Pengusaha: Jika UMP Naik, Ekonomi Lebih Bergairah

masyarakat belanja- ilustrasi (sumber:bidik.co)

Buruh.co, Jakarta – Sejumlah pengusaha mengaku peningkatan Upah Minimum Provinsi bisa mendongkrak daya beli masyarakat. Dengan begitu, masyarakat akan membeli barang dan jasa yang ada di pasar dan menggairahkan ekonomi.

Direktur Utama Sogo Department Store, Handaka Santosa, sebagaimana dikutip dari Detik.com, menyebutkan kenaikan UMP sangat mempengaruhi daya beli masyarakat. “Memang ini seperti ayam dan telur, saling terkait, kalau gaji enggak naik daya beli tidak naik, kedua akan ada pengeluaran tambahan,” kata Handaka pada Rabu, 1 November 2017.

Menurutnya, penurunan daya beli mengakibatkan sejumlah tempat perbelanjaan sepi. “Menurunnya daya beli itu otomatis menurunkan animo masyarakat untuk berbelanja di pusat perbelanjaan modern,” katanya.  saat dikonfirmasi infonitas.com, Selasa (3/10/2017).

Penurunan daya beli juga ditandai dengan penurunan laba di retail atau eceran modern. Direktur Pemasaran PT Indomarco Pristama (Indomaret), Wiwiek Yusufjuga mengungkapkan laba PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) pada Januari-Juni 2017 hanya mencapai Rp 30,5 miliar. Angka itu turun drastis 71,03% dari Januari-Juni 2016 sebesar Rp 105,5 miliar.

PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga ternyata bernasib hampir serupa. Sepanjang semester I-2017 laba hanya mencapai Rp 75,5 miliar. Angka itu turun 16,38% dibanding laba bersih pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 90,37 miliar.

Bank Indonesia Benarkan Penurunan Daya Beli

Bank sentral Bank Indonesia membenarkan adanya penurunan daya beli kelompok menengah ke bawah. Bank sentral merupakan badan regulator yang mengatur peredaran uang dan kebijakan perbankan di suatu negara.

Kemerosotan ini memiliki pengaruh besar pada ekonomi nasional. “Karena menurun, sektor rumah tangga lebih hati-hati. Lebih selektif dalam konsumsi, utamanya ini terjadi untuk kelompok rumah tangga yang di bawah middle income hingga lower income. Jadi daya beli turun di situ, golongan menengah ke bawah yang melemah,” kata

Wakil Gubernur BI Perry Warjiyo dalam acara seminar National and Regional Balance Sheet: Toward an Integrated Macrofinancial System Stability, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu kemerosotan itu bagaimanapun tidak mempengaruhi kelompok kelas menengah atas. Artinya, terjadi peningkatan kesenjangan daya beli.

Ia menyebutkan jumlah uang yang disimpan di bank mengalami peningkatan sebesar 11 persen. “Makanya kalau dilihat dari dana pihak ketiga (DPK) bank naik 11% itu akan terlihat dari analisis ini kelihatan dan digabung dengan indikator makro dan sektor riil,” ujarnya.

Dari data uang beredar BI per September perolehan dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional tercatat Rp 4.992 triliun meningkat 11,1% dibandingkan periode bulan sebelumnya Rp 4.237 triliun.

(Detik.com/Liputan6.com)