Serikat Buruh Ada di Hati, Bukan Dompet

Perwakilan Serikat Buruh Maritim Australia bertukarpendapat dengan buruh Indonesia

DItulis Oleh Gadis Merah dan Ian Ahong 

Buruh.co, Jakarta – “Serikat buruh ada di hati, bukan di dompet,” ungkapan itu meluncur dari Sekretaris Serikat Buruh Maritim Australia (MUA) cabang Sidney Paul McAleer. Sore, Senin 5 Februari 2018, ia menceritakan pengalaman Maritime Union of Australia yang tengah menghadapi gugatan sebesar 100 juta dollar Australia dari pengusaha.

“Jumlah tergila sepanjang zaman.Tapi, kami katakan, Anda bisa menguras aset kami, tapi serikat akan tetap melawan karena serikat ada di hati, bukan di kantong,” tegasnya.

Kata-kata yang beberapakali terlontar itu diutarakan di tengah langkah MUA sedang memperkuat kerjasama dengan serikat buruh di Indonesia. Upaya ini dijalin dengan kunjungan MUA ke Indonesia dan berdiskusi tentang potensi-potensi kerjasama antar buruh pelabuhan dan transportasi di kedua negara.

MUA bertemu dengan perwakilan-perwakilan dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) dan anggotanya, Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) dan Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), serta Local Initiative for OSH Network (LION), dan Serikat Pekerja JICT. Pertemuan berlangsung di Sekretariat FBTPI di Jakarta Utara pada Senin, 5 Februari 2018.

MUA juga mengajak perwakilan dari jejaring pekerja pelabuhan, International Dock Council. Kunjungan MUA ke Indonesia adalah dalam rangka berbagi perkembangan gerakan buruh yang terjadi baik di Indonesia maupun di Australia. Selain itu, kedua pihak juga mencari celah untuk bekerjasama.

Buruh Indonesia Perlu Tingkatkan Kesadaran Politik

Ilhamsyah sebagai ketua umum KPBI menyampaikan bahwa gerakan serikat buruh di Indonesia telah mengalami kemajuan dalam lima tahun terakhir. Ini karena gerakan buruh makin menyadari perlunya melakukan gerakan-gerakan secara massif, bukan hanya di pabrik. “Buruh sudah memahami pemogokan di tingkat pabrik itu tidak cukup. Maka ada pemogokan kolektif, nasional,” katanya. 

Namun, ia menyebutkan desakan-desakan belum cukup kuat karena protes-protes nasional itu masih didominasi tuntutan perburuhan. Dengan kata lain, gerakan buruh belum mendesakan agenda politik. Padahal, kebijakan dan peraturan perburuhan yang merugikan gerakan buruh lahir karena keberpihakan politik pemerintah pada pengusaha. “Penting kesadaran politik gerakan buruh dipropagandakan secara massif,” jelasnya. 

Pria yang sekaligus ketua Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia itu juga menyebutkan lemahnya pengorganisiran dan konsolidasi yang berarti di sektor pelabuhan dan transportasi di Indonesia. Ini karena represifitas di sektor tersebut lebih kuat ketimbang sektor-sektor yang serikatnya lebih mapan seperti manufaktur. “Kedua, tidak ada satu serikat yang punya kapasitas dan kemampuan melakukan konsolidasi di seluruh Indonesia,” jelasnya. 

Ilhamsyah menyambut baik kedatangan para rekan seperjuangan dari negar tetangga tersebut. Ia juga menekankan pentingnya solidaritas dan kerjasama kelas buruh tanpa memandang kenegaraan. 

Selain itu, Darisma dari LION juga memaparkan persoalan kondisi keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia. Ia menceritakan soal pelemahan gerakan buruh oleh sistem kontrak dan outsourcing serta bagaiman tingginya jumlah kecelakaan kerja di Indonesia.

Mengubah Serikat Buruh Jadi Gerakan Sosial 

Sementara dari pihak MUA juga menceritakan tantangan yang tengah dihadapi di kelas buruh di Australia. Sekretaris MUA Sidney Paul McAleer menyebutkan sistem kerja kontrak dan vendor terus menggerus jumlah buruh yang berserikat. Para buruh terancam tidak mendapatkan pekerjaan jika menjadi anggota serikat. “Serikat bisa melemah karena dibatasi kontrak, subkontrak, dan ini yang dikuatkan pemilik modal,” ungkapnya.

Sementara, sistem negara kesejahteraan dengan jaminan sosial yang kuat terus dikoyak. Para politisi pemuja pasar bebas tengah merenggut jaminan sosial buruh secara perlahan. Alhasil, jaminan pensiun buruh semakin lama jumlahnya semakin kecil. McAller menyebutkan, ia juga berdiskusi soal alternatif terhadap sistem kapitalisme yang menyebabkan eksploitasi buruh. “Kalau eksploitasi itu salah, bukannya mengurangi eksploirtasi, tapi bagaimana cara menghilangkan eksploitasi,” tanyanya secara retoris. 

Tantangan lain, serikat buruh tengah diberangus dengan gugatan-gugatan di pengadilan. MUA berkali-kali melakukan pembelaan agar anggotanya yang pekerja konstruksi tidak didenda ketika dikambinghitamkan atas kecelakaan kerja.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa serikat yang mengorganisir sektor pelabuhan dan transportasi itu juga tengah melakukan transformasi untuk memajukan kelas buruh. Transformasi ini dengan menjadikan MUA tidak hanya organisasi yang lahir dari hubungan industrial namun juga menjadi bagian dari gerakan sosial. Gerakan sosial itu bertujuan salah satunya untuk menciptakan masyarakat berkeadilan.  “Masa depan gerakan buruh di Australia adalah pada saat kita sanggup mengorganisir buruh secara luas, bahkan termasuk buruh tidak terorganisir dan pengangguran,” katanya.

Berdasarkan catatan sejarah, MUA di Australia pernah berperan dalam membantu kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana diceritakan dalam film dokumenter Indonesian Calling, buruh Australia bersama buruh Indonesia dan berbagai negara lainnya mengorganisir pemogokan agar kapal-kapal Belanda tidak dapat mengangkut senjata ke Indonesia selama masa agresi militer.