Unjuk Rasa May Day Serikat Pekerja Bank Permata Hapus Batas Kasta Buruh

Blokade sekitar 100 ribu buruh di Medan Merdeka Barat

Kehadiran SP Bank Permata dan SP Danamon yang tergabung dalam Gerakan Buruh Untuk Rakyat pada aksi unjuk rasa May Day 2017 kali ini memberikan bukti tidak ada lagi dikotomi pecah belah buruh kantoran (white collar) dan buruh kasar (Blue collar). Semua melebur dalam perjuangan untuk rakyat Indonesia, juga antara buruh dengan mahasiswa dan masyarakat miskin kota, ini bukti persatuan bangsa.

Ironis ketika persatuan dan kesatuan elemen bangsa mulai bersatu untuk memperbaiki bangsanya, justru pemerintah membuat upaya memecah belah kekuatan dan kesatuan dengan menghimbau instansi-instansi dan perusahaan-perusahaan untuk mengadakan kegiatan sendiri yang melibatkan buruh pada Hari Buruh Internasional tersebut.

Bagi Pekerja Bank Permata, May Day itu Perlawanan

SP Bank Permata tegas menolak undangan dari Federasi dimana SP Bank Permata berafiliasi, untuk menghadiri acara perayaan May Day di Senayan atas prakarsa dan inisiatif dari Kementrian Tenaga Kerja dan tetap bergabung dengan Gerakan Buruh Untuk Rakyat.

SP Bank Permata menilai upaya-upaya pemerintah seperti ini, adalah upaya untuk mengaburkan nilai perjuangan buruh dalam menyampaikan aspirasi, dengan mengganti ke panggung-panggung hiburan dan hadiah adalah bentuk pembodohan dan harus ditolak, dan SP Bank Permata menyayangkan kehadiran beberapa organisasi buruh disana.

May Day 2017 meninggalkan catatan negatif demokrasi bangsa ini selama kurun waktu 15 tahun terakhir.  Pemerintahan Jokowi-JK justru menambahkan jarak antara penguasa dan buruh semakin lebar. Barikade polisi lengkap dengan peralatan yang disiapkan untuk menghadang dan menghalau Massa Buruh dan Rakyat adalah bukti bahwa pemerintah memperlebar jarak penyampaian aspirasi, Blokade yang di buat seperti memperjelas bahwa benar banyak persoalan buruh yang serius di negeri ini, sehingga pemerintah menghindar dengan cara memasang barikade.

Prana Rifsana, Ketua Umum SP Bank Permata, menyebut tindakan pemerintah tersebut sebagai tindakan kontra demokrasi, sebagai bangsa yang dinilai baik dalam pelaksanakan prinsip-prinsip demokrasi, namun ternyata, kenyataan yang kami lihat kemaren bertolak belakang, pemerintah menunjukkan arogansi dan ke-enggan-an dalam menampung aspirasi rakyatnya sendiri.

 

Terkait dengan adanya pembakaran bunga di depan balai kota SP Bank Permata berpendapat bahwa hal tersebut tidak perlu terjadi, insiden tersebut justru dapat mencederai pergerakan buruh.

SP Bank Permata bersama dengan Gerakan Buruh Untuk Rakyat akan terus berjuang untuk rakyat dan melebarkan cakupan perjuangannya ke organisasi-organisasi lain, aliansi yang saat Mayday tahun ini memiliki lebih dari 12.000 dukungan massa dari 22 organisasi ini mengangkat 5 (lima) persoalan besar rakyat Indonesia yaitu demokrasi, sumber daya alam, agrarian, korupsi dan pendidikan serta kesehatan.

Persoalan pekerja perbankan juga diangkat oleh SP Bank Permata dalam aksi Mayday 2017 secara khusus menyampaikan dan mengangkat beberapa isu yaitu Penolakan atas PHK Murah dengan berbagai pola dan bentuknya yang sering di gunakan oleh pengusaha untuk melakukan pengurangan Karyawan, selain itu Menuntut dan Penjarakan Pelaku Union Busting serta isu pemilikan Bank oleh korporasi Asing, yang seharusnya menjadi aset bangsa – Perbankan untuk kepentingan Bangsa Indonesia, bukan untuk Asing.

Pada kesempatan ini SP Bank Permata menghimbau kepada semua organisasi buruh di sektor perbankan untuk bersatu membangun organisasi bersama sektor perbankan dalam memberikan kontribusi peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia.

Rilis Serikat Pekerja Bank Permata terkait Mayday 2017