Rakernas FSP2KI, Ketua KPBI Ilhamsyah Tekankan Pentingnya Iuran

Buruh.co, Jakarta – Kemandirian sebuah serikat buruh sangat bergantung pada iuran. Namun, seringkali persoalan kekurangan iuran menjadi kendala gerak. Persoalan kemandirian ini menjadi salah satu topik pembahasan dari Rapat Kerja Nasional Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas Indonesia (FSP2KI).

Rapat kerja itu berlangsung di Jakarta pada Sabtu, 16 Maret 2018 hingga Minggu 17 Maret 2018. Rapat dihadiri oleh berbagai perwakilan dari serikat pekerja anggota dan perwakilan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI).

Dalam pembukaan, Presiden FSP2KI Hamdani menekankan pentingnya penguatan iuran organisasi. Dengan begitu, serikat dalam lebih maju dan mandiri. “Pendanaan bukan segalanya. Tapi, kalau tidak ada kegiatan tidak dapat berjalan,” katanya.

Ketika menjadi pemateri, Ketua Umum KPBI Ilhamsyah menceritakan kemandirian merupakan kunci untuk memajukan organisasi. Sebab, kemandirian, terutama dari pendanaan manajemen bisa membuat serikat berani berunding membela anggotanya. “0tomatis anggota akan solid, kekuatan kawan-kawan akan lebih besar, bisa memenangkan kesejahteraan.

Lebih lanjut, ia menceritakan banyak menemui buruh yang keberatan membayar iuran meski tidak sampai Rp 10 ribu. Sebab, buruh-buruh itu tidak merasakan manfaat dari organisasi. Dengan kata lain, persoalan iuran juga menjadi alat ukur keberhasilan gerak kepengurusan.

Ilhamsyah mencontohkan iuran di organisasinya, Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia. Sebanyak 70 persen anggota FBTPI membayar iuran secara rutin. “Anggota masih banyak yang dibayar di bawah ump. tapi mereka ikhlas,” sebutnya.

FBTPI memiliki tarikan iurang setahun sekali untuk uang kesekretariatan, terpisah dari iuran rutin. Selain itu, anggota yang mendapatkan uang dari kasus diwajibkan menyumbang dana juang untuk khas organisasi, bukan ke pengurus serikat secara personal.

Selain advokasi, Ilhamsyah menyebutkan kegiatan-kegiatan dari iuran akan meningkatkan kepercayaan anggota untuk terus memberikan nadi bagi gerakan buruh tersebut. “Pastikan juga kegiatan program-program aktivitas untuk menunjukan ini kongkrit. kalau dulu pendidikan setahun sekali. sekarang bisa setahun empat kali,” contohnya.

Ketua Umum KPBI itu berharap rapat kerja nasional FSP2KI mampu menghasilkan keputusan untuk memperkuat organisasi. Menurutnya, FSP2KI bahkan berpeluang membeli sekretariat sendiri jika iuran dibayarkan secara rutin. “Kalau sudah punya sekretariat, mau pendidikan setiap hari juga bisa,” tegasnya.

FSP2KI bahkan mampu menjadi pelopor pergerakan buruh di luar Jawa, terutama di Sumatera, dan Kalimantan dengan iuran yang rutin. Sebab, iuran memungkinkan serikat dengan skala nasional itu membayar pengurus untuk sepenuhnya bekerja bagi organisasi.