Analisa

Saatnya Meninggalkan Ilusi “Penyelesaian Demokratis” Bagi Venezuela

Saya menangis ketika mendengar kabar kematian Hugo Chavez. Sekian detik lamanya saya sukar bernafas, kecuali hanya bisa sesenggukan. Kali terakhir saya menangisi kepergian seorang lelaki, itu adalah ayah saya, lima belas tahun sebelumnya. Hari itu, air mata saya jatuh tak henti-henti, tidak deras, tapi terasa sakit. Palung hati teriris-iris, pedih sekali. El Comandate telah pergi.

Kabar kematian Chavez, enam tahun silam, lantas menyebar cepat. Orang-orang di Miami, gerombolan pelarian politik anti Chavez bersorak. Washington menyambut positif berita tutup usia lawan politiknya yang paling menyebalkan itu. Sekutu-sekutu Venezuela tertunduk di Havana, Managua, La Paz, Montevideo hingga Tepi Barat Palestina.

Maduro, sosok yang kemudian menggantikannya, berpidato,

“Semua yang berjuang untuk hidup, tidak dapat dikatakan mati’, ujarnya terbata-bata. 

5 Maret 2013, “Revolusi Bolivarian” mendapati dirinya tengah berada di titik berangkat baru, tanpa patronnya: Hugo Chavez. Setahun selepas Chavez mangkat kerusuhan politik pecah di Caracas pada bulan Februari, sejumlah 43 orang tewas. Media global dan LSM mengolahnya sebagai bahan bakar untuk mendeskreditkan pemerintahan Maduro.

Elit-elit kaya dukungan Amerika terus menggerakkan massa demi menggelar kekerasan jalanan. Gedung gubernur di Merida dibakar. Seorang buruh PDVSA ditembak mati. Kameraman TV komunitas Barrio ditembak di El Valle. Pada bulan April, Maduro menang tipis atas kandidat sayap kanan Capriles. Maduro cuma menanggok 7.505.378 suara alias 50.66%. Seperti sudah diduga, oposisi sayap kanan tak mengakui hasil pemilu.

Maduro memerintah di atas pondasi yang berbeda dari pendahulunya. Chavez memiliki kharisma raksasa dan harga tinggi minyak dunia. Dua hal yang tak ada di saku Maduro. Tiada lagi kelimpahan uang dari minyak. “Booming Oil” telah usai, sejak industri dunia macet dan mesin-mesinnya mangkrak diterpa imbas krisis tahun 2008. Industri dunia loyo, permintaan energi merosot drastis, hukum pasar kapitalis perihal permintaan dan penawaran berbicara: harga minyak dunia pelan-pelan terjun bebas.

Penurunan harga minyak dimulai dari $100 per barel pada 2013, menjadi $85 pada 2014, $41 pada 2015 dan $35 per barel pada 2016 dan tren nya terus berkutat diangka yang tak menggembirakan hingga sekarang. Apa yang dulu bisa diamalkan oleh Chavez, mengguyur jutaan dollar untuk perbaikan sektor sosial (pendidikan, kesehatan, perumahan dan ketersediaan pangan), kemewahan itu tak lagi bisa diulang Maduro.

Ekonomi Venezuela tampak kepayahan. Kabar gemilang kemajuan-kemajuan sarana hidup rakyat seketika digantikan dengan berita kelangkaan. Pada 2017, harga satu kilo ayam sebesar 4500 Bolivar, setahun berselang meningkat menjadi satu juta. Lonjakannya setara 22.000%. Jumlah nominal upah tetap meningkat tapi daya beli dari kenaikan upah jauh tertinggal dari kenaikan harga. Sembako mulai langka dan kemampuan impor tergerus hebat. Blokade ekonomi yang dijalankan Amerika pada akhirnya menjadi berlipat-lipat lebih efektif menyakiti rakyat Venezuela.

Orang-orang yang belajar ekonomi mulai bertanya-tanya, apakah Venezuela ikut memasuki daftar negeri-negeri yang jatuh pada “resource curse”? Ini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan paradok yang dihadapi negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah tapi gagal mencapai performa ekonominya. Ketergantungan pada minyak, -yang tentu saja diperjualbelikan di pasar kapitalis-, mencekik leher ekonomi Venezuela, persis ketika harga minyak dunia melompat ke bawah.

Beberapa orang menyebut, apa yang terjadi di Venezuela adalah hasil dari mencampur kucing dan anjing, sambil berharap kedua binatang yang secara alamiah bermusuhan itu dapat akur dan tumbuh damai satu sama lain. Adalah tidak mungkin menggabungkan aspek nasionalisasi dan perencanaan negara dengan ekonomi pasar. Ujicoba semacam ini pasti akan berakhir, -cepat atau lambat-, takluk pada ekonomi pasar. Mungkin itu yang terjadi di Venezuela.

Di titik itu, oposisi melihat bahan baku baru untuk menyulut bara pada tubuh Revolusi Bolivarian. Mereka mencoba lagi, lagi, dan lagi. Tak banyak oposisi sayap kanan yang demikian rajin dan getol seperti yang dilakukan orang-orang kaya di Caracas. Tahun lalu Pemilu digelar, Maduro masih selamat, oposisi keok kembali. Maduro menang melampaui Henri Falcon. Dibandingkan pemilu sebelumnya, Maduro telah kehilangan 1.338.715 suara. 

Hasil pemilu, seperti yang sudah-sudah, tak akan mengubah perangai oposisi dan tuannya Amerika. Januari ini sekelompok tentara melancarkan kudeta, tapi berhasil digagalkan. Juan Gerardo Guaido lantas melantik diri sebagai presiden sepihak. Ndoro-ndoro mereka di Amerika dan Eropa menyambutnya. Memberikan dukungan. Dalam sejarah, tak hanya sepuluh-dua puluh kali kita diberikan pertujukan semacam ini. Pemilu sebagai metode pemilihan kepemimpinan yang demokratis menurut standar negara-negara kapitalis di Barat, bisa dicampakkan ke tong sampah kapanpun mereka ingin.

Venezuela tengah berada dalam pengepungan. Beberapa hari lalu Revolusi Bolivarian merayakan hari jadinya yang kedua puluh diantara pertaruhan paling berbahaya bagi hari depan klas pekerja di Venezuela. Ken Livingstone, mantan walikota London dari Partai Buruh, pernah mengajukan kritik serius atas jalannya Revolusi Bolivarian. Sebagai pendukung Hugo Chavez dia membaui kesalahan yang mungkin juga dihirup banyak kalangan “Chavista” lainnya.

“Salah satu hal yang tidak dilakukan Chavez ketika dia berkuasa, dia tidak menghabisi semua oligarki. Ada sekitar 200 keluarga yang menguasai sekitar 80% kekayaan di Venezuela, ”

Apa yang mau disampaikan disini, pada kenyataannya tuas-tuas ekonomi yang menguasai hajat hidup massa, masih berada dalam genggaman pemilik-pemilik modal. Mereka berhimpun dalam barisan oposisi yang memperburuk keadaan Venezuela dengan sabotase ekonomi. Melakukan penimbunan, perlambatan produksi, menganggu distribusi dan menciptakan kelangkaan.

Kelas bermilik ini tidak pernah dilikuidasi total sepanjang dua puluh tahun terakhir, betapapun tak hanya sekali mereka mensponsori kudeta. Mereka menjalankan bisnisnya seperti biasa, dengan sedikit gangguan dari kebijakan-kebijakan pembatasan. Mereka hanya sekedar diminta menjadi kapitalis yang lebih humanis dan penurut, sembari terus bersaing dengan ekonomi terencana yang dijalankan negara. Alat produksi sebagai basis kehidupan mereka, masih relatif utuh, tak tersentuh Revolusi Bolivarian.

Revolusi Bolivarian betapapun dihujani slogan-slogan paling meriah atas nama “sosialisme”, belum pernah mencapai kata tersebut sebagai tatanan yang eksis dalam masyarakat. “Penyelesaian-penyelesaian demokratis” terbukti mandul dihadapan kelas bermilik yang tak rela privelege-nya diganggu dan dikurangi. Ilusi demokratis telah menghambat massa rakyat mencapai tujuan final Revolusi Bolivarian, yaitu berdirinya masyarakat sosialis yang baru. Ilusi yang menghambat kelas pekerja untuk menyita secara keseluruhan pabrik dan tanah-tanah kaum bermilik tanpa ampun.

Kudeta tahun 2002 dan 2019, kekerasan jalanan, pembunuhan politik, sabotase ekonomi, sokongan politik pun ancaman intervensi militer Amerika, serta 1001 upaya pendongkelan pemerintahan Chavez dan Maduro, justru membuktikan kaum borjuis Venezuela dan tuannya di Washington sana, memiliki kesadaran kelas yang teguh. Bahwa pertentangan kelas pekerja dengan diri mereka adalah tidak terdamaikan. Kotak suara bisa dipakai pada hari Senin bila dirasa perlu, lalu diabaikan hasilnya pada hari Selasa untuk memaksakan kemauan. Tak ada “penyelesaian demokratis” dalam pengertian apapun disini.

Saya menangis ketika Chavez pergi selama-lamanya. Kesedihan yang masih membekas hingga sekarang. Namun kesedihan itu tak akan sebanding bila pada akhirnya rakyat pekerja Venezuela tak pernah mencapai cita-citanya sebab potensi terbaiknya dikerangkeng oleh ilusi “penyelesaian demokratis”, sebuah frasa penghalusan dari “penyelesaian damai”. Chavez meninggal adalah kabar buruk enam tahun silam, bila rakyat Venezuela gagal menuntaskan tujuan-tujuan kelasnya, akan menjadi kabar dengan bobot yang lebih buruk hingga bertahun-tahun kedepan.

****

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close