Tak Ada Final Piala Dunia Tanpa Buruh Migran

Samuel Umtiti (Perancis) Merayakan Gol ke Gawang Belgia dalam laga Semi final (Foto:Indosport)

Perancis melaju ke final Piala Dunia 2018 usai menundukkan Belgia dalam laga alot di Saint-Petersburg. Sementara laga semi final kemarin malam itu sendiri adalah cerita perihal kaum buruh migran dan keturunannya. Penyatuan bangsa, warna kulit serta budaya tersaji gamblang dalam balutan jersey biru Perancis dan merahnya seragam Belgia.

Orang yang terobsesi dengan monokulturisme akan selekasnya kecewa melihat bagaimana kedua kesebelasan nasional itu terbentuk. Merujuk The Guardian, lebih dari 78% squad Perancis berasal dari latar belakang imigran. Sementara komposisi imigran di timnas Belgia mencapai 47,8%, angka yang sama juga berlaku buat Inggris.

Tim tangguh Belgia dibangun diantara nama-nama seperti Fellaini, Lukaku bersaudara, Chadli, Kompany, Dedryck Boyata, Batshuayi, Mousa Dembele, Axel Witsel, dan Adnan Januzaj, kesemuanya memiliki setidaknya satu orang tua dari negara atau benua lain. ‘Generasi Emas’ Belgia datang pula dari anak-anak berbakat keluarga pekerja migran Kongo, Maroko, Burundi, Mali dan sekitarnya.

Pemain-pemain bagus Belgia merupakan produk dari pogram revitalisasi di awal tahun 2000-an. Program ini dinamakan Proyek 2000, sebuah upaya Belgia menjawab kekeringan bakat di negeri yang tak memiliki bonus demografi. Program juga bertujuan menggunakan sepak bola untuk membantu mengintegrasikan kaum pendatang.

Secara demografi, imigran terbanyak di Belgia datang dari Italia. Penduduk asal Maroko, sekitar setengah juta orang, dipercaya merupakan populasi imigran terbesar kedua. Kelompok etnis Turki ada di peringkat berikutnya. Menurut OECD pasar tenaga kerja Belgia diisi oleh 12% populasi yang bukan kelahiran Belgia.

Mirip Belgia, sejak lampau Perancis tak punya satu warna kulit dalam tim nasional. Saat menjadi juara dunia kali pertama pada 1998, mereka dikerubungi keturunan Afrika Utara, Afrika Barat, Karibia, Kepulauan Pasifik, Armenia hingga Basque. Perancis di tahun 1998 adalah simbol multikulturalisme yang menang.

Sejarah sepakbola Perancis adalah lintasan pemain keturunan pendatang yang kuat dan hebat. Mulai dari pria berdarah Polandia Raymond Kopa, orang Berber bernama Zidane, hingga si pelari cepat yang terlahir dari ayah Kamerun dan ibu Aljazair, Kylian Mbappe. Sekarang di Rusia, mereka hadir dengan komposisi ‘kesebelasan paling imigran’.

Politisi seperti Le Pen yang menjual politik Xenophobik atau anti yang berbau asing akan dengan mudah mendulang perlawanan sengit di Perancis. Pada 2002, Le Pen kurang selangkah lagi meraih kekuasaan, pesepakbola legendaris semacam Lilian Thuram sontak menceburkan diri dalam demonstrasi menentangnya.

Bek hebat itu turut menghadangnya. Dan berhasil! National Front milik Le Pen keok dihajar semangat ‘Liberté, Egalité, Fraternité’ atau ‘Kebebasan, Kesetaraan, Persaudaraan’. Keberhasilan tahun 2002 kembali diulang tahun lalu, ketika puteri Le Pen, Marine, mencoba lagi secara lebih masif apa yang pernah dilakukan ayahnya.

Baik Belgia dan Perancis tampak sekali ‘tak benar-benar Eropa’. Mereka kaya warna ras. Anda bisa membayangkan, jika saja di kedua negeri itu slogan anti imigran berkuasa dan diamini, kita mungkin tak pernah sempat menyaksikan keanggunan Zidane mengayun bola, atau keganasan Lukaku mengahajar jala lawan.

Jadi, jika Anda orang yang terobsesi dengan pemurnian ras, sudah pasti Piala Dunia kali ini semakin membuat Anda frustasi. “Supremasi pribumi’ sudah lama sirna di gelanggang olahraga ini. Bila Anda sosok yang rasis, matikanlah televisi, sebab di Rusia, tiada final tanpa imigran!