InternasionalPerjuangan Kita

Ketika Filsafat Kungfu Bruce Lee Jadi Strategi Protes Hong Kong

Gerakan Sosial di Hong Kong meremajakan menghadapi situasi yang makin represif

 Dalam perjanjian antara Inggris dan Cina, Cina diwajibkan menjadikan Hong Kong sebagai wilayah administratif otonom, setidaknya selama 50 tahun atau hingga 2047. Itulah kenapa Hong Kong memiliki independensi pengadilan, sistem ekonomi, dan demokrasi pada taraf tertentu meski berada di bawah kepemimpinan perwakilan Beijing, Carrie Lam. Namun, warga Hong Kong menganggap demokrasi, yang meski terbatas itu, sudah tamat bahkan sebelum 50 tahun jika pemerintah Hong Kong mengesahkan Rancangan Undang-undang Ekstrdisi yang memungkinkan mengirim warga Hong Kong ke pengadilan Cina untuk dihukum. Perlawanan terhadap rancangan undang-undang itu membuahkan hasil dicabutkan rancangan undang-undang ekstradisi. Saat ini, para pengunjukrasa masih berjuang agar ada investigasi otonom terhadap kepolisian dan pembebasan terhadap semua demonstran, menghilangkan kata “huru-hara”, dan hak pemilihan universal.

Salah satu kunci penting bagi protes demonstrasi yang dimulai sejak Juli itu adalah sebuah kebaruan strategi. Kebaruan strategi ini bahkan memungkinkan para demonstran untuk berhasil menduduki salah satu bandara tersibuk di dunia. Para demonstran juga membangun semacam sistem pertahanan terhadap represi polisi.

Dalam sebuah kesempatan, pengurus Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) bertemu dengan sejumlah aktivis demokrasi dari Hong Kong. Pertemuan yang berlangsung pada 21 September 2019 itu memberikan sejumlah pelajaran mengenai strategi baru tersebut.

Belajar dari Kegagalan Gerakan Payung Kuning

Protes besar-besaran pertama di Hong Kong muncul dengan sebutan gerakan Payung Kuning. Ini karena para pengunjukrasa membawa payung untuk menangkal serangan gas air mata polisi. Gerakan ini, bagaimanapun, dianggap berujung pada kegagalan.

Pada 2014, para pelajar geram karena pemerintah Cina tiba-tiba mengeluarkan kebijakan bahwa Chief Executive of Hong Kong (semacam wali kota) harus melalui penyaringan oleh pemerintah Cina. Ini mengakibatkan kandidat terpilih terbatas pada calon-calon yang pro Beijing. Gerakan ini berujung pada aksi duduk yang melibatkan lebih 100 ribu peserta protes pada 10 Oktober 2014.

Setelah itu, pemimpin gerakan, Joshua Wong membentuk Partai Demosito yang menyuarakan aspirasi menentukan nasib sendiri. Partai itu berhasil meloloskan salah satu pemimpinnya Nathan Law sebagai anggota parlemen.

Namun, keberhasilan itu tidak berlangsung lama. Pada 17 Agustus 2017, Cina lantas memberhentikan Nathan Law dari anggota parlemen dan memenjarakannya bersama Joshua Wong dan Alex Chow atas pidana menggelar aksi unjuk rasa illegal selaam 6-8 bulan. Dua hari sebelumnya, 13 tokoh gerakan payung kuning juga dipenjara 8-13 bulan. Akibatnya, mereka tidak dapat maju dalam pemilu dan posisi di parlemen dicabut.

Jurus Protes Ala Bruce Lee

Seorang senima bela diri terkemuka Bruce Lee pernah mempopulerkan fisafat air. “Jangan terpaku pada satu bentuk, beradaptasilah dan sesuaikan bentukmu, biarkan bentuk itu tumbuh, jadilah seperti air. Kosongkan pikiranmu, jadilah tanpa bentuk – seperti air. Jika Anda menuangkan air dalam cangkir, ia menjadi cangkir, dalam botol, ia menjadi botol. Air bisa mengalir dan bertubrukan,” kata Bruce Lee mengutip dialognya dalam sebuah serial tv, Longstreet.

Dalam mengorganisir massa demontrasi, menambahkan bahwa demonstrasi Hongkong memiliki fleksibilitas. ‘’Be The Water, like Bruce Lee.’’Jika sebelumnya, gerakan payung kuning mengandalkan organisasi-organisasi, gerakan protes menolak ekstradisi tidak memiliki wujud organisasi, protes ini seperti air.  Sementara, organisasi advokat publik yang rutin menggelar protes berfungsi sekedar melayangkan surat pemberitahuan ke kepolisian.

Karena gerakan tidak diorganisir organisasi resmi, demonstrasi ini tidak memiliki kepemimpinan. Alhasil, upaya pemerintah menangkap orang-orang yang dianggap tokoh protes, seperti Joshua Wong, beberapa saat sebelum mobilisasi besar, tidak membuahkan hasil. Massa tetap bergerak.

Untuk menghindari kepemimpinan, para peserta menerapkan strategi Black Bloc. Para peserta aksi menggunakan topeng dan pakaian serupa sehingga tidak dapat dikenali atau menjadi faceless. Demonstran menggunakan strategi ini untuk menghindari persekusi hukum lantaran aksi massa telah dilarang. Di Hong Kong, CCTV tersebar di mana-mana.

Lantas, jika tanpa pimpinan, bagaimana aksi melakukan perundingan? Ternyata, massa aksi tidak melakukan negosiasi menyoal tuntutan. Mereka bersama-sama mengajukan tuntutan dan pemerintah hanya bisa memenuhi tuntutan itu tanpa merundingkannya. Jika tuntutan dianggap terpenuhi, para demonstran akan menghentikan aksi.

Forum komunikasi online, lihkg.com, menjadi kunci. Forum ini juga bekerja secara anonim. Para pengguna dapat membuat postingan dan berkomentar. Setiap komentar akan menaikan postingan atau bahasa kaskus-nya, sundul. Di sinilah, para anak-anak muda membahas ide-ide, tuntutan, dan strategi-strategi umum hingga tanggal dan lokasi aksi dan tema aksi, seperti tema anti kamera pengawasan dsb. Alhasil, ruang diskusi itu menjadi semacam ruang deliberasi.

Setelah mencapai konsensus, gagasan-gagasan itu disebarkan melalui Facebook dan Telegram untuk menjangkau massa yang lebih luas. Facebook juga berfungsi mengabarkan situasi di lapangan dan di garis depan lewat live streaming atau siaran langsung. Ada tiga halaman Facebook yang besar jumlah pngikutnya dalam aksi ini. Salahsatunya berbahasa Inggris, namanya BeWater. Setiap live streaming penonton mencapai lebih dari 10,000.

Telegram terbagi dua. (1) Group besar, awalnya ada 30,000 anggota. Kemudian skg menjd 44,000an. Group besar fungsinya mirip LIKHG. Kedua, group kecil berdasarkan tugas dan territories. Grup ini semacam gugus kerja. Ada beberapa gugus kerja, misalnya translation, propaganda (poster, video, etc), scout / semacam tim kontra intelejen, tim supply – yg kerjanya mengumpulkan dan memasok perlengkapan aksi ke frontline, tim evakuasi, sampai tim hacker.

Bahkan, ada kelompok yang bertugas sebagai semacam garda depan. Kelompok ini mempersenjatai diri dengan alat penangkal gas air mata dsb.  Agar gagasan menyebar ke generasi-generasi di atasnya, para anak muda ini melancarkan propaganda pemutaran film dan memasang poster-poster di pinggir jalan.

Filsafat air juga membuat para demonstran bisa menjaga stamina. Dengan kata lain, kesadaran bahwa perlawanan Hong Kong akan berlangsung panjang membuat mereka tidak menghabiskan seluruh sumber daya pada satu atau dua protes. Alhasil, unjuk rasa bisa berlangsung hingga berbulan-bulan.

Dari Hong Kong, kita bisa belajar bahwa perlawanan memerlukan peremajaan strategi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan zaman. Rekan kita di Hong Kong mengajarkan ketika represi semakin meningkat melalui pemidanaan dan pembentukan hukum-hukum bertangan besi, mereka memilih aksi langsung (direct action) yang memang secara hukum illegal tapi secara politik efektif. Selain itu, mereka menyesuaikan diri dengan mengorganisir gerakan tanpa pimpinan dan tanpa wajah untuk menghindari represi. Bercermin pada keadaan Indonesia, bagaimana gerakan buruh mesti beradaptasi dengan zaman? Jawabannya ada pada dinamika basis dan organisasi dalam menghadapi tekanan dan upaya untuk memenangkan tuntutan.

Penulis: Faisal Bachri

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close