Sambut May Day, KPBI Jabar Satukan Suara Protes Kebijakan Pemerintah

 

Konsolidasi May Day KPBI Jawa Barat, Senin (24/3).

Buruh.co, Karawang – Gerakan buruh di berbagai penjuru dunia terus melakukan persiapan menjelang peringatan Hari Buruh International atau May Day. Di Jawa Barat, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia menggelar konsolidasi untuk mempersiapkan perhelatan akbar itu. Dalam pertemuan di Karawang itu, para anggota serikat buruh menyatukan protes untuk melawan pembangunan pemerintah.

Wakil Kordinator Wilayah KPBI Jabar Ardiansyah menegaskan pada anggota bahwa KPBI akan tetap menyambut peringatan kemenangan buruh itu dengan demonstrasi. KPBI rencananya akan menggelar unjuk rasa di Jakarta untuk menyampaikan ketidakpuasan rakyat atas kebijakan Joko Widodo. “Sehingga kita semua turun ke jalan,” ungkapnya.

Kebijakan demi Pengusaha Korbankan Rakyat

Ardiansyah menegaskan kebijakan pemerintah saat ini menguntungkan pengusaha dan mengorbankan rakyat serta alam. Dalam hal perburuhan, pemerintah mengabaikan penerapan pasar kerja lentur atau fleksibel yang merugikan buruh. Sistem ini memudahkan pengusaha merekrut dan memecat buruh secara murah kapan saja. Padahal, Undang-undang Tenaga Kerja 13 tahun 2003 memberi batasan ketat terhadap pasar kerja fleksibel.

Ia menambahkan tanda pasar kerja lentur yang paling nyata adalah kontrak dan outsourcing (alih daya). “Dengan sistem ini diterapkan, sistem kerja kontrak dan outsourcing membuat ketidakpastian masa depan buruh,” ujarnya pada Senin, 24 April 2017.

Pasar kerja fleksibel ini juga membuat buruh semakin sulit lepas dari jerat pengangguran. “Misalnya 100 orang putus kontrak 100 orang masuk kerja maka jelas jumlah pengangguran tidak berubah,” terangnya.

Menurutnya, peraturan yang nyata-nyata menyerang buruh adalah PP Pengupahan 78 tahun 2015. Produk kebijakan itu membuat penyesuaian upah minimum buruh per tahun turun dari 11 persen pada 2016 menjadi 8 persen pada 2017.

Kebijakan pemerintah juga merugikan rakyat di sektor lain seperti petani dan merusak alam untuk kepentingan pemodal. Ardiansyah menyebutkan hal itu banyak terjadi di Jawa Barat. “Misalkan penggusuran untuk bandara di Majalengka, terus waduk di Indramayu, ekspolitasi di sekitar Gunung Salak, DAN terus penggusuran di Karawang untuk pembuatan kawasan-kawasan indusri,” paparnya.

Sambung Silaturahmi

Koordinator KPBI Jawa Barat Ahmad Jaelani menegaskan konsolidasi itu mempertemukan Dewan Pimpinan Wilayah dengan jumlah pabrik terbanyak itu dengan para serikat buruh anggota federasi. Maklum, konfederasi ini masih tergolong berumur muda karena belum genap satu tahun. Sebanyak lebih 30 perwakilan serikat buruh anggota dari empat konfederasi hadir dalam acara tersebut.

“Penting bagi kita untuk saling mengenal atar pengurus dan anggota agar semangat persatuan juga terbangun di tingakatan akar rumput. Sehingga ketika semangat persatuan ini sudah sudah ada pada anggota, gerak dalam perjuangan juga akan seirama,” ujarnya.