Siapa yang “Mencuri” Hari Kerja Empaat Jam? (Bagian II)


Setiap jam kerja menjadi semakin produktif, sementara kelas pemilik (owning class) meraup porsi yang lebih besar dari keuntungan yang didapat.

Perlahan-lahan, sebuah impian Amerika baru mengantikan yang lama. Alih-alih waktu senggang, atau penghematan, konsumsi menjadi tugas patriotik. Korporasi bisa membenarkan segala ulah mereka – mulai dari kerusakan lingkungan hingga pembangunan penjara – demi menciptakan segala rupa pekerjaan baru. Pendidikan liberal arts2, yang pada awalnya ditujukan untuk mempersiapkan orang untuk menggunakan waktu senggangnya dengan bijak, telah dikemas ulang sebagai program latihan-kerja yang mahal dan tidak efisien. Kita sudah berhenti membayangkan bahwa kehidupan anak cucu kita akan lebih mudah daripada kehidupan kita, sebuah imajinasi yang menurut Keynes cukup masuk akal. Terlebih jauh kita berharap mereka akan memiliki pekerjaan, mungkin bahkan pekerjaan yang mereka sukai.

Mimpi baru akan kerja banting tulang terlanjur luar biasa mencengkeram kita. Sekarang, hampir tidak ada seorang pun yang menyatakan harapan atau merasa berhak atas jam kerja yang yang lebih singkat; setinggi-tingginya harapan kita cuma pekerjaan yang sempurna, yang sesuai dengan cita-cita kita. Dalam pencaharian sunyi dan tak kenal lelah atas pekerjaan idaman, kita tidak ambil pusing untuk berserikat dengan rekan kerja kita. Kita dibuat merasa bersalah jika membayangkan waktu luang. Seolah-olah, kalaupun ada waktu luang, pasti kita sia-siakan.

Makin sering kita dituntut menghargai pekerjaan, makin rendah pula nilai pekerjaan itu. Pada era ketika perempuan mulai bekerja di luar rumah, biaya kebutuhan rumah tangga meroket, sehingga dibutuhkan dua sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga—dan perempuan masih dibebani dengan sebagian besar pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak-anak. Lembur jadi kewajiban bagi banyak orang, dan bekerja paruh waktu sama artinya dengan  menjalani satu atau dua pekerjaan paruh waktu sekaligus. “Beberapa pekerja mendapat jam kerja yang lebih pendek, tapi tidak bisa memperoleh pemasukan yang stabil,” tutur Karen Nussbaum, yang memimpin Working America, sebuah perusahaan yang berafiliasi dengan American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations.

Dalam sisa-sisa gerakan buruh sekarang, jangankan menuntut pengurangan jam kerja; meraih upah layak, cuti sakit sambil digaji, sedikit waktu libur, dan cuti hamil pun sudah sangat sulit. “Krisis [jaman sekarang] itu beda – lebih akut dan lebih merajalela,” ujar Nussbaum yang membandingkannya dengan masa-masa ketika dia mulai mengorganisir buruh perempuan pada 1970an.

Anda pasti sudah dengar tentang buku The 4-Hour Workweek. Atau setidaknya pernah melihatnya di toko buku bandara, bersama para businessman yang melirik sampulnya bak katalog lingerie perempuan. The 4-Hour Workweek adalah kumpulan motivasi ala Mario Teguh, sebuah buku yang menjual obsesi ganjil namun laku keras: “bekerjalah dengan lihai, bukan lebih keras,” maka Anda akan bergabung dengan sang penulis Timothy Ferriss beserta kawan-kawannya dalam klub “Orang Kaya Baru” (New Rich) –cukup dengan investasi cerdik plus usaha minim. Jangan salah, ini bisa kejadian—tapi hanya bagi segelintir orang yang kebetulan beruntung dari jutaan orang bego yang sudah membeli buku ini.

Ide hari kerja empat jam yang dibayangkan gerakan buruh seratus tahun yang lalu berbeda. Gagasan ini merangkul semua orang – sebuah dampak alamiah dari kemajuan teknologi. Namun selama puluhan tahun sejak Perang Dunia Kedua, kapitalisme tidak sukarela memangkas jam kerja. Dulu, secara umum utopia waktu senggang dianggap sebagai persoalan teknologi, ternyata bukan. Ini persoalan politik.

who-stole-the-four-hour-workday-1413241634192

Industrial Workers of the World menganggap jam kerja pendek tanpa pemotongan gaji sebagai—seperti tertulis dalam satu selebaran—“Tuntutan Revolusioner yang Paling Utama.” Kelompok ini, seringkali dijuluki “Wobblies”, mengakui bahwa jam kerja yang lebih sedikit bakal menjamin pekerja mendapat keuntungan dari kemajuan, alih-alih membiarkannya menetes ke atas. Demi memenangkan kampanye delapan jam kerja pada era Perang Dunia I, para penebang kayu yang diorganisir IWW di daerah Barat Laut Amerika Serikat, akan meniup pluit dan berhenti kerja ketika delapan jam sudah berlalu.

Selebaran baru IWW menawarkan strategi lain untuk memperingatkan dampak jam kerja panjang terhadap keluarga: Menyuruh anak-anak pekerja mogok di depan tempat kerja, dengan spanduk yang menyatakan betapa mereka merindukan orangtua.

Dalam beberapa bulan ini ada sedikit pertanda kemajuan. Setelah mendapat tekanan yang keras dari buruh-buruh yang terorganisir, Presiden Obama mengumumkan peraturan yang lebih ketat soal pembayaran lembur; sementara itu, pemerintah memprediksi kemungkinan jutaan pekerja pindah dari pekerjaan paruh waktu ke purna waktu karena mereka mampu membeli asuransi kesehatan melalui sistem yang baru. Wakil rakyat Paul Ryan dengan cepat menyatakan kekhawatiran bahwa dengan adanya asuransi kesehatan yang terjangkau, “dorongan untuk kerja akan berkurang.” Baginya, bayangan bahwa buruh miskin bekerja lebih sedikit, dan tetap memiliki asuransi kesehatan, merupakan penghinaan terhadap nilai luhur AS. Dia sungguh-sungguh mengatakan, “Itu menaburkan garam di atas luka”.

Dengan cara ini, pendekatan yang paling mungkin ditempuh adalah memisahkan kebutuhan—misalnya asuransi—dari pekerjaan. Peter Frase, editor majalah Jacobin dan salah satu pendukung pengurangan jam kerja yang paling cakap, menyerukan pentingnya pendapatan dasar untuk semua orang (universal basic income). Orang-orang yang sudah mampu mencukupi kebutuhan dasar, bisa menentukan berapa banyak waktu yang perlu mereka alokasikan untuk bekerja demi menambah pendapatan dasar. Namun, selama tidak ada gerakan yang kuat dan siap mogok untuk menuntut penerapan skema tersebut, politisi dan elit-elit lainnya akan terus berdalih bahwa anggaran pemerintah tidak cukup.

Para pekerja di negara-negara dengan organisasi buruh yang kuat biasanya lebih sadar. Gothenburg (Swedia) kini mengelar eksperimen kerja enam jam untuk pegawai negeri sipil, sementara di Perancis, di mana 35 jam kerja per minggu sudah dianggap lazim, serikat buruh tengah berjuang menetapkan peraturan yang melarang penggunanan surel kerja di luar jam kerja.

Gawai-gawai hemat waktu yang diharapkan Benjamin Franklin kini sudah ada. Tapi alih-alih memerdekakan orang, mereka malah dimanfaatkan sebagai tabir keserakahan korporasi untuk merampas kehidupan kita, siang dan malam. Tak banyak subkultur yang menggemari lembur di kantor seperti halnya para programmer Silicon Valley. Tapi siapa sih yang diuntungkan dari aktivitas begadang coding mereka?

Mungkin yang diuntungkan adalah orang-orang yang berusaha mencegah para pegawai rendahan Silicon Valley untuk berserikat, orang-orang yang merasa tidak ada salahnya  orang-orang ibu tunggal (single mothers) menjalani dua pekerjaan, orang-orang yang berharap Anda membuka email dua puluh empat jam sehari, orang-orang yang mengatakan bahwa kita lebih butuh pertumbuhan ekonomi ketimbang membiarkan para penggangur meringankan pekerjaan yang sudah ada. Yang jelas, orang-orang yang memercayai para majikan ini, dan tidak berorganisasi bersama rekan kerja mereka, sudah “mencuri” empat jam kerja dari diri mereka sendiri.

1Big Rock Candy Mountain adalah lagu folk tentang firdaus dari perspektif pengelana, sebuah versi modern dari surga dunia ala abad pertengahan, di mana ayam menghasilkan telur yang sudah masak dan rokok bisa dipetik dari pohon.

Liberal arts (Seni liberal) merujuk pada salah satu jenis kurikulum pendidikan yang berbasis pendidikan klasik. “Seni liberal” didefinisikan oleh Encyclopaedia Britannica sebagai “kurikulum perguruan tinggi atau universitas yang bertujuan memiliki pengetahuan umum dan meningkatkan kemampuan intelektual selain daripada kurikulum yang bersifat profesional, kejuruan, atau teknis.” (https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_liberal)

Artikel asli dimuat di Vice AS — https://www.vice.com/en_us/article/yvqqxw/who-stole-the-four-hour-workday-0000406-v21n8  

Semua ilustrasi adalah pembuatan kembali (re-creations) dari lebaran kampanye hari kerja empat jam pada dekade 1930an dan 1940an. Gambaran asli milik Industrial Workers of the World.

Tulisan ini diterjemahkan oleh Zacharia Gabrial dan pertama kali diterbitkan di https://recastkeys.wordpress.com/2017/08/04/siapa-yang-mencuri-hari-kerja-empat-jam/
Tulisan diterbitkan ulang untuk tujuang pendidikan

Terima kasih banyak untuk Windu Jusuf dan Yessi Arinda Brawimansudjoyo untuk bantuannya dengan terjemahan ini.