Serba-Serbi

Saya Sopir, Saya Golput

Semakin hari, serangan terhadap mereka yang memilih golput rasanya semakin mengerikan. Cap benalu, bermental tidak stabil, penakut, sampai dengan sebutan pucuk tai disematkan kepada mereka yang golput.

Makian-makian itu seperti ingin memperlihatkan bahwa mereka yang mengambil sikap tidak memilih pada pemilu kali ini adalah seburuk-buruknya mahluk. Sementara kebenaran mutlak penuh kilauan cahaya ada di tangan mereka yang memilih.

Saya bukan seorang intelektual yang bisa dan terbiasa membedah sikap golput dari berbagai teori politik. Saya tak punya tutur kata yang kaya diksi dan ungkapan yang berlimpah pengistilahan njelimet.

Satu hal yang saya tahu, bahwa golput itu hak setiap orang, apapun alasannya. Saya sendiri pada pemilu kali ini telah menyiapkan diri untuk golput. Itu adalah hak saya, sekalipun ketika saya menggunakan hak tersebut harus dicap benalu, bermental tidak stabil, penakut, pucuk tai, atau sebutan buruk lainnya.

Asal mereka paham, jika sekedar menghardik dengan omongan kotor, bertahun-tahun di jalanan membuat telinga saya sudah kebal atas hal seperti itu. Saya juga bingung melihat mereka yang mendakwa golput dengan sebutan yang buruk-buruk itu, sebagian dari mereka mengaku dirinya pluralis.

Tapi bagaimana para pluralis ini bisa begitu kesetanannya melihat perbedaan sikap politik yang beragam? Kadang orang sekolahan memang lebih pandai melucu, sikap dirinya sendiri lah sebagai sumber kelucuannya.

Sebagai seorang sopir, saya tak banyak mendapat kesempatan untuk belajar beragam teori di ruang-ruang kuliah, atau membaca tumpukan buku di perpustakaan. Saya meraih pengetahuan politik dari pendidikan-pendidikan yang diselenggarakan organisasi tempat saya bernaung dan pengalaman saya sebagai kelas buruh. Ini penting bagi saya, asal usul kelas saya menentukan bagaimana saya melihat kenyataan.

Selama menjadi sopir truk, saya hanya tahu kapan saya harus menginjak gas atau rem, membelokan arah, menempuh jalanan yang penuh ritangan, ditemani kopi, rokok dan alunan musik dangdut. Yang terakhir ini, sungguh sangat mengasyikkan.

Saya lebih akrab dengan kehidupan rakyat kebanyakan di jalanan, warteg, petugas pom bensin, dan rekan sejawat sesama sopir, dibanding dengan pemikir-pemikir hebat yang datang ke talk show tv dengan setelan rapih atau seleb media sosial yang bertabur “like” dan “share”. Jarak saya dengan mereka sangat jauh, sejauh jarak anak gedongan dan anak kampung biasa.

Namun saya tahu dan merasakan, suara saya begitu berharga di tiap lima tahun sekali. Maka tak heran kalau saya atau mereka yang ingin menggunakan haknya untuk golput menjadi sasaran dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh orang-orang seperti kami.

Suara kami adalah angka yang dibutuhkan untuk mengantarkan mereka menuju Senayan atau Istana. Bisa jadi serangan itu adalah bentuk kefrustasian mereka karena gagal membujuk orang-orang dengan berbagai janji, atau aneka slogan; nasionalis, agamis, pluralis, merakyat, tegas, antikorupsi, dan segala kesempurnaan lainnya.

Sekali lagi saya tegaskan, bahwa golput itu adalah hak! Tak ada yang boleh melarang saya atau orang-orang untuk menggunakan hak tersebut. Baik mereka yang golput karena alasan kecewa, karena pilihan yang tersedia tidak ada yang baik dalam pandangannya, karena pendukung para calon sangat menyebalkan, atau karena mereka yang dulu ada di jalanan dan kini ada di dekat kekuasaan tak memberikan pengaruh berarti bagi rakyat, atau juga karena para calon adalah mereka yang ingin melanggengkan sistem ekonomi dan politik yang menguntungkan mereka dan golongannya saja.

Saya sendiri bukan orang yang anti politik atau anti partai. Saya belajar dan berjuang secara politik di serikat buruh. Tapi aturan yang ada saat ini memang tak memungkinkan bagi mereka yang tak percaya dengan calon dan partai yang ada, untuk menempuh jalur membangun kekuatan politiknya sendiri dan ikut pemilu.

Tak akan mungkin saya yang seorang sopir, mengajak para sopir lain untuk membuat Partai Sopir Indonesia atau Partai Bak Truk Jaya Raya, dan mengikuti pemilu demi memperjuangkan nasib sopir. Terlalu besar biaya ikut serta dalam pemilu, bukan lagi jutaan, sudah harus ada uang triliunan. Dari mana sopir-sopir bisa mengumpulkan uang sebanyak itu? Mau jual truk majikan??

Sistem politik hari ini meminta kita mencoblos deretan calon yang disediakan, lantas itu yang disebut pesta demokrasi. Pesta macam apa dimana kita dipaksa menelan makanan basi atau minuman tak sehat, dan bila kita menolaknya lantas kita dikata-katain?! Saya tetap punya keyakinan. Sekalipun itu sulit, saya dan kawan-kawan seperjuangan ingin mengubah sistem politik yang dimonopoli segelintir orang-orang kaya ini.

Paling tidak saya ingin melakukan langkah agar harapan itu bisa terwujud suatu saat nanti. Rakyat jelata harus punya alat politiknya sendiri. Bagi saya, lebih baik menggantungkan harapan pada diri sendiri dan rakyat senasib, sekalipun saya tak bisa menikmati hasilnya di sisa usia. Daripada saya harus menggantungkan harapan pada para calon yang telah terbukti memberikan harapan palsu.

Akhir kata, mereka yang suka dan hanya bisa menggantungkan nasib ke pihak lain, setau saya justru yang biasa dan pantas disebut benalu. Meski tidak juga harus dicap pucuk tai.

Salam Satu Aspal !!

***

Penulis: Abdul Rosyid, aktif di FBTPI.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close