Serba-Serbi

Ramadhan: Melawan Kapitalisme Itu Ibadah

 

“Kaoem modal memeras kaom boeroehnja tiada memandang bangsa dan agama dan tiada ambil poesing wet-wet igama jang moesti didjalani orang-orang yang beragama… kaoem-kaoem boeroeh di mana-mana sadja selain mereka soedah mengorbankan tenaganja, fikirannja…poen mengoerbankan agamanja diroesak djoega olih kapitalisme…”

Begitulah petikan tulisan Haji Misbach, seorang muslim yang gigih berjuang melawan ketidakadilan di masa kolonial Belanda. Petikan tulisan itu memberi makna untuk dua hal, kejinya kapitalisme, -tanpa kecuali kepada kehidupan beragama-, dan keharusan untuk melawannya.

Tentu saja melawan penghisapan tak mengenal jadwal kalender. Semua bulan baik adanya demi menegakkan yang haq. Tidak ada larangan bagi umat untuk terus melawan ketidakadilan semisal di bulan Ramadhan.

Hidup di bawah kuasa kapitalisme adalah hidup yang tak manusiawi. Kaum buruh terus terbelenggu dalam cengkraman  setan bernama kapitalisme yang jahat dan merusak. Sederhananya kapitalisme adalah penumpuk harta kekayaan dan modal.

Kapitalisme tidak pernah mengenal belas asih kepada buruh, meskipun memasuki bulan Ramadhan sekalipun. Sebaliknya, kapitalisme hanya mengenal kerakusan dalam kehidupannya. Menindas dan menghisap keringat buruh sampai kering selama puluhan tahun, bahkan berabad-abad lamanya sejak sistem ini berdiri.

Setiap bulan puasa berlangsung dari tahun ke tahun, banyak perusahaan melakukan PHK. Semisal PHK di PT. Garmen Indoraya di Bali tahun 2011 yang memakan korban 45 buruh ter-PHK. Lalu PHK kepada 135 orang di PT. Bening Big Tree Farms di Sleman tahun 2017. Juga 1095 orang Awak Mobik Tangki Pertamina. Dan yang terbaru adalah PT. Hansae Indonesia Utama yang menutup pabriknya tanpa memberikan hak-hak buruhnya secara benar. Semua di bulan Ramadhan.

Perlawanan saat bulan puasa untuk melawan setan bernama kapitalisme harusnya tak boleh surut. Beberapa dekade silam, sepuluh hari menjelang Lebaran pada Mei 1923 meletus juga perlawanan di jawatan Kereta Api. Perusahaan Kereta Api negara dan swasta menghapus sejumlah tunjangan dan memangkas kenaikan gaji buruh.

Hidup belasan ribu buruh tak menentu dan gelap karenanya. Meyaksikan itu, buruh kereta api tidak tinggal diam, mereka bertindak. Tepat sepuluh hari sebelum Lebaran, buruh kereta api melakukan mogok kerja sampai berbulan-bulan. Atas tindakan itu, buruh yang mogok harus menerima tindakan kekerasan. Selama mogok itu pula, pengusaha tidak pernah memberikan sekecil apapun hak buruh Kereta Api.

Sejarah masa silam, nyatanya sampai hari ini tidak pernah berubah. Watak khas Kapitalisme tetap sama, rakus, tamak dan jahat. Takdir watak tersebut melekat erat pada sistem kapitalisme, apapun bentuk wajah, usaha dan orangnya. Hukum ekonomi mereka sederhana “mendapat laba sebanyak-banyaknya”. Watak jahat itu khas seperti setan, kapitalisme menjerumuskan buruh dan rakyat dalam jurang kemerosotan hidup.

Kapitalisme tidak pernah peduli tentang apa itu haq dan bathil. Tidak pernah peduli tentang halal dan haram. Begitupulah saat ramadhan tiba, kapitalisme tetap tamak dan jahat. Semisal buruh PT. Hansae Indonesia Utama sampai hari masih belum juga mendapat hak mereka, keringat yang sudah diperas bertahun-tahun dihargai dengan PHK massal

Tidak ada yang bisa diharapkan dari setan bernama kapitalisme, alih-alih malah memujanya. Kemerosotan hidup kaum buruh adalah ulah kapitalisme. Dialah (Kapitalisme) setan sesungguhnya, mencecap darah buruh, menjerumuskan dalam kehidupan yang penuh dengan kubangan kemiskinan.

“…hingga sekarang saja berani mengatakan djoega, bahoewa kaloetnja doenia ini, tiada lain hanja dari djahanam kapitalisme dan imperialisme berboedi boeas itoe sadja. Boekannja keselametan dan kemerdikaan kita hidoep dalam doenia ini sadja, hingga kepertjajaan kita hal igama poen diroesak djoega olihnja.”

Begitulah ungkapan cerdik seorang muslim taat tentang kapitalisme dalam Medan Moeslimin, sebuah terbitan progresif pada jamannya. Haji Misbach paham, melawan  kapitalisme adalah ibadah, sebab ia wujud nyata melawan hawa nafsu yang tamak dan jahat.

****

 

Penulis: Muhammad Imam Muzaqqi

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close