Pria Trans di Tengah Buruh Cakung itu Biasa Saja

Buruh di KBN Cakung (Sumber:Info KBN)

 

Buruh.co, Jakarta – Transgender ada di sekitar kita. Salah seorang pengurus Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP-KPBI), Ari Widiastari, menceritakan bertemu trans man di Kawasan Industri Berikat Nusantara (KBN) Cakung dan pemukiman sekitarnya merupakan bagian dari keseharian para buruh. FBLP merupakan federasi yang memiliki basis anggota di Cakung. Ari mengatakan kebanyakan para buruh merasa biasa saja. Meski begitu, mereka masih mendapat diskriminasi.

Kebalikan dari waria, pria trans (trans man) adalah mereka yang secara biologis terlahir sebagai perempuan tapi mengekspresikan diri sebagai gender laki-laki  atau Female-to-Male transgender (FTM). Dengan begitu, ia secara biologis tetap perempuan tetapi secara sosial mengambil peran sebagai gender laki-laki. Di sini, terjadi perlintasan gender dari secara biologis perempuan dan menjadi laki-laki yang membuatnya digolongkan sebagai transgender. Kerap pria trans bisa ditemui berambut pendek dan berpakaian seperti laki-laki seperti selalu mengenakan celana.

20 November lalu merupakan peringatan terhadap Transgender Day of Remembrance (TDOR) atau Hari bagi Transgender yang sudah meninggal. TDOR merupakan hari untuk mengingat pentingnya menghapus kebencian dan diskriminasi pada transgender.  Dalam rangka itu, buruh.co memuat tulisan tentang transgender di kalangan buruh untuk menceritakan bahwa mereka juga adalah buruh, yang berhak mendapatkan pekerjaan dan upah layak.  Berikut petikan wawancara buruh.co dengan Ari Widiastari:

Bagaimana kehadiran pria trans di kalangan buruh-buruh di KBN Cakung?

Ada, tapi kalau berapa banyaknya tidak tahu.  Memang ada buruh yang belum terbiasa, meski tidak ngomong, dari pandangan menunjukan kalau lingkungan tidak terbiasa. Dari segi fisik ia mengira laki-laki, tapi kok cantik, ke-feminin-femininan. Ada penasaran. Masih dianggap aneh.

Bagaimana diskriminasi yang mereka alami dalam lingkungan kerja?

Bully. Kalau melamar kerja, dilihatnya fisik. Temenku ada di salah satu pabrik di KBN, setiap hari yang ia ceritakan temennya, laki-laki yang kemayu. Kelucuannya, dia berlenggok, bergaya begini. Cerita ke gua. Itu menunjukan bahwa itu masih sesuatu hal yang lucu.

Bagaimana dengan pria trans?

Gue ngelamar di sini (pabrik) susah banget,” kata teman perempuan tapi merasa laki-laki, transmen. Pasti yang ditanya pertama kali, “elu laki-laki atau perempuan?”  Itu pertama kali. Jadi dia kalau ngelamar males. Yang terima lamaram pertama kan security, pasti itu.  Belum sampai ke HRD. Tidak mau melamar di pabrik, ia jualan kopi keliling.  Tidak cuman itu, leaders, kawan juga kalau belum terbiasa. Ia suka gitu. Biasanya, kadang-kadang ia punya nama asli perempuan tapi ia selalu mengganti laki-laki.

Apakah diskriminasi tersebut berpengaruh pada penialian performa kerja?

Dari segi pekerjaan, tidak pengaruh. Itu skill. Cuman ya itu, kalau di tempat umum, absensi, kadang-kadang, oh, ternyata nama lu ini. Terus nanti namanya, contohnya siti aslinya, nanti jadi bahan ledekan. Padahal, ia sudah nyaman menggunakan nama laki-laki.

Bagaimana dengan Kehidupan di kontrakan atau kos-kosan?

Kalau sesama penghuni kosan santai-santau saja. Kalau ia ada di satu kontrakan, banyak. Karena pekerja, sudah biasa ketemu di pabrik banyak berpenamplan seperti itu. Paling reseh kalau kita ngontrak di warga, yang hanay di rumah, ibu rumah tangga, yang aktivitasnya hanya ngasuh anak. Ada aja yang dibully. Masih ada beberapa kamar mandi di luar, basah rambutnya, ada aja yang dikomentarin, “Habis ngapain sih semalam, pakai acara mandi basah, temen tidurnya perempuan ini,” jadi seperti ada mimik nyinyir.

Apakah kehadiran sejumalh pria trans menimbulkan masalah bagi yang belum terbiasa?

Banyak yang dari kampung merantau. Di Kampung biasanya tidak pernah liat kondisi-kondisi  seperti itu. Ketika di Jakarta, Cakung, liat kondisi seperti itu, awalnya mungkin kaget. Syok. Ternyata dunia itu macam-macam. Pertama-tama mereka bingung, lama-lama, ketemu tiap hari, lama-lama bisa terima meski aku tidak tahu apa yang ada di dalam kepala mereka.