Tak Ada Manis Tebu Bagi Buruh Daris

Truk Tebu di Kabupaten Malang, Jawa Timur. (Foto:Roja)

Belanda tengah menjalani perubahan politik. Cukong lama didesak ke tepi, cukong anyar datang dengan berlipat-lipat keserakahan. Pada 1901, di parlemen Belanda [Staten Generaal], kaum liberal memenangkan pasal politik guna melancarkan maksud-maksud ekonomi. Tanah jajahan mesti dibuka seluas-luasnya bagi modal swasta. Selanjutnya dikenalah Opendeur Politiek, politik pintu terbuka bagi modal swasta.

Trias van Deventer lantas ikut dibawa. Sesuatu yang secara salah dikira sebagai paket perbaikan nasib Bumi Putera. Sesungguhnya tak ada itu jargon ‘Liberté, Egalité, Fraternité’ dalam elan borjuasi mereka, seperti halnya koleganya di Perancis saat melipat kekuasaan tua Feodal. Ini semua perihal cara menggendutkan perut kolonial belaka.

Mereka butuh tenaga terdidik, tak mungkin kapital dilipatgandakan hanya oleh keringat kuli kasar, itulah pasal sesungguhnya perihal Edukasi. Mereka butuh sistem pengairan yang baik demi menopang tanaman ekspor, disana arti Irigasi. Mereka juga perlu Imigrasi, mobilitas tenaga kerja antar pulau guna membangun industri yang masih belia. Walau secantik mungkin dibungkus gaun humanisme, itulah minat sesungguhnya dari Trias Politika.

Guna menyambut tiba kembangnya modal, sarana transportasi lantas bergiat dibangun. Keberhasilan Nederlands Indische Stroomtram Maatschappij (NISM), membangun jalan kereta api Semarang-Surakarta, mendorong minat atas pembangunan rel-rel anyar. Bayi-bayi tenaga upahan pun terlahir dari rahim ibu tiri penjajahan. Kelak, mereka mendewasa sebagai proletariat modern. Sebuah klas yang menyejarah.

Ekspor kapital skala raksasa ke Hindia-Belanda benar-benar memasuki zaman anyar. Duit besar merangsek. Sangat laju, amat deras. Lajunya melebihi apa yang bisa dilakukan mesin uap kepada energi panas hingga menjadi gerak mekanis. Kapital adalah perias hebat. Tangannya mengubah wajah tanah jajahan. Rupa-rupa pabrik pengolahan hasil pertanian lantas tersebar.

Sementara di tanah jajahan, orang-orang Tionghoa, minoritas nan liat itu, memang telah lama tangguh dalam berniaga. Di pembuka abad 20, sebuah pabrik gula berdiri di bilangan selatan Kabupaten Malang. Tepatnya di tahun 1905, seorang Tionghoa, Tan Tjwan Bie, mendirikan Pabrik Gula Kebon Agung. Kelak pabrik ini akan dicaplok De Javasche Bank.

Setahun berselang, berjarak 13 km dari Kebon Agung, pabrik gula ala Belanda berdiri, Krebet. Waktu pendirian pabrik gula hingga sekarang masih bisa dilihat di tembok bagian atas gedung, tertulis 1906, merujuk tahun pendirian. Selanjutnya pabrik ini diambil alih Oei Tiong Ham, seorang taipan dari Semarang, melalui NV Handel Maatschappij Kian Gwan.

Di kebanyakan kota selalu tersisa bangunan tua. Sepasang pabrik gula di bilangan Kabupaten Malang tak semata saksi gagu sejarah, merekalah wujud tua bagi tonggak perubahan corak produksi di Nusantara. Dan ketika bendera Republik telah berganti, jejak mode produksi lama itu masih menyisa. Pabrik terus beroperasi hingga sekarang.

Bila ada pabrik gula, pasti ada ladang tebu. Jika ada air tebu, maka ada yang mencecap manis, ada pula yang sekedar menelan ampasnya. Lantas di sebuah desa, tersebutlah sepasang lelaki itu, Daris dan Budiman. Keduanya, mewakili manis dan ampas tebu. Masing-masing dari tiap lakon hidupnya. Masing-masing dalam kedudukannya di relasi produksi. Majikan dan buruh.

Daris, teman sepermainan saya. Lelaki berbadan gempal, dadanya bidang, tidak tinggi, namun otot-ototnya sudah serupa tambang kapal. Kami pernah tumbuh bersama. Nakal berbarengan. Dulu, saya kerap menganggu atau diganggunya. Sesekali saling pukul. Dorong mendorong biar tercebur ke blumbangan. Kami adalah sahabat masa kanak-kanak.

Sementara ayahnya dikenal sebagai makelar perhiasan yang tabah di Pasar Besar, setamat STM Daris memilih meniti jalannya sendiri. Ia mememutuskan menjadi sopir truk pengangkut tebu. Tak banyak pilihan buat pemuda desa seusianya,  baik dulu maupun sekarang, kecuali tanahmu teramat luas, maka kau hanya bisa menjual tenagamu.

Pada musim giling, truk yang dikemudikannya itu akan berjajar bersama truk-truk lain, sebegitu rapi, seperti kawanan semut hitam mengantri mencecap gula. Masuk pabrik gula, mesti menunggu giliran. Biasanya dimulai bulan lima hingga berakhir di ujung tahun. Seorang sopir bisa bertahan dalam antrian hingga 2 malam, sebagaimana yang kerap dialami Daris.

Truk angkut sendiri memang telah lama menggambil alih peran lori. Kereta tebu kini hampir menyerupai fosil purbakala. Sedikit sekali dikaryakan. Peninggalan Malang Stoomtram Maatschappij [MSM] beberapa rel nya bahkan kelar sudah dicungkil orang. Sejak kredit otomotif menjadi semakin lunak, jajaran mobil keluaran anyar makin memenuhi jalan, termaksud truk angkut. Tak ada lagi roda empat yang ngos-ngosan seperti masa saya kecil dulu.

Tahun demi tahun. Hidupnya Daris tak banyak berubah. Sekeras apa dia membanting tubuh, sekeras itu pula nasib akan memojokkannya. Motor miliknya tetap butut. Membonceng tiga manusia, isteri dan sepasang puteri kembarnya. Saat akan menikah, Daris sempat kelabakan. Kesana kemari mencari pinjaman. Saya memberi sedikit yang saya punya, dia memeluk. Dia menangis. Saya mematung.

Dipandang dari pucuk Monas sekalipun, Daris tentu tak akan sama dengan Budiman. Nama terakhir ini ialah juragan besar. Pemain kondang di jagad pertebuan Malang Selatan. Namanya menjadi buah bibir dalam kasak-kusuk perincian para juragan seantero kabupaten. Koleganya politisi hingga walikota. Lelaki ini bertampang rupawan. Rumahnya melebihi ukuran lapangan bal-balan. Armada truknya pernah mencapai 35 unit. Hampir sepertinganya truk gandengan.

Lebaran beberapa tahun silam, saya sempat mengunjungi kediaman Budiman. Pria bercucu tiga itu tampak duduk tak santai bersanding isteri keduanya. Tubuh Budiman terlihat kaku menyerupai arca. Stroke telah membekukan raganya. Orang bilang kesehatan Budiman memburuk akibat kelewat keras memikirkan tebu. Siapapun akan terus dikejar persaingan, dimana saja kerajaan uang didirikan.

‘Cepat sembuh’, saya menepuk dan mengelus pundak Budiman berkali-kali.

Lamat-lamat, bola matanya terlihat melelehkan air. Pasti air itu tak semanis tebu, walau semua yang mahal-mahal di rumahnya dituai dari hektaran tanaman tebu. Lewat bibir isterinya, dia meminta saya tinggal lebih lama. Seperti biasa, saya selalu merasa ingin buru-buru angkat kaki. Terutama, sejak saya mendengar kabar Daris dibayar sekenanya dengan jam kerja sesukanya oleh Budiman.

Daris dan Budiman. Dua nama ini. Sesuai adat Jawa, yang satu memanggil saya ‘Mas’. Satunya saya sebut ‘Pak Lek’. Kedua lelaki ini sanak famili. Namun, mudah untuk dipahami, dalam hukum besi kapital tak akan pernah ada persaudaraan. Kecuali pemisahan. Mensegregasi umat manusia. Klas pemilik dan tenaga upahan. Tanpa kecuali di ladang tebu dan pabrik gula. Sejak kolonial, hingga sekarang. Sejak era Ratu Wilhelmina bertahta, hingga jaman Jokowi dipuja pengikutnya bak maharaja. Tebu, manisnya bukan untuk kelas pekerja