Uncategorized

Quo Vadis Via Vallen?

Quo Vadis Via Vallen? Saya kira tidak ada kelompok pemusik Indonesia yang sekeras kepala Superman Is Dead (SID). Kelompok musik punk yang berbasis di Kuta, Bali, ini tidak pernah malu mengemukakan pendapatnya. Mereka sangat keras menyuarakan apa yang dirasa benar dan adil. Sekalipun melawan arus. Mereka tidak peduli.

Tentu ada harga yang harus dibayar untuk bersikap. Itulah yang selalu terjadi di negeri ini bukan? SID tidak diundang ke panggung-panggung besar. Cukup bermain di pinggiran. Kesulitan mendapatkan sponsor. Bahkan pentas di sebuah pertunjukan SMA sekali pun (iya, acara Sekolah Menengah Atas!) masih direcoki oleh aparat keamanan.

Bahaya pun tidak kurang. Masih ingat insiden di Malang seorang musisi yang nasibnya sungguh malang akibat disiram air keras? Target sebenarnya adalah musisi SID. Banyak dugaan peristiwa itu akibat SID menyuarakan sekeras-kerasnya Tolak Reklamasi Teluk Benoa.

Inisiden itu tidak mengurangi volume suara SID. Lewat mic yang mereka pegang, mereka tetap bersuara. Tetap keras.

Mereka juga tidak tertarik untuk dekat pada kekuasaan. Saya mendengar, ketika satu tim kampanye presiden meminta lagu SID “Jadilah Legenda” untuk dijadikan lagu tema kampanye mereka, SID dengan lugas menjawab: Tidak.

Seingat saya, jawaban mereka karena Perpres 51/2014 tentang reklamasi Teluk Benoa belum dicabut.

Namun, salah kalau mengatakan bahwa SID adalah band yang isinya aktivis belaka. Sama sekali tidak. Sepanjang saya ketahui, tidak sekali pun mereka menyembunyikan bahwa mereka adalah bagian dari dunia — gembira, bermain, minum, bercinta. Mereka tidak segan-segan mengenakan kata ‘hedonistik’ pada diri mereka.

Mereka juga tidak berusaha tampil heroik seperti aktivis. Mereka lebih sering tampil dandy. Tidak segan memamerkan tubuh yang terawat rapi. Dengan tato berserakan. Seorang teman saya berseloroh, tidak ada sejengkalpun dari tubuh mereka yang bebas tato.

Pakaian yang dikenakan adalah pakaian yang mereka jual. Banyak kritik dari kalangan pemusik punk yang mengatakan mereka hanya berjualan merchandise. Apa yang salah? Itu kerja sah, bukan? Mereka pun harus hidup. Tidak dari mencuri. Apalagi harus melacurkan diri.

Kemarin SID mengeluarkan album baru. Tajuknya, “Tiga Perompak Senja.” Saya beruntung mendengarkannya sebelum album itu beredar. Saya tidak ahli musik. Namun saya suka dengan beberapa lagu. Jika yang awam seperti saya saja suka, maka mungkin banyak orang lain juga.

Nah, disinilah pangkal persoalannya. Banyak lagu SID yang kadang dinyanyikan dengan genre musik lain. Misalnya, dangdut koplo. Salah satu hits SID, “Sunset di Tanah Anarki” pernah dinyanyikan oleh artis koplo, Via Vallen. Bahkan sempat direkam dalam bentuk VCD. View videonya di Youtube ditonton jutaan orang. Ini semua dilakukan tanpa ijin tentunya.

Jerinx, salah satu personil SID, menulis kekesalannya dibawah ini. Dia memperingatkan adanya kemungkinan penyanyi seperti Via Vallen akan kembali menyanyikan lagu-lagu SID dari album yang baru keluar.

Apakah persoalannya karena uang? Nah disinilah duduk perkaranya. Dan itu sangat substansial. Jerinx dan SID tidak terlalu peduli dengan uang.

Tapi? Suarakanlah apa yang kamu nyanyikan! Diluar kepentingan komersialmu itu, bersuaralah sedikit tentang persoalan-persoalan orang banyak, persoalan di masyarakat dimana kamu hidup.

Selebihnya, silahkan baca tanggapan Jerinx dibawah ini. Dia menyusun argumennya dengan sangat meyakinkan.

Mungkin banyak pertanyaan. Kenapa baru sekarang saya sentil VV? Simpel. Karena album SID yg baru saja rilis ini penuh akan lagu potensial yg sangat mungkin dijadikan versi dangdut/koplo nya. Dan jika kami diamkan, bisa jadi VV, atau penyanyi semacam dia akan melakukannya lagi; memperkaya diri memakai karya orang lain sekaligus membunuh ruh dari karya tersebut. OK 2013, lagu Sunset di Tanah Anarki kami ikhlaskan, mindset kami saat itu cukup naif; anggap saja membantu struggling musician. Sampai dia bikin DVD segala, dikomersilkan, rapopo.

Nah, kekesalan ini muncul setelah melihat transformasi seorang VV. Di mana posisinya saat ini, VV harusnya sudah belajar jadi manusia, jangan bisanya hanya mengambil saja. Selama ini nyanyi SDTA ribuan kali, lirik lagu kami ga ada artinya bagi dia? Setelah sukses, apa yg kamu bisa lakukan utk mengapresiasi karya yg membawamu ke tempat yg lebih baik? Dengan followers berjuta, minimal berkontribusilah utk gerakan melawan lupa, atau pelurusan sejarah 65, perjuangan Kendeng, dll, ada banyak sekali hal yg bisa VV lakukan tanpa harus keluar duit.

SID sudah pasti akan bangga jika VV, atau siapapun yg hidup dari karya SID, manfaatkan fame nya utk cinta yg lebih besar. Bukan hanya tuk perkaya diri dan keluarganya. Ini yg membuat saya marah. Selama ini nyanyi SDTA apa ya yg ada di dalam kepalanya? Lagu ini pesannya besar, sungguh humanis, pun disampaikan dengan lirik dan video klip yg sangat literal. Wajar saya merasa mereka dengan sadar merendahkan substansi lagu ini atas nama popularitas semata. Itu sangat manipulatif dan menjijikkan.

Saya ga akan nuntut nominal apapun dari VV atau penyanyi lain yg pernah/masih hidup atas karya SID. Hanya berharap kalian lebih bijak ketika berurusan dengan musik kami. SID bukan cuma band. Kami lebih besar dari hiburan. Uang, fame, rupa, bukanlah segalanya, ada hal yg lebih tinggi bernama INTEGRITAS.

Terima kasih,

JRX

tulisan ini merupakan pembelaan pendukung JRX dan dimuat di sini untuk memenuhi prinsip keberimbangan.

untuk menuju sumber tulisan, bisa dilihat di  https://www.facebook.com/story.php?story_fbid=10156214870433533&id=784153532

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close