Analisa

Ilhamsyah: Perusahaan Harus Buka Laporan Keuangan!

Situasi pandemi Covid-19 bukan saja mendorong krisis kesehatan dalam skala global, ancaman kerusakan ekonomi yang parah juga makin tampak di depan mata. Pekerja di banyak tempat mengalami PHK, sisanya lagi  berduyun-duyun dirumahkan. Tidak sedikit diantara pekerja yang di-PHK atau dirumahkan tak mendapatkan kompensasi apapun, entah barang secuil sekalipun. Mereka dilemparkan ke kontrakannya masing-masing, tanpa ada kepastian darimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup.

Cerita tentang buruh-buruh yang ‘diliburkan’ namun tidak dibayar makin berderet-deret menyesaki laman pemberitaan, berdampingan dengan itu potensi tsunami PHK tengah bergoyang kencang di depan mata. Kelas pekerja dan lapisan rakyat miskin, sekalilagi akan menjadi korban utama. Seperti itu pada setiap masalah besar meletus di berbagai negeri. Kamis, 9/4/2020, buruh.co berkesempatan mewawancarai Ketua Umum KPBI, Ilhamsyah. Pria yang sekarang memelihara kumis tersebut, tampak lebih langsing dari sebelumnya.

Apa kabar bung?

Sehat. Semoga seluruh anggota KPBI dan rakyat lainnya dimanapun berada juga sehat. Teman-teman buruh.co juga jaga kesehatan, dong! Kamu kurangilah merokoknya.

Bagaimana Bung Ilhamsyah memandang situasi ekonomi kedepan?

Sebetulnya ekonomi global sudah sakit, jauh sebelum virus Corona berjangkit. Jatuhnya pertumbuhan ekonomi, koreksi proyeksi pertumbuhan oleh lembaga-lembaga keuangan dunia, ketegangan global akibat Perang Dagang, dan destabilisasi politik di banyak negeri, merupakan jejak yang tak mungkin dihapus dan dipungkiri.

Terlalu banyak indikator yang bisa dipakai untuk sampai pada kesimpulan itu: bahwa kapitalisme sedang gontai. Corona membuat tubuh kapitalisme yang sudah berpenyakitan menjadi semakin layu dan menua. Tidak punya imun lagi, tubuh kapitalisme memburuk, semacam mendapatkan komplikasi berbagai penyakit.

Bisa diuraikan lebih jauh?

WTO, organisasi perdagangan dunia yang berbasis di Jenewa, bahkan mengatakan skenario paling optimis untuk tahun 2020; perdagangan akan menyusut sebesar 13%. Ini bukan angka kecil. Angka tersebut menjelaskan penurunan yang lebih besar dibandingkan resesi tahun 2008-2009 yang disebabkan oleh krisis perbankan.

WTO juga bilang, seperti pemberitaan yang saya baca di The Guardian, ada risiko yang jauh lebih suram lagi. Perdagangan global akan menyusut sebesar 32%. Ini bencana besar. Setara dengan penurunan yang terjadi antara tahun 1929-1932, yang sejarah menyebutnya sebagai Depresi Besar.

Apakah itu artinya krisis besar menanti dan umat manusia seharusnya tidak bisa lagi berharap pada kapitalisme?

Benar. Kapitalisme selalu mengantarkan rakyat kepada krisis demi krisis. Kesengsaraan demi kesengsaraan. Dan di setiap krisis terjadi, kelas pekerja serta lapisan terbawah masyarakatlah yang paling akan menanggung kesengsaraan. Sejarah kapitalisme adalah sejarah darah dan air mata kebanyakan rakyat.

Saat krisis 1997 saya kebetulan telah menjadi aktivis. Saya menyaksikan benar bagaimana rakyat dicekik krisis. Mereka dibenamkan kedalam ketidakpastian. Kejatuhan mata uang di Asia, guncangan moneter, melemparkan rakyat dalam kondisi ‘hidup atau mati’. Penjarahan terjadi. Krisis ekonomi, memicu krisis politik, lahirlah reformasi. Ada banyak lapisan rakyat yang menjadi korban dalam periode kelam itu.

Bung, kita dihadapkan pada masalah buruh yang dirumahkan dan di-PHK. Apa yang ingin Bung sampaikan?

Pertama saya ingin mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada rakyat dan kelas pekerja di tanah air. KPBI sejauh ini belum bisa memberikan andil maksimum di tengah situasi sulit. Ada banyak keterbatasan dan rintangan yang tak sepenuhnya bisa kami tangani. Untuk itu kami wajib meminta maaf.

Selanjutnya saya mau bilang, pandemi ini tidak bisa dijadikan sarana oleh pengusaha untuk aksi cuci tangan bersama. Benar bahwa pandemi membuat ekonomi macet. Itu fakta ilmiah yang saya tidak akan sangkal. Tapi fakta itu juga berdiri dengan fakta-fakta lain.

Buruh tidak bekerja hanya di masa-masa kemerosotan ekonomi. Buruh juga tidak bekerja hanya di periode pandemi. Ada bergepok-gepok profit (laba) yang sudah diambil pengusaha. Ada tumpukan kekayaan pribadi yang telah mereka timbun. Semua itu hasil dari keringat buruh. Mereka telah hidup bergelimang kemewahan selama setidaknya dua generasi.

Benar ekonomi lagi macet ditahan oleh pandemi. Tapi tak sepenuhnya benar kalau mereka bilang tak punya uang sama sekali! Sekarang saatnya mendistribusikan keuntungan itu untuk membayar buruh yang dirumahkan, darimana dan oleh siapa uang itu berasal dan diciptakan.

Dalam sebuah artikel pemberitaan pengusaha menyatakan hanya akan kuat bertahan sampai pertengahan tahun ini.

Kembali seperti yang saya bilang tadi. Pada akhirnya semua klaim harus dibuktikan dengan data. Untuk bisa membuktikan klaim tidak punya duit, tidak mampu bertahan dan lain sebagainnya, pengusaha harus menyodorkan bukti.

Saya mau bilang, pengusaha wajib membuka laporan keuangan mereka, setidaknya empat tahun terakhir. Tidak ada alasan tidak melakukan itu. Ini memang sulit. Pengusaha kerap menghindari. Mereka enggan membuka isi dapurnya.

Dalam situasi tuntutan kenaikan upah dimasa-masa sebelumnya, ada saja pengusaha yang menyatakan tidak sanggup bayar, minta penangguhan. Tapi mereka juga tidak pernah mau buka laporan keuangan. Padahal itu wajib, ada audit untuk pengajuan penangguhan. Selalu dilewati prosedurnya.

Saat ini, di tengah badai hebat, cara-cara seperti itu sudah tidak bisa ditolerir.

Terakhir Bung, langkah minimum apa yang harus dilakukan menghadapi potensi tsunami PHK ini?

Saya sudah bilang ke beberapa kawan, lakukan monitoring berkala. Kita punya keterbatasan analisa pandemi. Serikat buruh tidak punya kelengkapan disiplin virologi (ilmu yang mempelajari tentang virus). Prediksi paling konservatif menyebut pandemi ini akan baru bisa diatasi sepenuhnya di bulan November, atau Desember. Entahlah, saya bukan pakarnya.

Intinya saya mau bilang, monitoring terus perkembangan basis. Siapkan langkah antisipatif yang paling mungkin menghadapi potensi PHK dan masifikasi tindakan buruh dirumahkan. Pekerjaan komunikasi dan database menjadi lebih perlu ditangani dengan cekatan dalam hal ini. Jika buruh dirumahkan, tuntut laporan keuangan! Mereka wajib membuktikan dalih merumahkan pekerja.

Okay, Bung. Terimakasih atas waktunya.

Terimakasih juga. Jaga kesehatan!

 

***

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close