Dinamika Buruh

Buruh Transportasi PT Mandiri Agung Trans Protes PHK Sepihak

Federasi Serikat Buruh Persatuan Indonesia (FSBPI) menolak PHK sepihak pada buruh PT Mandiri Agung Trans di Jl Marunda Center Segera Makmur Taruma Jaya kab.Bekasi. Federasi yang berafliasi dengan Konfederasi Perstuan Buruh Indonesia ( KPBI ) itu menganggap PHK itu tidak sah. “Ada sekitar 27 org yang ter-PHK tersisa 9 orang. Yang dari anggota serikat yang sudah terdata,” kata Ketua Umum FSBPI Dian Septi di Kabupaten Bekasi, Sabtu (10/4/2021).

Sebagai bentuk perlawanan, 9 buruh transportasi dan solidaritas dari jaringan organisasi sekawan melakukan aksi unjuk rasa di kantor depot PT Mandiri Agung Trans pada Sabtu (10/4/2021). Perusahaan melakukan PHK sepihak dengan menawarkan kompensasi sebesar Rp 2,5 juta dengan variasi masa kerja. Sejak itu, serikat sudah berupaya untuk melakukan perundingan. “Kami terpaksa melakukan unjuk rasa karena perusahaan mengabaikan perundingan,” imbuh Dian Septi.

Salah satu driver, Sanan, mengatakan bahwa selama ia bekerja tidak ada perjanjian kemitraan. “saya hanya diberikan kompensasi sebesar 3.5 juta rupiah,” kata supir yang  bekerja lebih 15 tahun itu pada Sabtu, 10 April 2021. Ia berharap pihak perusahaan memiliki itikad baik dalam penyelesain ini. Ia juga berharap kepada pihak instansi pemerintah agar dapat memfasilitasi untuk tripartit. Ia menambahkan para buruh juga menuntut pembayaran upah sesuai UMK Kabupaten Bekasi.

Sekjen FSBPI Damar Panca mengatakan meminta agar perusahaan mengikuti peraturan Undang-Undang Tenaga Kerja. Namun, pihak perusahaan tetap meminta berdasarkan kemampuan perusahaan. Ia meminta agar dipertemuan dengan pemilik perusahaan langsung. “Yang bisa mengambil kebijakan tersebut kami selalu dipertemukan dalam mediasi oleh pihak stafnya percuma pertemuan tersebut. Kami akan terus melakukan aksi jika pemilik perusahaan tidak menemui kami,” tegasnya.

Sempat terjadi dorong- dorongan antara peserta aksi di depan PT.Mandiri Agung Trans dimana para warga sekitar perusahaan dibenturkan dengan peserta aksi merasa terganggu,ini dugaan adanya provokasi dari pihak perusahaan.

Jumisih wakil Ketua FSBPI menambahkan serikat menuntut ada penghargaan dan penghormatan untuk para buruh yang sudah bekerja puluhan tahun. “Jangan memperlakukan buruh sewenang-wenang dengan dalih buruh sistem kerja mitra. Sistem mitra itu tidak ada di undang-undang, Kalau pengusaha mau menghormati hukum, situasi perselisihan ini tidak akan berlarut-larut,’ ‘katanya pada Sabtu,10/4/21.

Ia menekankan supir bukanlah mitra ataupun pekerja harian lepas. “Buruh sopir adalah sama seperti buruh pada umumnya sehingga juga memiliki hak yang sama sesuai ketentuan perundang-undangan,” pungkasnya.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close
Close