Dinamika Buruh

Otong (buruh) Sedang Sakit -vs- Mesin Sedang Sakit

Seorang buruh pabrik, sebut saja Otong (jelas ini samaran),  sedang terbaring dalam perawatan di suatu Rumah Sakit. Suntikan jarum infus memastikan Otos mesti rapat inap. Kabarpun disampaikan ke pihak perusahaan agar menjadi data absensi yang menerangkan dirinya tidak bisa bekerja. Kabar tersebut diterima dengan ucapan semoga lekas sembuh, bahkan dari rekan kerja dan simpatisan. Sangat banyak yang mengucapkan semoga lekas sembuh.

Otong bersama keluarga merasa nyaman karena tidak berpikir hal biaya perawatan dan pengobatan, begitupun perusahaan yang merasa sudah memberikan iuran jaminan kesehatan baginya setiap bulan terhadap salah satu jaminan kesehatan yang tidak asing dikenal hingga rakyat termiskin pun mengetahui bahkan termasuk sebagai peserta.

Dalam masa perawatan/pengobatan tidak ada masalah apa pun. Hanya, ada satu masalah yang terbesit pada waktu Otong tertidur. Ia bermimpi buruk merasa di hantui segala macam kondisi kerja mulai dari :

1. Jaminan dampak kesehatan dari lingkungan kerja yang menjadikan dirinya sering sakit (bukan karena penyakit bawaan sejak lahir/keturunan ataupun sejak sebelum bekerja di perusahaan tersebut, apalagi Otong belum pernah bekerja di perusahaan lain dan sebelum diterima bekerja dinyatakan sehat oleh perusahaan);

2. Merasa dihantui berkurangnya pendapatan (upah) karena sering sakit maka posisi kerja di pindahkan alih-alih tempat biasa bekerja sudah ada yang menggantikannya (rolling) dengan rekannya dan menurut perusahaan agar Otong tidak lelah begitupun status berubah non-shift alhasil tidak lagi mendapatkan uang lembur wajib yang biasa rata-rata 56 jam dikali upah lembur per-jam diterima setiap bulan, tidak lagi menerima uang shift/kopi per-hari.

3. Merasa dihantui oleh PHK, menurut perusahaan bahwa Otong sering sakit bahkan sakit berkepanjangan tak lagi bisa bekerja, pekerjaannya sudah digantikan oleh orang lain.

Sejak Otong masuk rumah sakit dan menyampaikan kabar ke perusahaan bahwa dirinya sedang rawat inap karena sakit, memang ada banyak simpatisan yang mengucapkan semoga lekas sembuh bahkan banyak yang menjenguk. Otong pun merasa senang bersemangat rekan kerja atau bahkan orang yang mewakili perusahaan pun menjenguknya. Obrolan yang paling mendasar iya cuma bertanya sakit apa, bagaimana kabarnya sekarang, bagaimana pelayanan dari rumah sakit.

Bagaimana jika mesin di perusahan itu sedang sakit ? Sedangkan Otong adalah buruh tekhnical untuk mesin tersebut.

Ini bukan sekedar Ilustrasi tapi nyata. Otong yang bekerja sebagai mekanik merasakan perbedaan nyata itu.

Ketika ada salah satu unit mesin yang sedang mengalami sakit, Otong segera memperbaikinya mulai dari memberikan kabar ke pimpinan sampai proses perbaikan. Iya jika mesin itu sakitnya cuma kerusakan ringan dengan mudah dan cepat perbaikan itu tidak menjadi masalah. Nah, ketika mesin itu rusak dengan memerlukan waktu perbaikan yang lama, bahkan tidak adanya suku cadang (spare part) itupun sudah usaha di kanibal/modifikasi tidak berhasil pada saat itu menjadikan proses produksi terhambat bahkan stop total, laporan kerusakan mesin itu banyak pimpinan-pimpinan bahkan bisa sampai pimpinan perusahaan yang mempertanyakan.

Para pimpinan perusahaan bisa sampai berdatangan menjenguk mesin tersebut yang sedang sakit. Banyak dah pertanyaan yang di sampaikan, diantaranya : apa yang rusak, pencegahannya bagaimana, berapa lama lagi waktu pengerjaan supaya cepat selesai, agar produksi bisa berjalan normal kembali, ada tidak cuku cadangnya, kalu tidak ada bisakah diusahakan kanibal atau cepat beli cari dimana aja walaupun mesti impor, pastikan nanti dicari permasalahannya dan selalu lakukan pemeriksaan/pencegahaan agar tidak sakit lagi tuh mesin, jika tidak bisa menjalankan pemeriksaan/pencegahan dengan baik sehingga mesin sakit lagi berarti kamu (buruh) tidak bisa bekerja.

Hebat ya perhatiannya terhadap mesin yang sedang sakit. Pertanyaan-pertanyaannya jelas sangat berbeda sikapnya terhadap Otong ataupun buruh yang sedang sakit.

Jadi kita bisa mengetahui seperti apa sikap perusahaan terhadap buruh yang sedang sakit berbanding dengan mesin produksi yang sedang sakit, di antaranya :
1. Ketika buruh sakit, cukup dipertanyakan sakit apa, tidak dibicarakan mengenai pencegahannya apakah faktor dampak lingkungan kerja atau pekerja tersebut yang agar dapat diberikan penyuluhan/tindakan untuk menjadi baik.

2. Tidak dipertanyakan berapa lama biar bisa sembuh kembali bekerja agar produksi berjalan normal kembali. Yang ada, malah kalau belum sembuh iya terus aja di rawat sampai sembuh walau mesti rujuk ke rumah sakit yang lainnya, hal ini menjadi panjang data absensi dapat mempengaruhi kebijakan perfomance kenaikan upah. Kebijakan yang beranggapan buruh tersebut sering tidak masuk bekerja karena sakit bahkan sakit berkepanjangan.

3. Ketika buruh meninggal dunia karena sakit, digantikan dengan buruh yang baru tentu menguntungkan perusahaan. Dengan mempertimbangkan standar upah dan beban jaminannya, buruh baru belum terpengaruh pada kesehatannya. Buruh baru masih segar bugar. Lain hal jika mesin sudah tidak bisa lagi di harapkan, perusahaan sudah menganggarkan biaya untuk membeli mesin yang baru dengan jenis dan fungsi yang sama walaupun mesti yang jauh lebih mahal agar perfomance hasil produksi jauh lebih meningkat. Jika perlu, mesin baru cukup di operasikan oleh 1-2 orang operator (buruh) yang sebelumnya mesti dengan 4-5 orang operator (buruh).

Sehebat apapun buruh yang bekerja dengan gigih segala upaya dan pemikirannya termasuk loyalitas dan kontribusinya hingga tak sempat untuk berbagi waktu bersama keluarga, beristirahat, bersosial/bermasyarakat dan bahkan beragama, semuanya akan menjadi tak berharga jika buruh tersebut menjadi sering tidak masuk bekerja karena sakit bahkan sakit berkepanjangan yang berakibat PHK. Lain hal dengan mesin yang jika sering sakit, perusahaan malah menganggarkan biaya untuk membeli mesin baru yang sesuai fungsinya walaupun itu jauh lebih mahal, meski impor yang terpenting sangat menguntungkan jika perlu yang perfomancenya yang langsung lebih hebat dengan lebih sedikit buruh yang mengoperasikannya itulah pengusaha. (rsa-spkpd-fsp2ki-kpbi)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close