SastraSerba-Serbi

Cahaya Di Bola Mata Kelas Pekerja

Sumber : Sandro Miller, Bill Brandt / Eyes I (1960-1964), 2014 – https://yama-bato.tumblr.com/

Budiyanto pria Jawa bersahaja. Yang menyapa saya dengan dengan sebutan “Cak”, panggilan pria dalam tradisi Jawa Timuran. Yang meledek janggut saya yang mulai memerak. Yang membelikan saya sebungkus nasi Padang, sebelum kelas belajar dimulai.

“Gurune gak oleh keluwen”, ujarnya sambil terkekeh.

(Gurunya tidak boleh kelaparan)

Ketika tamat SMP, Budiyanto pergi dari Purworejo untuk tiba di ibukota. Di usia enam belas tahun dia mulai bekerja di pabrik alat-alat kantor. Upahnya seperti teka-teki, sesuatu yang tak pasti. Kadang-kadang cukup, seringkali sesuka hati majikan memberi.

Serupa cerita jutaan anak keluarga tani miskin, tanah pertanian yang sesak memaksanya meninggalkan desa. Orang bilang, buruh industri anak kandung kaum tani. Kemiskinan desa, mengembalakan pemuda-pemudinya mengadu peruntungan ke kota.

Industri negeri ini selaksa setetes madu yang dikerubungi ribuan semut. Semut-semut itu, bila beruntung akan mencecap madu bermerk upah murah. Semut-semut lain akan terdampar dalam pekerjaan yang mana saja. Menjual ketoprak di pojokan gang atau meniupkan pluit juru parkiran.

Saya, Budiyanto, dan kawan-kawan se-pabriknya memiliki kelas belajar. Kelas belajar ini digelar di sudut Barat ibukota yang kumuh. Di sebuah kontrakan, diantara lorong kusam, kami membicarakan banyak tema. Mula-mula upah, lalu corak produksi, berbulan kemudian partai.

Agak mengejutkan, pikiran-pikiran bertumbuh lebih laju dari yang bisa dimajinasikan. Pikiran manusia itu ajaib. Dia bekerja dengan caranya. Menembus batas anggapan-anggapan.

“Kalau kita mendirikan partai. Dan partai itu untuk menghadapi kapitalis. Apakah partai kita ini adalah partai sosialis?”

Pertanyaan itu muncul dari salah satu peserta kelas belajar. Mendapatinya, senyuman saya tak bisa tertahan. Ada bunga yang cepat-cepat bermekaran di benak saya.

“Apa itu partai sosialis, Bung?”, saya balik bertanya.

Si penanya agak ragu menimpali. Kepalanya digaruk-garuk, seolah malam itu ada seratus kutu di rambutnya. Dia menoleh-noleh. Adegan yang membuat Budiyanto terkekeh.

“Mangkanya jangan tanya sulit-sulit!”, timpal Budiyanto sembari kembali terkekeh.

Kekeh itu tak lagi ada kini. Lima bulan lalu takdir selesai menuliskan maksudnya. Budiyanto pergi. Dia tertubruk kereta api. Saat menjajakan kue dagangan, maut menyambutnya tanpa belas asih. Kue-kue itu jembatan penyambung hidup. Pemogokan sembilan bulan  yang digelar bersama kawan-kawannya, hanya membuat pengusaha bergeming. Tak sudi menarik keputusan PHK.

Budiyanto tak sempat berpamitan. Dia meninggalkan kami, kelas belajar dan cita-cita partai kelas pekerja. Kita bisa menemukan 1001 tragedi dalam kehidupan kelas pekerja. Tak banyak novel untuk itu. Tulisan laris di rak toko-toko buku tak berkisah kepiluan rakyat pekerja.

Saya membaca novel karya Emile Zola, Germinal, saat muda. Kekasih saya membelikannya sebagai hadiah ulang tahun. Germinal mengisahkan pemogokan buruh tambang di utara Prancis pada tahun 1860-an.

“Tambang tidak pernah beristirahat; siang dan malam serangga manusia menggali batu enam ratus meter di bawah ladang.”, tulis Zola.

Seperti Gorky dalam “Ibunda”, penulis naturalis Paris ini membawa kalimat-kalimat berani. Zola mengungkapkan kemarahan buruh dalam kalimat yang kejam,

“Hanya ada satu hal yang menghangatkan hati saya, dan itu adalah pemikiran bahwa kita akan menyapu bersih borjuis ini.”

Kemarahan seperti ini mungkin juga milik Budiyanto. Milik orang-orang  teraniaya. Ada rasa sakit di sana, perih. Ada luka yang dibalut luka, dan keadilan yang hendak dimenangkan.

Sebulan ini saya diminta mengajar di kelas pendidikan FSPMI. Suatu waktu seorang buruh muda berdiri demi mengajukan tanya,

“Apa penyebab krisis pada tahun 1870? Dan bagaimana kondisi buruh pada saat itu sehingga mendorong perlawanan, terbentuknya serikat pekerja dan  partai-partai kelas buruh?”

Saya melihat cahaya di bola mata si penanya. Cahaya yang pernah saya lihat sebelumnya. Cahaya yang sama, yang dulu hinggap di bola mata Budiyanto. Cahaya yang berbinar, saat seorang buruh berbicara perihal partai kelas pekerja. Budiyanto telah pergi. Tapi cahaya di bola matanya ada dimana-mana.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Close
Close