Sultan Deklarasi Damai, Polisi Bantul Malah Intimidasi dan Bubarkan Pameran Penggusuran Bandara Kulon Progo (NYIA)

Poster acara pameran “Tanah Istimewa” (Sumber:Selamatkanbumi)

Buruh.co, Jakarta – Panitia penyelenggaraan Pameran Solidaritas Teman Temon terpaksa membatalkan acara karena Polsek Kasihan, Bantul, mengintimidasi Kepala Dukuh setempat. Ini berujung permintaan Kepala Dukuh 03, Dusun Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, pada panitia agar membatalkan acara pameran.

Berdasarkan kronologi yang disusun, Kepala Dukuh 03 mengaku mendapatkan permintaan langsung dari Polsek Kasihan Bantul untuk menindaklanjuti laporan akan adanya kegiatan yang dianggap “tidak pro dengan program pemerintah.”

Pameran bertajuk “Tanah Istimewa” sedianya diselengarakan pada 14 hingga 15 Februari 2018 di Galeri Lorong, Jeblog, Tirtonimolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Kegiatan ini akan memamerkan sejumlah karya berupa poster, lukisan, karya instalasi, video kompilasi penggusuran serta testimoni warga, dan artefak dari rumah warga yang dibongkar paksa oleh Angkasa Pura dan Aparat di Temon, Kulonprogo untuk proyek pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Di samping itu, pada kegiatan ini, juga akan diadakan peluncuran film “Tanah Istimewa” yang menggambarkan berbagai perampasan tanah di Yogyakarta dan film dokumenter “HAM Aku Nang Kene” yang berisi kompilasi video proses penggusuran ruang hidup, kekerasan terhadap relawan dan petani di Temon, Kulonprogo untuk proyek pembangunan bandara. Peluncuran kedua film tersebut rencananya akan menghadirkan warga yang bertahan menolak proyek NYIA sebagai narasumber dalam diskusi.

Pada 10.00-14.00, penyelenggara pameran melakukan proses pemajangan karya di ruang pamer Galeri Lorong. Namun, pada 14.29, Kepala Dukuh 03 di Dusun Jeblok menelpon pihak Galeri Lorong untuk membatalkan acara pameran tersebut. Permintaan berujung pada pertemuan pihak Galeri Lorong melakukan pertemuan dengan Kepala Dukuh untuk mengkonfirmasi perihal permintaan pembatalan acara pada 15.30.

Intervensi oleh aparatur negara dan melalui pihak-pihak tertentu terhadap kegiatan solidaritas berupa kesenian atau kebudayaan sama sekali bukan hal yang baru di Yogyakarta.

Ironisnya, kebebasan untuk menyatakan pendapat dan kebebasan berekspresi semakin terancam di kota yang konon digelari sebagai “City Of Tolerance”. Ironisnya, pembubaran acara pameran justru bertepatan dengan “Deklarasi Jogja Damai Menolak Kekerasan, Intoleransi, dan Radikalisme” yang dilakukan oleh Gubernur DIY pada hari yang sama (Rabu, 14 Februari 2018 di Kepatihan Kantor Gubernur DIY). “Kami selaku penyelenggara memohon maaf terhadap kawan-kawan yang telah diundang untuk terlibat dan berpartisipasi dalam acara pameran “Tanah Istimewa”. Di sisi lain, kami tegaskan bahwa ruang solidaritas untuk warga yang sedang mempertahankan ruang hidup akan terus kami dukung dan perjuangkan, dimanapun dan kapanpun,” sebut pernyataan Penyelenggara pameran “Tanah Istimewa.”