Seruan untuk Memboikot Acara “Cerita dari Blora”

acara cerita dari blora

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera

Kami, Komite Nasional Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), melalui pernyataan ini menyerukan kepada segenap aktivis FNKSDA (dan jejaring) untuk memboikot acara “Cerita dari Blora,” sebuah acara kebudayaan yang akan diadakan di Kota Blora, Jawa Tengah, pada 12-15 September 2018. Dalam kesempatan ini, kami juga menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk juga mempertimbangkan memboikot acara tersebut.

Adapun alasan kami untuk mengeluarkan seruan ini sebagai berikut:

Pertama, Karya-karya Pramoedya Anantar Toer, yang mana salah satunya menjadi inspirasi tajuk acara kebudayaan yang disebutkan di atas (yaitu: “Cerita dari Blora“), bagi kami adalah manifestasi perjuangan revolusioner melawan setiap bentuk penindasan-penghisapan manusia atas manusia dan penindasan-penghisapan manusia atas Bumi (dan umumnya non-manusia) yang dilakukan secara kebablasan.

Kedua, pemilihan tajuk acara yang memiliki kesamaan dengan salah satu karya Pramoedya, menurut hemat kami, adalah usaha untuk membajak Pramoedya dan karya-karyanya oleh pihak-pihak yang tak memiliki sensitivitas terhadap proses penindasan-penghisapan. Hal ini dapat kami jelaskan melalui keterlibatan PT Semen Indonesia (SI) sebagai salah satu sponsor acara kebudayaan “Cerita dari Blora.” PT SI adalah instrumen penindas-penghisap terhadap petani di Jawa Tengah melalui ekspansi tambang dan pabrik mereka di Rembang dan rencana ekspansi berikutnya di Pati.

Kasus ini sudah lama menjadi obyek penolakan gerakan petani Rembang (dan berbagai kelompok petani dari Pati dan Blora serta berbagai gerakan lain yang mendukung perjuangan petani Rembang) karena ekspansi PT SI akan merusak kehidupan (merusak sumber air, mengkonversi penggunaan lahan, dan sebagainya) para petani Rembang. Kasus yang menimpa petani Rembang ini, hanyalah salah satu dari ratusan kasus perampasan atau perusakan ruang hidup rakyat yang saat ini terjadi masif di Indonesia. Karena itu, solidaritas yang lebih luas dari seluruh gerakan rakyat dalam memboikot acara yang kami sebutkan di atas, sangatlah masuk akal untuk diharapkan.

Ketiga, dari komunikasi personal yang kami (aktivis FNKSDA) lakukan dengan Kang Putu, salah seorang nama yang tercantum dalam poster acara kebudayaan “Cerita dari Blora” yang disebutkan di atas dengan peran sebagai pembedah buku, kami menemukan adanya ketidakterbukaan informasi dari panitia terhadap Kang Putu tentang keterlibatan PT SI dalam acara ini. Hal ini terungkap bahwa Kang Putu baru mengetahui tentang keterlibatan PT SI belakangan.

Bagi kami, acara-acara semacam ini haruslah sepenuhnya dengan sikap saling menghargai, bukan hanya dalam hal bagaimana sebuah keputusan dilaksanakan, namun juga dalam hal bagaimana sebuah keputusan diproduksi. Dengan latar belakang ketidakterbukaan informasi ini, kami menilai bahwa panitia “Cerita dari Blora” tidak menghargai orang yang terlibat dalam acara itu.

Wallahu Muwafiq Illa Aqwamith Thariq

Wasslamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera

Salam Hormat,

Komite Nasional FNKSDA

Muhammad Al-Fayyadl, A. Syatori & Dwi Cipta