Partnoy, Munir, dan Puisi untuk Presiden

Munir: Dalang pembunuhannya tak kunjung terungkap

Alicia Partnoy masihlah perempuan muda kala tubuhnya diringkus paksa oleh tentara. Di awal tahun 1977, ia baru berumur 22 tahun. Sementara situasi negerinya, Argentina, memang tak sedang landai-landai saja. Ini adalah negeri yang turut dilipat oleh “Operasi Condor”.

Kala itu Argentina tengah mendidih direbus pertikaian politik. Dan titik didih politiknya berada disekitar peristiwa kudeta militer 1976 yang disponsori CIA. Partnoy sendiri memang bukan gadis muda biasa. Ia seorang aktivis, satu dari puluhan ribu manusia yang kelak bersengketa dengan tentara.

Seperti lazimnya anak muda yang hidup di jaman dan kawasannya, Partnoy tak luput tertarik dengan segala gagasan perihal ‘pembebasan nasional’ atau frase-frase macam ‘Fuera el imperialismo!”. Ia kemudian bergabung dalam barisan muda Peronista.

Tak lama selepas kudeta, Sabtu celaka itu akhirnya datang menghampirinya. Perang Kotor Argentina yang terkenal dan tak terlupakan telah dimulai. Harinya tiba bagi perempuan muda asal Bahia untuk membayar tunai keyakinan politiknya.

Minggu kedua di bulan Januari yang kelabu, dijemput paksalah Partnoy dari kediamannya. Dia dibuat raib. Diculik oleh tim yang kondang dengan sebutan “Death Squad”. Dia mesti meninggalkan bayi 18 bulannya. Bersama orang-orang senasib, dia lantas dikirim ke kamp tahanan rahasia.

Kamp tahanan tersebut [kemudian] disebut Partnoy dan tahanan lain dengan sebutan ‘La Escuelita’ alias ‘Sekolah Kecil’. Di ‘La Escuelita’, para tahanan diinterograsi, disiksa dan dihujamkan kemanusiaannya. Satu periode gelap ini, kelak dicurahkan ke dalam novel yang ditulis Partnoy dengan judul yang sama pada tahun 1986.

Cerita dari Argentina, perihal orang hilang, penculikan, penyiksaan serta kekerasan tentara, tak kuasa menggiring ingatan kita kepada Munir. Sosok ‘Arek Malang’ yang mendedikasikan hidupnya, satu diantaranya demi membela korban kekerasan negara cum kekejian tentara.

Benar adanya, hari ini adalah hari kematiaan Munir. Kematian seorang aktivis HAM. Pria yang dihabisi nyawanya di angkasa pada usia ke 38. Kematian yang pahit, melenggang tanpa seorang dalang yang bisa dijebloskan ke penjara. Adapun pelaku lapangannya telah dilepas pada akhir Agustus ini.

Lelaki berkumis kemerah-merahan itu kini hanya bersisa sebagai tampang di poster, kaos dan stiker. Setiap tahun sebagian kalangan akan mengingatnya, memprihatininya dan mengkhidmadkannya sebagaimana Wiji Thukul atau nama lain. Biasanya, dengan gagah atau lirih dipasanglah tagar #MenolakLupa.

Di puisinya yang berjudul ‘Epitafio’, Alicia Partnoy, sendiri sempat menulis:

“Dari segala kebebasan
Kamu, mungkin memilih kematian
Dan cat air dari masa kecil kita pun memudar
menguap ke udara.

Aku akan tiba di kuburan mu
untuk meninggalkan setangkai daun pohon almond, dan puisi yang dibunuh oleh penderitaan,”

Partnoy dan korban lainnya meraih sejumput keadilan seturut rontoknya junta militer. Di Argentina mereka mengadili pelaku dan menggurat dokumen kekerasan masa silam yang bertajuk “Nunca Mas” [Jangan Lagi].

Hingga hampir tiga dekade berjalan, bahkan Alfredo Astiz, tukang jagal yang dijuluki “Malaikat Kematian Pirang” tetap diburu dan dijebloskan ke penjara. Mereka yang masih berhutang pada masa silam pasti tak akan berjalan kedepan, Argentina membayar apa yang harus dibayar.

Sementara hampir lima tahun silam, orang-orang di negeri ini memilih mantan tukang kayu untuk didudukkan di kursi kekuasaan. Tak sedikit yang kemudian jatuh dalam prasangka. Bahwa kali ini Republik memiliki presiden yang bisa dijangkau.

Presiden yang bersahaja. Dengan demikian dia akan paham, kehilangan orang yang dicintai secara tidak adil ialah rasa sakit berkepanjangan. Sehingga dia akan bekerja untuk memberikan jalan terang keadilan. Indah sekali didengar, semua harapan sebelum disobek kenyataan, selalu terasa begitu.

Sayangnya, sebagaimana prasangka buruk, prasangka baik pun tak akan berguna.
Kematian Munir, selayaknya banyak kematian lain di negeri ini, menguap ditelan waktu. Kasusnya melepuh, menjadi basa-basi politik.

Hari ini seperti waktu-waktu yang telah lewat, tak ada epitaf untuk Munir dari istana. Presiden dan pendukungnya, tidak berniat menulis apa-apa untuk Munir. Semisal menulis epitaf yang lebih dekat, jauh lebih dekat, dari sebelum-sebelumnya.

Bisa jadi dari balik tembok istana, ada kecangungan berpedar. Sehingga tak ada epitaf yang mendekatkan kekuasaan dengan korban dan mereka yang ditinggalkan, sebab dalangnya memang berdiam sedemikian dekat dengan tembok istana.

Hingga empat belas tahun Munir terbunuh, kita mungkin tak pernah lupa mengenang sosoknya. Kecuali mungkin tak pernah tau bagaimana cara menyeret dalangnya. Menyitir Partnoy,

“Presiden akan tiba di kuburan mu
untuk meninggalkan janji kosong, dan puisi yang membusuk oleh kebohongan”

**