Dinamika Buruh

Politik Buruh Perlu Lebih Kreatif Berbahasa dan Terbuka dalam Isu

Buruh.co, Jakarta – Buruh dituntut untuk lebih kreatif berbahasa dan terbuka untuk membangun politik alternatif guna melawan penindasan. Gagasan itu mencuat dalam diskusi mengenai “Politik Buruh Indonesia.”

Diskusi yang diselenggarakan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) itu membahas soal peluang dan strategi-strategi buruh dalam membangun alat politik alternatif. Kebutuhan ini muncul karena perpolitikan saat ini dianggap tidak mewakili kepentingan buruh dan malahan memperdalam penindasan rakyat.

Fahmi Panimbang dari organisasi peneliti Praxis dalam diskusi tersebut mengatakan bahwa gerakan sosial Indonesia dapat belajar dari pembangunan politik alternatif dari Malaysia. Di negara Jiran itu, gerakan sosial membangun Partai Sosialis Malaysia dan berhasil menempatkan wakil di parlemen setelah 20 tahun. “Menurut saya yang tidak bisa kita lakukan adalah  wlupun mereka berulang kali menghadapi represif tapi terus berupaya maju. Lalu ada titik kompromis yang meerea lakukan adalah merubah logo atau lambang dari partai,” kata Fahmi pada Kamis, 18 Juli 2019 di Jakarta. 

Menurutnya, gerakan buruh perlu mengubah jargon-jargon dan bahasa-bahasa yang tidak bisa lagi diterima masyarakat dengan kata-kata yang lebih bisa diterima untuk membangun politik alternatif. “Kapitalisme bisa diganti dengan sistem yang menindas,” katanya. Menurutnya, politik bahasa di PSM tersebut berhasil meraup dukungan dari anak-anak muda.

Terlebih, partai tersebut getol melakukan advokasi melawan kasus-kasus dan kebijakan yang menindas rakyat. “Mereka berkali-kali ke persidangan. Kalau ada buruh yang berkasus, alternatif mengadu ke mereka (PSM),” jelasnya. 

Meskipun begitu, Ketua Departemen Pendidikan dan Penelitian KPBI Khamid Istakhori menambahkan ada persoalan dalam pembelajaran dari Malaysia. Pelajaran itu adalah bagaimana PSM, meski terus bertumbuh, masih memiliki tantangan untuk mempengaruhi mayoritas buruh yang konservatif.

Sementara itu, Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika menjelaskan gerakan buruh perlu merumuskan gagasan ketika berjuang membangun politik alternatif. “Politik itu soal gagasan dan memenangkan gagasan. Gagasan alternatif, alternatif atas apa? Alternatif atas politik investasi Jokowi contohnya,” katanya.

Vivi mengusulkan agar perumusan gagasan tersebut tetaplah bersifat terbuka dan tidak hanya terkait perburuhan. Selain itu, politik alternatif yang diusung harus memperjuangkan hak buruh perempuan. “Bagaimana partai buruh mewakili suara yang tertindas, termasuk perempuan. Tidak ada isu yang prioritas karena semua itu beririsan,” terangnya.

Menanggapi hal itu, perwakilan dari Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Nur Widyatmoko memaparkan tugas pertama adalah membaca situasi terkini secara akurat. “Kita harus hati-hati ketika menentukan strategi dan membangun aliansi dalam kondisi hubungan sosial yang belum sepenuhnya kapitalistik membuat kelompok-kelompok persukuan menjadi sangat eksis,” ungkapnya.

 

 

 

 

 

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close