Tugas Gerakan Buruh Tuntaskan Reformasi, Sosialisme Sebagai Jalannya

May Day KPBI 2015

Di dua bulan pertama 2018, tujuh kepala daerah dibekuk KPK melalui operasi tangkap tangan. Tahun sebelumnya, ada 19 pejabat tersangkut operasi serupa. Di lain sisi, tuntutan pencabutan Dwi Fungsi ABRI hanya berakhir dengan menghilangnya fraksi ABRI di parlemen. Tapi, belakangan peran sosial politik TNI kembali menguat. Selain campur tangan perdagangan beras, demo buruh, hingga perang melawan terorisme. Belakangan peran sosial politik TNI mulai dipulihkan, satu diantaranya dengan ditanda tanganinya berbagai MOU antara TNI dengan beragam instansi. Reforma Agraria pun ikutan mandeg, menjadi acara bagi-bagi sertifikat belaka. Kesejahteraan buruh dengan kontrak, outsourcing, magang, dan pemberangusan serikat. Belum lagi, unjuk rasa dan aksi mogok semakin dipersulit. Dan, salah satu pukulan paling telak adalah PP Pengupahan 78/2015.

Padahal, kesejahteraan, penghapusan korupsi, dan pencabutan dwi fungsi ABRI adalah beberapa dari agenda utama Reformasi. Ketika reformasi sudah berusia 20 tahun, ia tidak lagi muda. Namun, pemenuhan amanat-amanat reformasi bagaikan jauh panggang dari api. Sungguh, masih banyak tugas besar menuntaskan agenda Reformasi. Orang mungkin akan bertanya, siapa yang sanggup menuntaskan tugas mulia itu?

 Kebangkitan Metode dan Dukungan Rakyat pada Gerakan Reformasi 

Balik sejenak kebelakang, kebangkitan gerakan mahasiswa di awal 1998 sendiri adalah satu proses panjang dalam perjuangan rakyat. Kala itu krisis kapitalisme di belahan Asia mempercepat akumulasi ketidakpuasan dan menjadi bahan bakar yang ampuh bagi kebangkitkan rakyat. Mahasiswa atau angkatan muda yang melakukan aksi-aksi protes di dalam kampus mulai mendapatkan dukungam dari lapisan rakyat. Aksi-aksi kampus lantas menjalar ke semua daerah. Jogja, Solo, Jakarta, Surabaya, Makasar dan wilayah lain. Api perlawanan itu menjalar membakar ilalang krisis yang kronis.

Aksi-aksi 1998 semula hanya menuntut turunkan harga sembako mulai berubah menjadi turunkan Soeharto. Disini terlihat lompatan kualitas, tuntutan ekonomis menjadi tuntutan politik. Problem perut, menjadi problem kekuasaan.

Metode aksi pun ikut bergerak maju. Aksi yang semula beredar di dalam lingkungan kampus mulai merangsek ke luar kampus. Setiap upaya menghalangi aksi ke keluar kampus lantas ditimpali dengan bentrokan melawan aparat. Pukulan, penganiayaan dan penangkapan, tidak membuat aksi anak-anak muda ini surut. Justru keberanian makin menebal dan semakin banyak yang terlibat dalam aksi.

Hari-hari di periode awal 1998 ialah hari-hari yang berjejal demonstrasi. Rakyat menyorot aksi-aksi ini dalam perasaan dukungan terpendam, kelak akan ditumpahkan dalam bentuk partisipasi langsung. Mula-mula massa rakyat bergerombol menyaksikan aksi mahasiswa yang terus berupaya menerobos barikade aparat.

Di sisi lain, upaya penggabungan massa aksi antar kampus mulai terjadi, sekarang jumlah makin berlipat ganda. Memasuki bulan Mei 1998, kebangkitan gerakan mahasiswa dan rakyat sudah tak mungkin dibendung. Upaya represif aparat dibalas dengan batu dan molotov. Propaganda untuk memoderasi gerakan mahasiswa melalui media, -yang menyatakan gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral-, benar-benar tidak digubris.

Penguasa Orde Baru mulai menyadari bahwa gerakan mahasiswa terus menuai dukungan rakyat. Maka dibuatlah skenario baru. Politik kambing hitam ialah salah satu pola yang sering di gunakan Orde Baru untuk mengalihkan kemarahan dan ketidak puasan rakyat.

Penembakan mahasiswa Trisakti, seketika diikuti penjarahan dan sentimen anti-cina. Kediktatoran Militer yang tengah lunglai mencoba memainkan dan mengalihkan kemarahan rakyat kepada kaum peranakan. Provokasi penjarahan dan perkosaan, -menurut Tim Gabungan Pencari Fakta -, selalu di awali oleh sekelompok orang berbadan tegap dan terlatih. Dan pada saat terjadinya kerusuhan tersebut tidak ada satupun aparat berseragam yang bersiaga di lapangan.

Hal yang disayangkan pada waktu kerusuhan-kerusuhan spontan itu pecah, mahasiswa tidak keluar kampus untuk memimpin masa rakyat. Mengajak rakyat dalam satu agenda pemberontakan rakyat yang lebih mematikan. Beruntung, mahasiswa dan massa rakyat tidak membutuhkan waktu lama untuk menyadari provokasi tersebut. Gerakan kembali fokus ke tujuan pokok, menuntut Seoharto mundur. Beberapa hari sebelum 21 Mei, Gedung DPR, tempat dimana Soeharto mendapatkan stempel cuma-cuma atas kekuasaannya, akhirnya diduduki mahasiswa.

Partai pecahan Golkar (Sumber:Tirto.id)

Hasil Perjuangan yang Dibajak Elit

21 Mei 1998 Soeharto muncul di televisi. Dalam pidatonya, Diktator tua itu menyampaikan pengunduran diri dari kursi kepresidenan. Lelaki Kemusuk ini menyerahkan jabatan kepada wakilnya BJ Habibie. Sorak-sorai mahasiswa dan rakyat meletus menyambut pengunduran diri jenderal yang mengangkangi Indonesia selama 32 tahun. Sekarang, mahasiswa melalui opini media kembali di giring ke dalam kampus. Sebagian besar mahasiswa merasa tugasnya sudah selesai, sebagian kecil yang lain masih terus mendesak pembentukan pemerintahan transisi. Desakan pembentukan pemerintahan transisi sayangnya tak lagi mempunyai amunisi sekuat gerakan awal penggulingan Soeharto. Sebagian besar mahasiswa sudah kembali ke aktifitas kampusnya.

Kemudian Reformasi ditelikung oleh elit-elit politik. Pilar kekuatan Orde Baru (Orba) yaitu ABRI, Birokrasi, Golkar (ABG) hampir tidak tersentuh. Mereka masih terus mengisi pos-pos penting dalam pemerintahan Habibie. Orang-orang ini mencoba memoles wajah dan busananya dalam dandanan sekelompok reformis. Reformasi dikhianati dan berhenti.

Elite memberikan sedikit kompromi yang diperlukan. Ruang untuk berkumpul dan berpendapat. Namun jauh dari itu semua, secara ekonomi tidak ada yang berubah dalam makna sistem baru. Pemerintahan pasca Soeharto tetap menjalankan sistem ekonomi yang sama: Kapitalisme. Di era Soeharto kapitalisme diputar dengan laras senapan, kemudian saat reformasi, ia diputar dalam bujuk rayu dan ilusi demi bilik coblosan dan kotak suara seusai 1998. Akhir-akhir, watak represif kembali semakin muncul ketika rakyat mulai sadar bujuk rayu tersebut.

Ketua Umum KPBI Ilhamsyah di tengah aksi buruh 2005, ketika akar rumput makin sadar kekuatan gerakan massa

Kenapa Gerakan Buruh Bertanggungjawab Tuntaskan Reformasi

Lalu bagaimana kelanjutan agenda reformasi yang terkulai di antara pengkhianatan elite borjuasi dan kelemahan gerakan? Apakah kita akan menunggu kebangkitan gerakan mahasiswa kembali, sementara sudah diketahui batasan dari gerakan mahasiwa itu sendiri? Gerakan mahasiswa sudah menjalankan tugas maksimumnya, membuka sedikit ruang demokrasi bagi rakyat. Adanya ruang demokrasi ini sendiri mulai dimanfaatkan oleh gerakan rakyat. Untuk kelas buruh, sejak 1998 buah dari ruang demokrasi ialah bermunculannya serikat-serikat buruh di luar SPSI. Kemunculan serikat-serikat ini mulai memberikan warna dalam gerakan buruh dan rakyat. Ada harapan baru muncul dari gerakan buruh. Hak untuk mogok dan berserikat juga mendapat jaminan dari undang-undang.

Sedikitnya, ada dua kemajuan gerakan buruh yang patut digarisbawahi dalam kurun waktu belakangan pasca Reformasi 1998. Pertama, gerakan buruh sudah menerima aksi massa dan mogok kerja sebagai metode perjuangan. Semasa Orde Baru, aksi masa dan mogok adalah hal yang tabu. Tindakan ini bisa berujung tudingan subversif, penjara dan bahkan kematian. Meskipun di tahap awal serikat-serikat tua peninggalan Orba terus-menerus menghambat dan ikut mempropagandakan cara-cara mogok adalah metode PKI versi Orde Baru, tapi pada akhirnya kesemua itu tidak didengar lagi oleh anggotanya.

Serikat-serikat di SPSI dan pecahannya terus teradikalisasi oleh aksi-aksi dan pemogokan. Puluhan ribu selebaran disebar guna membangkitkan kesadaran dan keberanian kaum buruh. Pada awal tahun 2000, buruh-buruh Sidoarjo melakukan aksi Mogok Kawasan menuntut persamaan Upah dengan Kota Surabaya. Di Jawa Barat buruh di kawasan Cimahi dan Ranca Ekek melakukan pemogokan kawasan dan rally ke Kota Bandung.

Selain pemogokan kawasan yang di lakukan buruh manufaktur, di tahun 2000 buruh Pelabuhan juga melakukan pemogokan dengan menutup kawasan Pelabuhan Tanjung Priuk. Ribuan buruh transportasi dan pelabuhan memarkir kendaraannya di Pos 9 Tanjung Priuk yang mengakibatkan dua hari pelabuhan terbesar itu lumpuh total.

Kala itu barikade aparat tidak menyurutkan langkah kaum buruh. Buruh marangsek maju, bentrokan pecah. Tidak hanya satu hari, tiga hari berturut turut buruh Cimahi melakukan aksi kawasan dan longmach ke kota Bandung.

Di tahun 2006, gerakan buruh di luar serkat peninggalan Orba membentuk Aliansi Buruh Menggungat (ABM). Aliansi ditujukan untuk menolak rencana pemerintah merevisi UU Ketenagakerjaan 13 tahun 2003. Revisi ini bakal memangkas angka pesangon secara drastis. Belakangan, pemerintah dan DPR, dengan dorongan dari pengusaha, tengah berancang-ancang kembali melakukan revisi serupa.

ABM melakukan mobilisasi puluhan ribu buruh serta menyerukan pemogokan kawasan industri. Seruan lantas disambut kaum buruh dengan melakukan sweeping atau menyapu pabrik saat May Day 2006. Aksi kuras pabrik itu terpaksa dilakukan karena perusahaan seringkali mengintimidasi buruh di dalam pabrik untuk tidak terlibat aksi yang memperjuangkan nasib mereka.

Metode aksi sweeping kemudian berkembang dan meluas di tahun-tahun berikutnya. Baru setelah tahun 2006 inilah, serikat-serikat peninggalan Orba menerima aksi masa setelah dipaksa anggota-anggotanya. Kenaikan kesadaran massa buruh membuat birokrat serikat-serikat buruh terpaksa menurut sesaat. Menerima metode aksi demonstrasi dan mogok kerja, sebuah keterpaksaan agar tak ditinggal anggotanya.

Kemajuan kedua adalah kenaikan kualitas tuntutan. Gerakan buruh progresif sedari awal sudah menyatakan bahwa perjuangan buruh tidak bisa memisahkan perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Mulanya pandangan ini juga ditentang oleh banyak serikat, terutama mereka yang berkumpul di sekitar serikat peninggalan Orba. Hari ini Gerakan buruh mulai menyadari pentingnya pemahaman ini. Gerakan buruh menuntut jaminan sosial, gerakan buruh menuntut nasionalisasi aset-aset srategis, gerakan buruh juga menuntut pemberantasan korupsi dll.

Gerakan buruh mulai mendorong pimpinannya terlibat dalam ajang elektoral, walau dengan cara-cara yang tidak tepat. Menitipkan diri ke partai atau elite borjuasi. Lebih jauh, belakangan tahun wacana akan kebutuhan membangun partai politik sendiri dari klas buruh, makin tumbuh di sanubari rakyat pekerja. Pelan-pelan, walau memang masih terasa lambat, elemen termaju dari gerakan buruh bergiat mencari jalan bagi kelas buruh memasuki gelanggang pertarungan politik. Bertarung lewat alatnya sendiri, untuk tujuan-tujuan kelasnya dan tugas mengemban aspirasi rakyat tertindas lainnya.

Dekade terakhir ini adalah dekade kebangkitan gerakan buruh Indonesia. Beragam pemogokan kawasan dan aksi sweeping berkembang dalam kuantitas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pemogokan Nasional yang melibatkan jutaan kaum buruh pun berlangsung, tidak hanya sekali, tercatat tiga kali kaum buruh melakukan Pemogokan Nasional, terlepas dari berbagai kekurangannya. Ini adalah dekade ketika semua sektor rakyat menyaksikan potensi tak terbatas dari kelas buruh. Kemampuan memobilisasi dirinya, energi berlawannya dan kesanggupannya memberikan rasa takut yang cukup kepada klas penguasa. Satu kekuatan yang mempunyai struktur yang sangat luas, dari pusat hingga tingkat pabrik. Kekuatan yang akan terus semakin membesar seiring massifnya ekspansi modal. Kesemua fakta ini menegaskan dalil: di bawah pundak kelas buruhlah tugas kepeloporan itu bertumpu.

May Day Gerakan Buruh untuk Rakyat (Gebrak) 2018

Cara Buruh Tuntaskan Amanat Reformasi 

Harapan besar kepada kelas buruh untuk menuntaskan Reformasi tak bisa diurungkan lagi. Agar gerakan buruh mendapatkan dukungan yang luas dari gerakan rakyat, seperti pengalaman gerakan mahasiswa 1998, gerakan buruh harus menjadi yang terdepan dalam membela persoalan-persoalan rakyat. Gerakan buruh harus menunjukkan posisi keberpihakannya secara kongkrit. Solidaritas adalah ruh gerakan buruh. Maka, kelas buruh harus tampil dalam persoalan agraria yang membelit kaum tani, hadir dalam kancah problem perempuan, ikut melawan mahalnya biaya pendidikan buat kaum muda, tiba disaat rakyat miskin kota dilanda penggusuran, membentengi rakyat dari provokasi SARA yang memecah belah rakyat tertindas, dan tak absen dalam isu pelanggaran HAM yang melukai hak hidup rakyat. Pendeknya, Gerakan Buruh ada untuk rakyat.

Bagaimana menemukan benang merah dari persoalan-persoalan rakyat dengan persoalan buruh sehingga keduanya bisa berjalan bersama? Hal ini bisa dilakukan dengan mulai mendiskusikan sistem penganti dari kapitalisme. Berfikir merdeka untuk mencari alternatif tatanan masa depan. Tatanan dunia lain itu mungkin! Another world is possible. Ini adalah hal yang mutlak.

Kenapa kapitalisme perlu digantikan? Kapitalisme adalah sistem yang menghamba pada akumulasi modal. Segala kegiatan, mulai kerja, pendidikan, layanan sosial, bahkan hubungan sosial menjadi komersil dan mengabdi pada laba serta materi. Rakyat dipaksa bekerja sekeras mungkin, “kerja, kerja, kerja!” dengan upah rendah. Kerja adalah komersil, aktivitas ekonomi yang memujalaba membuat produksi berlebihan dan hal-hal yang tidak perlu seperti kemewahan, sementara produksi hal-hal mendasar bagi rakyat seperti pertanian diabaikan karena sedikit mempersembahkan laba bagi para pemodal. Di lain sisi, berbagai layanan sosial semakin dikomersilkan demi laba dan tidak dapat diakses rakyat. Belum lagi komoditas kebutuhan yang membumbung tinggi demi laba segelintir orang.

Belajar dari gerakan 1998, pergantian kekuasaan tanpa dikuti penggulingan sistem lama, hanya akan menceburkan massa rakyat pada problem-problem yang serupa. Di bawah naungan sistem lama kapitalisme, lagu sumbang kemiskinan akan terus bebas bernanyi tak berkesudahan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat inidonesia adalah prinsip dari Sosialisme. Sosialisme memberi tawaran untuk membalikan sistem kapitalisme. Dalam sosialisme, sumber-sumber daya atau alat produksi dimiliki dan dikelola secara bersama. Rakyat bekerja untuk memenuhi kebutuhan semua rakyat. Kerja diarahkan agar semua rakyat terjamin untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan mendasar; seperti kesehatan gratis, pendidikan bermutu, kepastian tempat tinggal, ekspresi diri, dan gizi mencukupi. Buruh juga dilibatkan dalam proses produksi agar ia tidak terasing dari kerjanya sendiri.

Buruh harus berjalan menuju kesana. Pendiskusian dan pendidikan tentang Sosialisme wajib dimassifkan di kalangan buruh. Tugas gerakan buruh sama sekali tak cukup sekedar advokasi dan demonstrasi tahunan mengenai upah di kalah Hari Buruh dan akhir tahun. Tugas gerakan buruh tak bisa lagi hanya sekedar bertarung di Pengadilan Hubungan Industrial atau menggebarak meja pejabat Dinas Tenaga Kerja. Buruh harus mulai memahami dan mengasah ideologi kelasnya. Menyakini Sosialisme sebagai satu-satunya sistem yang bisa mengantikan kapitalisme. Hingga terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia dan kemudian rakyat bisa bersenandung lagu baru yang bait-baitnya berisi kemakmuran dan kemajuan.