekerja rumah tangga, babysitter, sopir, bodyguard atau membayar siapa saja yang dibutuhkan untuk meringankan hidupnya. Perempuan kelas buruh mengurus segalanya dengan otak dan otot yang dipunya. Dari pagi buta ketika mata terbuka hingga tengah malam saat mata terpejam lagi. Perempuan kelas buruh adalah makhluk seribu tangan.

“Bagi saya, diam itu berarti belum merdeka”, tegas Rahma suatu waktu.

Kemerdekaan sebagai kelas buruh, kemerdekaan sebagai perempuan, kemerdeakaan sebagai manusia. Semua cita-cita yang membuat saya bangga menyebut namanya: Sri Rahmawati, perempuan hebat dari Bima.

(Oleh Gadis Merah)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close