Dinamika Buruh

Selamat Ulang Tahun, Rumah Ini Harus Diperkuat

 

Empat tahun lalu saya menulis surat. Itu adalah surat pendek untuk kongres pendirian KPBI. Kabarnya, apa yang saya tulis dibacakan di salah satu sesi Kongres. Sesungguhnya saya tidak mengharapkan, walau mendengarnya tetap membuat saya tersenyum. Dua hal yang paling saya ingat dari surat pendek itu adalah, saya menulisnya selepas memindahkan rumput untuk pakan ternak, dan di atas segalanya surat tersebut saya buat demi mewartakan harapan. Setiap sesuatu didirikan, setiap itu pula harapan akan membuntutinya, demikian biasanya hidup berjalan. Demikian pula cara saya memahami KPBI. Dan saya percaya, demikian juga yang ada di benak 250 orang yang berkumpul di suatu hari pada bulan September, di Parung empat tahun silam. Harapan.

Sejujurnya, saya tidak terlalu paham rincian-rincian yang melatarbelakangi kelahiran KPBI. Bagaimana prosesnya dan apa saja yang telah membuat KPBI menjadi keniscayaan. Yang saya paham, tahun-tahun itu adalah tahun dimana saya harus mempertahankan hidup dengan cara yang berbeda. Saya ingin bilang, sebagai lelaki, mungkin itu merupakan tahun-tahun terbaik dalam lintasan umur. Saya hidup di pelosok desa tepian hutan, tempat dimana petani-petani tengah baku rebut lahan dengan tuan tanah besar. Saya hidup bersama mereka, makan makanan yang sama, memikul hasil panen yang sama, bersua ular yang sama, merumput menggunakan arit yang sama, memikul resiko yang sama untuk diciduk aparat atau dilukai bandit desa. Takut dan berani bersama. Oleh karenanya, pada masa itu, saya memiliki keterbatasan dalam mengasup kabar perihal KPBI. KPBI ketika masih janin, kala bersemayam di rahim.

Setelah surat, peristiwa berikutnya yang saya ingat tentang KPBI adalah pertemuan Bandung. Saya bersua Ilhamsyah, ketua umum terpilih. Kehidupan saya tengah berubah. Saya memiliki gaji yang baik, tempat tinggal yang baik, tampilan yang baik, tapi bukan kehidupan yang baik. Malam itu sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dalam pertemuan kami, kecuali sepasang lelaki yang saling bertukar kabar. Menanyakan kesibukan masing-masing. Saya sesungguhnya sudah lama tidak melihat Ilhamsyah. Dulu kami pernah dibesarkan di organisasi yang sama. Yang paling saya ingat dari pria ini, dia pernah berbicara nyaring tentang ‘Garis Massa’ di sebuah Kongres yang sengit. Sesuatu yang saat itu secara unik tengah dipertentangkan dengan ‘Vanguardisme’. Dia berbicara dalam intonasi yang tinggi, intonasi yang mewakili kehendak. Intonasi yang sama yang bisa kita saksikan hari-hari ini, belasan tahun kemudian.

Di ujung pertemuan, lelaki kecil asal Payakumbuh ini berucap,

‘Ayo, tolonglah, ikut bantu-bantu.’

Dan masalah dimulai persis disini. Saya pada akhirnya harus terlibat, lebih jauh dari yang semula saya rencanakan. Sebenarnya saya merasa ini bukan era saya berada di pusaran utama. Saya sangat berminat dan berharap anak-anak muda menjadi tulang punggung bagi apa saja rancangan masa depan. Terlalu banyak beban kekeliruan masa lalu yang membuat saya merasa, kami tidak punya legitimasi saintifik dan moral untuk tetap berada di dekat nahkoda. Tetapi demikianlah, selalu saja ditemukan argumen untuk mencoba kemungkinan yang lain. Cukup dengan menggunakan gawai, selanjutnya di search engine kita akan mendapati kutipan nan kondang itu. ‘Old soldiers never die, they just fade away.’ Saya pun terlibat. Dengan KPBI. Hingga sekarang.

Sekarang, setelah dua tahun berselang dari pertemuan Bandung, saya menulis kembali, bukan di samping kandang kambing lagi, melainkan persis di salah satu ruangan kantor KPBI. Ini adalah tempat dimana beberapa bulan terakhir saya tinggal. Tempat yang seharusnya menjadi pusat operasional organisasi. Tempat yang menjadi rumah bagi gagasan, penilaian dan ketajaman berpikir berpusat. Namun dengan jujur kita harus akui, rumah ini belum seramai yang didambakan. Sebagai orang yang pernah diminta menjadi profesional di sebuah startup, saya hidup dalam sebuah kredo: wajah organisasi akan tercermin dari kantornya. Anda tidak perlu pergi ke Pentagon atau kantor staf kepresidenan, untuk mempercayai kredo tersebut. Kepadatan dan intensitas kantor akan memberikan gambaran tentang ukuran, skala dan kapasitas. Tiga hal yang sangat bertalian erat dengan masa depan. Saya harus mengatakan, dalam hal ini kita belum bisa menjadi sangat optimis. Tapi saya percaya, kelak di kemudian hari, dengan satu atau lain cara, kita akan bisa mengatasinya.

Kemudian sampailah kita di sore hari kemarin. Ketika tumpeng dipotong, kita semua secara aklamasi menerima ulang tahun KPBI yang ke-empat. Dalam hidupnya, ada tiga cara manusia merayakan ulang tahun. Pertama adalah cara anak-anak. Dalam cara ini apa yang paling diinginkan yaitu kado, hadiah, pemberian, dan perasaan diperhatikan. Namun tentu kita bukan anak-anak lagi. Beberapa diantara kita mungkin kerap bertingkah seperti anak-anak, -semisal dengan tidak membereskan barang yang dipakainya-, tapi itu tidak lantas membuatnya menjadi anak-anak. Jadi kita tidak melihat kesesuaian cara ini pada diri kita. Cara kedua, ialah cara remaja. Bagi remaja, saat ulang tahun tiba, gagasan utamanya ialah segera berpesta. Membikin rame dan hore. Itu akan sangat menyenangkan untuk dilakukan. Remaja menggemari kesenangan, bahkan sebagian diantaranya kecanduan. Tetapi kita sangat insaf, kesenangan kerap tidak banyak membantu. Kemajuan tidak sinonim dengan bersenang-senang. Terlebih dalam perjuangan kelas, kesenangan ada di urutan paling buncit, hanya bisa dicecap saat kemenangan tiba.

Cara yang ketiga adalah cara orang dewasa. Rasanya ini yang wajib kita pilih. Setidaknya KTP kita mengkonfirmasinya, tidak ada yang berumur 15 tahun di KPBI. Maka, orang dewasa akan memperlakukan ulang tahun, pun umur, sebagai medium menilai diri. Anda tidak perlu menjadi pertapa agung agar pandai merenung, Anda hanya perlu memiliki otak yang sedikit waras saja untuk melakukannya. Sebagian orang dewasa akan melihat ulang tahun dalam angka. Angka merupakan ukuran matematis yang cukup bisa diandalkan. Angka akan mengekspresikan pencapaian-pencapaian dan apa yang sudah dilakukan. Mari kita sederhanakan itu semua dengan perenungan semacam, berapa banyak anggota kita? Berapa kota? Berapa pabrik? Berapa jumlah mobilisasi? Berapa sering pendidikan dilakukan? Berapa jenis pendidikan? Berapa followers akun kita? Berapa jumlah aktivis yang handal? Berapa cukup keuangan dan pembiayaan? Ada daftar panjang pertanyaan ‘berapa, berapa, berapa’ yang bisa kita bikin dan jawab.

Kita boleh saja sinis dengan statistik, sayangnya kali ini sikap sinis itu tidak banyak membantu. Mereka yang acuh dengan angka, sesungguhnya tidak cocok hidup di serikat buruh. Bukankah tiap tahun salah satu persengketaan rutin kita tak lain tentang desimal upah? Demonstrasi menuntut upah mewakili angka-angka, perihal rupiah yang dimau. Itu kenapa tak ada satu pun negara yang tak memiliki biro statistik. Kantor yang sibuk dan serius menggeluti angka-angka. Di keseharian, orang bisa saja memanipulasi pihak lain di media sosial dengan rupa-rupa postingan, demi menggambarkan dirinya tajir. Sampai kemudian digit di rekening akan berbicara lebih jujur. Dan sekali lagi, dalam ulang tahun ini, kita harus rendah hati mengakui, angka-angka belum berpihak kepada kita.

Siapa saja yang berani membusungkan dada dengan angka yang dipunya sekarang, saya berani bertaruh, orang-orang ini datang dari golongan yang fakir imajinasi dan nihil cita-cita besar. Maaf, mereka tidak relevan dengan hari depan. Angka yang besar, pastinya perlu upaya yang besar. Perlu perencanaan, ketangkasan menjalankan rencana, kepemimpinan cakap, perilaku mumpuni, kapasitas yang memadai, dan 1001 pra syarat lain. Dan jika itu 1001, berapa yang sudah kita miliki sekarang? 100? 150? Atau malah kita tidak tau, sebab kita telah terlalu lama menjauhi ukuran-ukuran eksakta. Bila kita mencampakkan sepenuhnya eksakta, artinya kita berjalan di atas ruas yang tidak ilmiah. Non saintifik. Lantas masa depan apa yang bisa ditagih dari tindakan yang tidak ilmiah?

Saya bukan orang pintar, tapi saya cukup waras untuk memilih percaya kepada dokter yang menyodorkan diagnosa ilmiah, dan bukan dukun dengan kepulan kemenyan serta mantra. Pada akhirnya, organisasi, mesti terus mengupayakan diri membangun kepemimpinan yang ilmiah, darimana hal-hal yang presisi berpeluang dilahirkan. Pada kalangan massa yang paling terbelakang, agitasi akan sangat membantu membangkitkan kesadaran, sementara pada tahap lanjut, cara menyakinkan pihak manapun tidak lain hanya bisa dilalui dengan proposal ilmiah. Semua ini akan membantu kita menjadi profesional. Semakin profesional, semakin besar peluang membuka kemungkinan baru, sedangkan amatir hanya akan berkutat pada problem yang itu-itu saja. Mandeg.

Sebagian kita telah terlibat dalam urusan ini selama belasan atau bahkan puluhan tahun. Panjangnya waktu sama sekali tidak menggaransi kita untuk tetap menemukan persoalan-persoalan basic, seperti ‘memastikan rapat, mengingatkan surat sudah dibikin, apa yang mesti dibicarakan, materinya belum disusun’, atau deretan soal-soal sejenis. Kita sangat bisa menerima masalah-masalah elementer ini muncul dan berjubel di akar rumput. Tapi rasanya kita akan menjadi dungu, jika masih memiliki toleransi besar kalau hal-hal ini menjadi ketegangan harian di tingkat kepemimpinan. Ketegangan yang menggambarkan betapa mandegnya kita selama sekian tahun. Jalan di tempat sepanjang masa yang lama. Sibuk dan kehabisan energi memastikan hal ‘remeh-temeh’.

Orang bilang,

‘Hanya amatir yang intens membicarakan cara, profesional hanya membicarakan sumber daya.’

Demikian yang bisa saya tulis. Ini bukan tulisan yang layak dikategori cukup cermat. Terdapat keterbatasan waktu dan pikiran di belakangnya. Saya tidak menganjurkan membaca tulisan ini, -beserta masalah-masalah yang hinggap di dalamnya-, dengan raut muka muram. Menjadi jujur tidak berarti membuat orang bersedih dan masam. Kejujuran akan membebaskan siapapun. Tanpa kecuali kejujuran mengakui kekurangan diri dan berkaca di depannya. Kita pantas berendah hati untuk melihat rumah kita apa adanya, tanpa melebih-lebihkan. Bila ia tidak memiliki jendela, katakan demikian. Jika engsel pintu rusak, jangan ditutupi, kecuali diujarkan, untuk selanjutnya diperbaiki. Bahkan bila itu menyangkut pondasi rumah, sesuatu yang sangat mendasar. Penilaian ini pun tidak boleh dihindari. Saya sudah terlalu tua, untuk sanggup menghibur diri dengan penilaian yang tidak presisi atas diri sendiri.

Kita dianjurkan menempatkan berbagai masalah, sebagai langkah mula-mula untuk maju.
Beberapa orang telah gagal mengidentifikasi masalah untuk selanjutnya menemukan rentetan kegagalan lain secara beruntun, tak peduli seberapa keras keringat telah dikucurkan untuk bekerja. Kemampuan kita menemukan, menghimpun, mengurut, dan menganalisa masalah akan sangat menentukan hari depan seperti apa yang pantas diterima. Dari sana kita akan mempersiapkan diri dengan baik demi mendudukkanya sebagai tantangan. Pada setiap tantangan, ada harapan menanti untuk dimenangkan. Harapan itu yang membuat kita ada disini, di rumah kita ini. Harapan yang membuat KPBI berdiri. September, empat tahun silam. Di Parung, Bogor.

Akhirnya, selamat ulang tahun KPBI. Kita perkuat rumah ini!

****

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close