Serba-Serbi

Andi Arief, Wajah Bangkrutnya Sebuah Generasi

Tariq Ali, intelektual keturunan Pakistan pernah menulis di kolom harian The Guardian. Kurang lebih begini tutur katanya di bagian ekor tulisan,

“Para pemberontak itu kini menempati berbagai pos di tiap pemerintahan Eropa Barat yang membela eksploitasi, perang, teror negara dan pendudukan neo kolonial; sementara yang lain memproduksi sampah reaksioner di blogspot, menampilkan semangat yang dulu pernah mereka cela…’

Artikel memorial di bulan Maret tersebut merupakan serangan terbuka Tariq Ali ke angkatan jamannya. Sebuah angkatan yang semasa muda pernah bahu-membahu melawan tiran. Terutama di seputar Gerakan Mei 1968, peristiwa yang diyakini menjadi tonggak kebangkitan gerakan pemuda progresif di Eropa.

Peristiwa Mei 1968 adalah momen politik ketika kaum muda dan kelas buruh Perancis terjaga melawan rejim Charles de Gaulle dan sistem kapitalisme sekaligus. Sekian tahun lamanya pasca Perang Dunia II Perancis tak pernah diguncang sedemikian keras, dan tahun itu seluruh tatanan masyarakat merasakan badai yang telah lama mereka lupa: badai tuntutan perubahan.

Selama berbulan-bulan anak-anak muda Perancis menguasai kampus dan sekolahan. Mengganti nama ruang kelas mereka dengan nama tokoh-tokoh revolusioner. Menggelar rapat-rapat umum. Mereka menghardik tatanan lama sembari mengayunkan tongkat pemukul di jalanan. Menghujani CRS [polisi anti huru-hara Perancis] dengan paving, seraya berseloroh, “Kekuasaan ada di jalanan, bukan di Parlemen!”.

Kemarahan kalangan muda lantas disambut kelas pekerja di pabrik-pabrik. Kini otoritas Perancis tak lagi sedang menghadapi sekumpulan “anak baru gede” yang susah diatur sebab dimabukan buku-buku filsafat dan teori radikal, melainkan de Gaulle mesti menghadapi lapisan paling menentukan seluruh denyut nadi ekonomi: kelas buruh. Dalam konteks ini, CGT [Confédération générale du travail], menjadi konfederasi buruh yang paling militan memainkan peran selama peristiwa tersebut.

Sebagaimana semua epos sejarah, tiap peristiwa raksasa melahirkan tokoh-tokohnya sendiri. Pun Peristiwa Mei 1968 yang gagal itu. Mereka ini yang kemudian diserang Tariq Ali dalam tulisannya di harian Inggris. Semisal orang seperti Bernard Kouchner. Pria kelahiran Avignon yang saat muda memimpin komite pemogokan fakultas kedokteran di Sorbonne. Dia yang turut berkelahi melawan CRS yang hendak menghentikan pendudukan di Latin Quarter.

Orang Prancis mempunyai pepatah, “jusqu’ a 30 ans, revolutionaire; depuis, canaille”, artinya, “sampai umur 30, revolusioner; sesudahnya [hanyalah] seorang bajingan”. Seiring waktu, Kouchner tua tak luput diseret kelapukan. Bergabunglah dia ke pemerintahan sayap kanan François Fillon, mengisi kursi Menteri Luar Negeri. Membela apa yang dulu dia cela.

Di Indonesia kita tak asing dengan lakon yang semacam ini. Sebutlah Angkatan 1998. Anak-anak muda yang dulu dengan gagah berani menggadaikan kemudaannya demi menumbangkan Soeharto. Seiring bertambahnya usia, hidup rupanya tak semudah dan serenyah teks-teks filsafat yang pernah mereka kunyah. Setelah menua, mereka pun bermetamorfosa.

Mereka lantas ada dimana-mana, dengan rupa yang berbeda. Bebeda tampang fisiknya, lebih-lebih wajah pendirian politiknya. Mereka ada yang menjadi herder penguasa. Bersiaga 24 jam sehari, siap menggigit siapa saja yang nada bicaranya tak seirama dengan pikiran resmi istana. Ada yang menjadi tengkulak penderitaan rakyat. Menenteng setumpuk proposal ke bohir-bohir di manca negara. Berbisnis isu sosial dalam apa yang disebut “LSM-isasi perlawanan”.

Ada yang menjadi pengiman pura-pura. Berbaris bersama kaum puritan, menjajakan Tuhan. Lantas ayat suci ditukar dengan elektabilitas dan pencapaian kotak suara. Ada yang duduk di kursi Dirjen atau sekedar jadi gedibal di ruang kerja para menteri. Ada yang membela reklamasi Teluk Benoa, sambil sesekali bobok siang di kursi Senayan. Ada yang bergabung dengan partai dimana orang yang memerintahkan penculikan rekan-rekannya berkuasa disana.

Maka ketika kemarin Andi Arief tertangkap karena dugaan penggunaan narkoba, rasanya itu hanya menjadi tambahan cerita sebuah generasi. Mantan aktivis hebat nan pemberani semasa muda, kini menghiasi headline media dalam sosok seorang pemadat. Tak banyak kisah se-tragis ini, tapi Generasi 1998 punya stok bahan yang berlimbah untuk mempermalukan dirinya sendiri.

Mendapati apa yang menimpa Andi Arief, sederet kolega lantas buru-buru membuat testimoni. Memuat foto kenangan atau mengunjuk tulisan. Diantaranya ada yang meminta publik bersikap adil dalam melihat masalah yang menimpa Andi Arief. Diceritakanlah apa yang hebat-hebat dari sosoknya. Tentu saja semua yang hebat-hebat itu adalah dan hanyalah kisah masa silam. Bukan hari ini.

Didongengkanlah hubungan yang pernah terjalin diantara mereka semasa melawan kediktatoran. Lagi-lagi, itu bagian dari cerita lampau yang telah kadaluarsa. Semacam kisah usang yang didaur ulang. Seluruh ujaran nostalgik seperti ini tentu hanya berguna diocehkan oleh seorang kakek yang hendak membuat cucu kesayangannya pulas di ranjang.

Di Perancis atau di negeri ini. ‘Mei 68’ atau ‘Mei 98’. Dalam keseluruhan lintasan sejarah. Pada akhirnya sebuah generasi [yang seperti ini] akan dikenal karena pencapaiannya, dilupakan karena tak mampu lagi berkarya, ditulis karena ketidakteguhan gagasannya, lantas dirayakan ulang sebagai tinja sejarah.

****

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close