Dinamika Buruh

May Day, Gerakan Buruh Lawan Kekerasan terhadap Perempuan di Berbagai Sektor

Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat turut mengusung persoalan keadilan gender dalam aksi unjuk rasa May Day 2019. Dalam hal kesetaraan gender, kekerasan seksual merupakan salah satu yang menjadi sorotan. Kekerasan perempuan ada di berbagai sektor dan menjadi sumber diskriminasi bagi buruh perempuan.

Tahun lalu angka kekerasan terhadap perempuan menembus rekor baru. Sebagaimana dilaporkan Komnas Perempuan, jumlah kekerasan terhadap perempuan mencapai 406.178 kasus atau naik signifikan sebesar 16,5% dibanding tahun 2017. Kekerasan terhadap perempuan pada ranah privat masih menjadi penyumbang terbesar kekerasan terhadap perempuan. Dari 13.568 laporan yang dianalisis oleh Komnas Perempuan, kekerasan dalam ranah privat yang mencakup hubungan dalam keluarga (KDRT) dan hubungan pribadi tercatat mencapai 71 persen atau 9.637 kasus. Di antara kasus kekerasan seksual dalam ranah privat, jenis kekerasan yang paling banyak terjadi adalah inses, perkosaan, pencabulan, persetubuhan, eksploitasi seksual, dan perkosaan dalam perkawinan.

Di sektor pekerja, kekerasan terhadap pekerja perempuan juga eksis dalam dunia industri. Pada 2017, Perempuan Mahardhika, melakukan studi berjudul “Pelecehan Seksual dan Pengabaian Hak Maternitas Pada Buruh Garmen: Studi Buruh Garmen Perempuan di KBN Cakung Tahun 2017”. Hasilnya: 56,5 persen dari 773 buruh perempuan yang bekerja di 38 perusahaan garmen pernah mengalami pelecehan seksual di pabrik. Bentuk pelecehan itu beragam, seperti siulan, godaan, dan rayuan seksual; dipandang secara nakal; diejek tubuhnya; diraba-raba; tubuh dipepet; diintip lewat celah baju; diintip saat di kamar kecil; dipaksa membuka baju; tubuh disentuh; pantat dan payudara diremas; dipeluk dan digendong paksa; diajak hubungan seksual; dicium paksa; dan dipaksa berhubungan seksual.

Kekerasan seksual merupakan isu yang menutup pintu partisipasi perempuan di dunia kerja. Jika laki-laki bisa bekerja tanpa perlu pusing dengan persoalan ini, kekerasan seksual menjadi beban tambahan pada buruh perempuan. Alhasil, perempuan juga tidak mendapatkan penilaian yang adil atas kinerjanya.

Seiring perkembangan penggunaan internet yang makin meluas, kekerasan terhadap perempuan juga berlangsung di dunia maya. Kekerasan Berbasis Gender secara Online (KBGO) ini mencakup pendekatan untuk menipu (cyber-grooming), pelecehan online (cyber harassment), dan peretasan (hacking). Selain itu juga kasus konten ilegal (illegal content), pelanggaran privasi (infringement of privacy), ancaman distribusi foto atau video pribadi (malicious distribution), pencemaran nama baik (online defamation), dan rekrutmen online (online recruitmen). KBGO menelan korban paling banyak di Jabodetabek dan kota-kota besar lain di Indonesia. Pada beberapa kasus KBGO melibatkan pelaku berkewarganegaraan asing atau berlokasi di luar negeri. Hal ini menunjukkan kejahatan cyber bukanlah bentuk kekerasan biasa terhadap perempuan, namun telah bersifat kejahatan transnasional.

Dunia pendidikan tinggi juga tidak imun akan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan seksual yang dialami oleh Agni, mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tengah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) telah menyita perhatian publik. Lebih miris, Rektor UGM sebagai pemangku otoritas tertinggi di kampus malah mengambil tindakan yang jauh dari sikap peka gender dan berakal budi, dengan mengambil upaya menutup-nutupi dan mendamaikan kasus tersebut. Kasus lain yang cukup menyita perhatian adalah mantan pegawai honorer SMAN 7 Mataram, Baiq Nurul Maknun, yang menjadi korban pelecehan seksual kepala sekolah tempatnya bekerja dan kemudian malah dikriminalisasi.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong tinggi. Dibanding negara-negara ASEAN Indonesia masih jauh tertinggal. AKI di negara-negara ASEAN menempati posisi 40-60 per 100.000 kelahiran hidup. sedangkan di Indonesia masih menempati posisi 305 per 100.000 kelahiran hidup. AKI di Indonesia hanya kalah dari Kamboja yang berada dalam posisi paling buruk diantara negara-negara ASEAN. Kematian bayi baru lahir (kematian neonatal) juga terbilang tinggi. Angkanya mencapai 185/hari. Kematian neonatal berkaitan erat dengan kualitas pelayanan persalinan dan penanganan bayi baru lahir yang kurang optimal.

Serangan terhadap kaum perempuan baik berupa ragam kekerasan, kurangnya perhatian terhadap isu maternitas dan bentuk diskriminasi berbasis gender lainnya, sudah waktunya diakhiri. Budaya patriakhi, prasangka berbasis intepretasi atas keyakinan tertentu terhadap kaum perempuan dan lemahnya kebijakan negara dalam mewujudkan perlindungan serta kesetaraan perempuan sudah sepatutnya mendapat perlawanan secara lebih serius. Perlawanan terhadap kekuatan reaksioner yang mempromosikan nilai-nilai anti pembebasan perempuan juga harus dipergencarkan.

Gerakan buruh dan gerakan rakyat secara lebih luas, sangat berkepentingan memenangkan isu perempuan sebagai agenda penting mereka. Komitmen terhadap isu perempuan harus dibangun juga di internal gerakan buruh dan gerakan rakyat secara keseluruhan dalam praktek keseharian. Agenda pembebasan perempuan adalah mutlak melekat dalam setiap denyut nadi gerakan rakyat.

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close