Perjuangan Kita

Pluralisme dalam Balutan Film Pendek Hari Baik

Cirebon- Cinema Cirebon pada 15 Maret 2019 meluncurkan sebuah film berjudul “ Hari Baik” dengan sutradara Doni Kus Indarto. Film ini bercerita tentang keberagaman yang ada di Cirebon.  

Film bercerita tentang kedai kopi milik Wan Qodir yang setiap hari selalu ramai dikunjungi penikmat kopi, tak terkecuali 4 pelanggan tetap sahabat tuan Qodir, yaitu Koh Beng (Tionghoa), Eko Pitik (Jawa) dan Kaji Dilan (Cirebon). Kaji Dilan datang membawa kabar gembira yaitu undangan pernikahan anaknya. Namun yang terjadi sesudahnya adalah diluar bayangan siapapun. Persahabatan, percakapan antar sahabat, perdebatan lalu menjadi warna dalam film berdurasi 14:14 menit ini.

Awal pembuatan film ini terjadi ketika Cinema Cirebon ingin mencari pemikiran dan gagasan tentang hidup bersama dalam keberagaman. Dari gagasan–gagasan itulah Cinema Cirebon kemudian menulis naskah lengkap tentang menghitung hari baik (etnis) serta melakukan pemilihan tokoh dari berbagai kelompok etnis untuk ditampilkan.

Film ini didahului dengan melakukan sebuah riset, Cinema Cirebon juga melakukan observasi di sejumlah lokasi yang mewakili keberagaman di Cirebon, juga melibatkan pegiat keberagaman di Cirebon seperti melibatkan lembaga maupun jaringan lintas Iman untuk melakukan wawancara maupun diskusi, di antaranya Fahmina Institute, Gusdurian Cirebon, PELITA Perdamaian Cirebon, dan Lesbumi PCNU Kabupaten Cirebon.  

Setelah melakukan riset dan berbagai diskusi, dipilihlah film yang berisi percakapan, perdebatan tentang keberagaman di Cirebon. Koordinator Cinema Cirebon sekaligus penulis skenario film, Kemala Astika mengatakan bahwa film ini hadir di tengah persoalan intoleransi yang semakin menguat di Jawa Barat.

Sebelumnya survey yang dilakukan Lembaga Setara Institute menyebutkan bahwa terdapat 10 kota yang memiliki skor toleransi terendah. Dan 3 kota yang mempunyai nilai skor terendah terdapat di Jawa Barat (Cilegon, Depok, Bogor). Sedangkan Cirebon dan Kuningan termasuk kota yang rawan intoleransi.

Kemala Astika bersama Cinema Cirebon merasakan pentingnya untuk membangun gagasan dalam mempertahankan keberagaman.

“Gagasannya adalah tetap menghadirkan pemikiran-pemikiran soal keberagaman di tengah masyarakat, salah satunya yaitu melalui di film yang bisa memberikan pemikiran di tengah persoalan intoleransi yang menguat,” kata Kemala Astika.

Kota Cirebon sebagai wilayah pesisir memiliki bekal kultural yang kuat dan kaya akan kisah-kisah budaya yang dihuni oleh berbagai macam etnis. Maka selalu dibutuhkan berbagai macam narasi untuk menjaga keberagaman.

Dalam rencananya film “Hari Baik” ini setelah dilaunching 15 Maret 2019 akan diputar secara berkeliling di lima belas (15) lokasi di Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan melalui ruang-ruang publik seperti di desa, di universitas dan berbagai diskusi. Lewat pemutaran film keliling ini, diharapkan ada ruang berdialog antar kelompok di tingkat desa tentang keberagaman. 

Untuk pembuatan film ini Cinema Cirebon selain bekerjasama dengan Pelita Perdamaian Cirebon dan didukung oleh Fahmina Institute, Dewan Kesenian Cirebon Kota, film ini juga merupakan salah satu penerima dana hibah Pundi Budaya 2018 yang dikelola oleh Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) dan Koalisi Seni Indonesia (KSI). Di tahun 2018 Pundi Budaya mengambil tema demokratisasi dan keberagaman. Hibah diberikan pada individu/ lembaga/ komunitas di DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat yang melakukan kegiatan dengan menggunakan seni dalam rangka mempromosikan demokrasi dan keberagaman. Program ini sekaligus juga mengajak para pegiat seni untuk terlibat dalam upaya mengembangkan demokrasi, keberagaman dan melawan pemikiran sektarian.

Cinema Cirebon adalah sebuah komunitas film pendek yang berdiri di tahun 2016 di Cirebon yang berkiprah dan berkarya untuk membangun keberagaman dan ruang alternatif melalui film dan budaya inklusif lainnya.

Film “Hari Baik” produksi Cinema Cirebon (2019):

Pemain: Deddy Syahrul, Mikael Sudarto, Dino Syahrudin, Nugroho P Santoso, Darip, Huprah, Sukendra. Produser: Ariea I. Widagdo. Penata kamera: Irfan  Penata Kamera : Irfan Rizky S.M.B. Penyunting Gambar: Muhammad Rizal. Penata Suara: M. Ronald Irsyadi. Penata Cahaya: Nana Sudiana. Penata Musik: Ifti Alvidiansari. Desain Grafis: Rizky Kurniawan. Asisten Sutradara: Tri Wahyudi. Clapper & Continuity: Yossi V. Gheasanta. Asisten Kamera : Aldera Rahsyawaesa. Wardrobe: Nisah Setianingsih. Koordinator Talent: Husnul Khotimah. Konsumsi: Utima. Bendahara : Nurul Hidayati

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close