Dinamika Buruh

May Day 2019: Lilin di Tengah Keriuhan Politik

Jenuh rasanya pikiran ini bergulat dalam nuansa politik yang semakin hari makin menjengkelkan. Mata dan telinga kita dipaksa mengkonsumsi berbagai macam suguhan pemberitaan tentang agenda 5 tahunan yang serinng dielukan sebagai “pesta demokrasi” dengan mekanisme PEMILU.

Daaaarrr..serentak silih berganti di group WA saling menebar isu dengan harapan menggiring opini masyarakat agar dapat mendukung salah satu paslon yang akan menjadi orang nomor satu di Republik ini. Dari mulai anti-cina, anti-PKI, anti-radikalisasi, anti-LGBT sampai ke antimo obat anti mabok pun terus diproduksi untuk membangun sebuah narasi kuat yang akan mengangkat atau bahkan menjatuhkan elektabilitas para calon yang sedang berebut kue kekuasaan. Hasilnya memang hegemonik, 80 persen pemilik hak pilih menggunakan suaranya.

Berita mirispun terdengar sampai ke pelosok negeri ini. Anggaran biaya untuk pemilu serentak pileg dan pilpres yang mencapai 24,8 Triliun ini pun memakan korban jiwa, setidaknya tercatat dalam sejarah PEMILU di indonesia anggota KPPS yang wafat karena kelelahan sebanyak 225 dan sakit 1.470. Jumlah korban itu disampaikan komisioner KPU Viryan Aziz kepada wartawan, Kamis (25/4/2019).

Kini keteganganpun belum berkahir, pasca pemilu 17 april 2019 kedua kubu pun masih bertarung urat syaraf untuk saling menggiring opini. Hitung cepat berbagai lembaga survey resmi KPU melansir masih unggul kubu 01 Jokowi-Ma’ruf 54,66 % dan kubu 02 Prabowo-Sandi 45,34 %. Angin kemenangan berhembus ke arah kubu jokowi, namun seperti pilpres tahun 2014 lalu, kubu prabowo pun tak tinggal diam, deklarasi kemenangan pun telah dikumandangkan berdasarkan hasil Real Qount internal BPN Prabowo-Sandi dinyatakan unggul di atas 60% dibanding kubu Jokowi-Ma’ruf. Bola panas kini berada di tangan KPU, sembari menunggu real qount resmi KPU pada tanggal 22 mei 2019 l, baik dr kubu 01 maupun kubu 02 yang jelas masih banyak rakyat yang menaruh “harapan” akan perubahan hidup yang lebih baik, mengingat jumlah partisipasi terhadap pemilu 2019 mencapai 80 % adalah sebuah fakta yang menyayat hati, meskipun kita sama-sama tau bahwa para elit politik yang ada hari ini adalah para Pemberi Harapan Palsu (PHP).

Semoga kejengahan ini cepat berlalu dan rakyat kembali pada kehidupannya masing-masing. Seorang kawan berkata, siapapun presidennya nasib kaum buruh yang merupakan mayoritas rakyat akan tetap terhisap dan tertindas jika sistem yang berlaku masih mengabdi pada kekuatan pemodal. Sebuah sistem yang tidak akan pernah memanusiakan manusia, sebuah sistem yang hanya memikirkan akumulasi keuntungan bagi segelintir kaum modal dari hasil mengeksploitasi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusianya yaitu kaum pekerja.

Menjelang May Day 2019, aktivitas gerakan buruh pun kembali pada dinamikanya. Konsolidasi demi konsolidasi antar pimpinan serikat terus bergulir, aksi-aksi prakondisi terus digencarkan di masing-masing kawasan industri, Diskusi-diskusi kembali digelar guna mematangkan tentang sebuah gagasan yang tentunya memuat berbagai macam sajian “harapan” bagi kaum buruh. Sebuah harapan dimana kaum buruh bisa terbebaskan dari aturan-aturan yang selama ini dianggap telah merampas kesejahteraan kaum buruh. Sistem kerja kontrak, outsourcing, pemagangan, upah padat karya, PP 78/2015, buruknya K3, diskriminiasi terhadap buruh perempuan, ancaman relokasi dan segudang persoalan lainnya yang terus menghantui para pengurus serikat dan anggotanya.

May Day kali ini tak ubah seperti May Day tahun-tahun sebelumnya, sebagian orang akan menganggap seperti rutinitas tahunan jika tidak ada hal baru dalam peringatan hari buruh sedunia yang sering kita sebut May Day, tetapi sebagian dari kita masih meyakini dengan sepenuh hati bahwa May Day bukanlah kegiatan seremonial semata melainkan sebuah agenda perlawanan. Iya..May Day adalah hari perlawanan seiring dengan tugas sejarahnya. Di tengah-tengah hiruk pikuk politik yang semakin memecah belah rakyat, maka momentum May Day akan nenjadi sangat penting bagi gerakan rakyat yang mempunyai “harapan” untuk merubah tatanan masyarakat yang lebih adil, makmur dan sejahtera. Kuncinya adalah ada di Persatuan dan Perjuangan Rakyat itu sendiri, semakin banyak rakyat (Buruh, Tani, Miskin kota, Mahasiswa, Nelayan, Kaum Perempuan, masyarakat adat, dll) terlibat dalam mementum perlawanan maka akan semakin besar harapan itu terwujud.

Di saat kaum buruh tengah mempersiapkan agenda perlawanannya, telepon pun berdering..”Sang penguasa memanggil”. Undangan itu pun dirundingkan dalam Dewan Buruh Nasional dan Dewan Eksekutif Nasional. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan akan datang dengan sikap dan posisi kami. Pokok-pokok persoalan yang akan kami sampaikan juga kami rundingkan bersama. Kami menganggap ruang pertemuan itu sebagai salah satu dari berbagai cara untuk memperjuangkan hak-hak anggota dan buruh secara umum.

Pertemuan itu juga tidak akan mengubah keputusan organisasi untuk tetap berunjukrasa pada May Day 2019. Kami menilai masih banyak hak-hak buruh yang harus diperjuangkan. Dan, kami percaya pada kekuatan massa sebagai motor penggerak dan ruh dari organisasi. Kekuatan massa dalam aksi may day 2019 nanti merupakan salah satu lilin harapan kami di tengah keriuhan elit yang tak kunjung kelar ini.

Penulis: Damar Panca, Sekjen Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia

 

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close