Perjuangan Kita

Mahasiswa UIN Banten Ajak Pemuda Tolak Revisi UU Ketenagakerjaan

Serang, Banten – Mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten menggelar aksi penolakan terhadap rencana pemerintah mengubah Undang-undang Ketenagakerjaan. Alasannya, revisi tersebut bakal merugikan pemuda dengan menjadikan buruh tumbal bagi gerak ekonomi yang semakin menguntungkan investor. Dalam aksi itu, para mahasisw mengajak kaum muda untuk bergerak menolak revisi produk hukum yang akan semakin memiskinkan rakyat tersebut.

Aksi tersebut digelar melalui mimbar bebas gabungan berbagai organisasi mahasiswa. Organisasi yang bergabung dalam aksi pada Senin, 12 Agustus 2019, itu di antaranya adalah Sekolah Mahasiswa Progresif (SEMPRO), GMNI, SWOT, PMII HMJ HTN, dan HMJ Filsafat.

Bertempat di depan Bank BTN UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, aksi Mimbar Bebas Mahasiswa Untuk Rakyat tersebut mengambil tema “ Tolak Revisi UU No.13/2003 Tentang Ketenagakerjaan Versi Pengusaha, Lawan Rezim Fleksibilitas Kerja, dan Selamatkan Masa Depan Generasi Muda.” Aksi ini dimulai tepat pukul 10.30 WIB.

Selain melakukan orasi ilmiah dan ragam agenda lainnya, mahasiswa dari beragam organisasi itu pun melakukan penyebaran kampanye yang informatif kepada mahasiswa lainnya secara luas terkait revisi UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan.

Rencana pemerintah untuk merevisi UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan ini dinilai timbul akibat dari kegagalan pemerintah dalam menanggulangi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung lesu dan stagnan. Dalam orasi pembukanya, Sekretaris Jendral Sekolah Mahasiswa Progresif ( SEMPRO )Ihsan Kamil menyatakan bahwa pemerintah perlu membuka keran investasi yang sebesar-besarnya, mengingat karakter pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertopang kepada investasi demi menanggulangi krisis. Namun alih-alih menggerakkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan memberantas pungli, pemerintah malah akan merevisi UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan yang mendorong proses pemiskinan terhadap kaum buruh menjadi lebih parah.

Ia menilai pemiskinan itu berlangsung dengan pasal-pasal yang membenarkan sistem kerja outsorcing, sistem kerja kontrak yang diperpanjang waktunya menjadi lima tahun, pengadopsian skema politik upah murah bagi buruh, pengurangan hak pesangon, dan menghilangkan kewajiban perusahaan untuk menjamin kesehatan yang layak bagi buruh. Outsourcing merupakan sistem untuk mengalihkan pekerjaan pada perusahaan pemasok tenaga kerja sebagai modus untuk menghilangkan karyawan tetap dan menjadikan para buruh tidak memiliki posisi tawar dalam berunding. “Maka jelas sekali wacana pemerintah yang ingin me-revisi UU No.13/2003 tentang ketenagakerjaan sesuai pesanan pengusaha dan investor hanya akan memperparah proses pemiskinan dan penghisapan terhadap kaum buruh,“ tegasnya.

Pada kesempatan kali itu, Ketua Umum GMNI Komisariat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Adnan Chairullah menegaskan revisi hukum ketenagakerjaan juga sangat berdampak dan merugikan generasi muda dimasa mendatang. “Revisi UU No.13/2003 yang mengadopsi sistem fleksibilitas tenaga kerja seperti outsorcing, sistem kerja kontrak, dan pemagangan hanya akan membuat seorang buruh tidak memiliki kepastian status kerja. Tidak memiliki kepastian status kerja, artinya tidak punya juga kepastian pendapatan, dan kepastian akses terhadap pendidikan dan kesehatan yang layak,“ ujar Bung Adnan Chairullah.

Mahasiswa Baru Ikut Tolak Revisi UU Ketenagakerjaan

Di tengah rangkaian Mimbar Mahasiswa Untuk Rakyat ini, beberapa kelompok mahasiswa dari SWOT, Himpunan Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Filsafat UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang hadir dalam agenda tersebut spontan menyanyikan lagu darah juang, dan buruh tani mahasiswa secara kompak dan lantang. Sehingga mengundang kawan-kawan mahasiswa baru yang kebetulan sedang melakukan agenda Pra-OSPEK untuk ikut bergabung dalam agenda Mimbar Mahasiswa Untuk Rakyat.

Seperti yang dialami oleh mahasiswa baru yang bernama Atmajaya. Pada awalnya ia merasa kaget ketika ada spanduk bertuliskan “ Tolak Revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan versi Pengusaha “ dan spanduk besar diatasnya yang bertuliskan “ Mahasiswa juga Buruh “, ia tercengang kenapa ada aksi buruh di dalam kampus. Setelah ia ikut mendengarkan orasi ilmiah dan membaca selebaran yang dibagikan mahasiswa dalam Mimbar Mahasiswa Untuk Rakyat, Atmajaya pun menyadari bahwa ternyata ada relevansinya antara problematika kaum buruh dan kaum muda.

Kesadaran itu pun yang mendorong Atmajaya turut andil dalam meyampaikan orasinya. “Revisi ini juga mengancam masa depan generasi muda, apalagi mahasiswa. Mengingat tingkat pengangguran lulusan sarjana yang masih tinggi, alih-alih menghadirkan lapangan kerja yang luas, pemerintah malah mendorong revisi UU No.13/2003 yang mengadopsi sistem kerja fleksibel yang tidak jelas status kerjanya. Anak muda jaman sekarang mah butuh kepastian,“ ujarnya dalam orasi yang kemudian disambut dnegan teriakan lantang hidup mahasiswa, “hidup buruh!”

Selain orasi dan pandangan ilmiah dari beberapa mahasiswa terkait wacana pemerintah untuk me-revisi UU.13/2003 tentang ketenagakerjaan versi pengusaha, Mimbar Mahasiswa Untuk Rakyat ini pun diisi dengan pembacaan puisi dan teatrikal yang dilakukan oleh mahasiswa anggota PMII Komisariat UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten.

Agenda tersebut berakhir pada pukul 14.00 WIB dan ditutup dengan menyanyikan lagu darah juang dan Indonesia Raya Bersama-sama. Setelah ditutup, barisan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi melakukan upaya evaluasi terkait agenda Mimbar Mahasiswa Untuk Rakyat. Selain evaluasi, mereka pun mendiskusikan beberapa persiapan untuk melakukan aksi kampanye dan propaganda yang lebih luas dan massive lagi kepada mahasiswa lainnya.

Reportase dari Kontributor Mahasiswa: Mitha Afriyani

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close