Moralitas Lolos Wawancara Kerja: Pengakuan Buruh Kantoran

Wawancara Kerja, sumber:https://www.memekocak.my.id/

Dia punya air muka yang baik, gestur memadai dan wajah kuning langsat terawat. Di jidatnya ada pertanda, semacam kulit menghitam, kusam tapi tak merata. Orang paling tak mengenal Tuhan sekalipun bisa meraba, pria muda ini mungkin rajin bersujud. Di era sekarang, rasanya banyak gadis dan orang tua yang meminati pria jenis ini. Pandai dan shaleh, atau setidaknya pura-pura beriman.

Di ruang yang dihantam dinginnya air conditioner, bermenit-menit sudah mulutnya yang lincah itu berbicara. Menjelaskan design patterns, OOP, GitHub, operating system, bugs dan dengan menyakinkan diujung presentasi jual diri itu dia menghentak,

“Saya juga kuat di web design.”

Dia memang punya apa yang diinginkan umumnya pemberi kerja. Kapasitas teknikal dan kelihaian komunikasi. Keduanya berdiri seimbang. Jumlah commit dan tumpukan code dilengkapinya dengan kontribusi di open source. Kemampuan berkomunikasinya terbilang aman, belum menawan, namun pantas. Dia berbicara secara terstruktur, preferensi kata yang dipakai dan susunan kalimat miliknya hampir seluruhnya tepat.

Dalam perlombaan mengejar delapan digit Rupiah untuk setiap bulan upah ini, sejak awal dia harus memberikan sikutan sekeras-kerasnya kepada setidaknya selusin kandidat lain. Atau dia harus berlari kencang-kencang bila saja ini seumpama pacuan kuda. Dia wajib menjadi Black Caviar atau Secretariat, kuda-kuda pacu yang sanggup berlari hampir mendekati 100 Km per jam.

Di kantor, kami punya Dollar yang membuat liur tak sedikit mahluk menetes. Padahal, kecuali diuntungkan konversi mata uang Dunia Ketiga, take home pay yang memabukkan ini tak lebih menjulang dari angka yang diincar imigran Mexico untuk menjadi tukang kebun di New York. Banyak orang menjadi jumawa dan sekaligus dungu hanya karena warisan Bretton Woods.

Sementara di negeri ini, tahun lalu lebih separuh populasi tercatat sebagai angkatan kerja. Hampir 130 juta. Setahun sebelumnya, terdapat 1,4 juta lebih pencari kerja yang terdaftar. Dan hanya 742 ribu orang tenaga kerja yang berhasil ditempatkan. Sisanya boleh dibuang di jalanan, mengurung diri di kamar kos-kosan atau memenuhi warung kopi dalam perbincangan bodoh hingga larut malam.

Demi mendapat gaji bagus tentu kamu harus punya skill yang ciamik. Setidaknya bila kau bukan keponakan James Riady atau koneksimu tidak ada di semua kantor di kawasan SCBD. Sayangnya untuk urusan high-skilled employment share, negeri ini sangat kedodoran. Ketiga terbawah di Asia Tenggara. Untuk medium-skilled employment share, pun berada di peringkat serupa. Tak banyak ruang bagi skilled labour di Indonesia, artinya tak banyak gaji bagus tersedia. Kau harus berebutan selayaknya kawanan Heyna yang mencabik bangkai.

Pria muda ini paham benar hal itu. Maka dia harus menang. Jika dirimu ingin hidup enak, pacuan kebutuhan atau gaya hidup dimulai dari lintasan wawancara kerja yang ketat dan penuh skeptisisme. Dari sana semua bermula, belajar mengalahkan liyan untuk dapat uang. Tagihan kartu kredit, check in akhir pekan di hotel berbintang, mabuk Jack Daniels di ruang VIP karaoke, atau pergi umroh, kesemuanya butuh cuan. Jika tidak, apa yang akan kau posting di Instagram?

“Kamu kuliah tujuh tahun. Ngapain aja?”,

Saya melotot. Menatapnya tajam. Saya berniat mengintimidasi.

“Eeehh….”

Mimik mukanya sontak berubah, menjadi tak sejuk lagi. Tampak sekali kegelisahan menggerayangi tubuhnya. Dia mainkan jemari kurusnya itu beberapa detik, mengendalikan nafas yang tak lagi keluar natural, walau akhirnya dengan cepat dia berhasil mengkonsolidasi diri.

“Itu sebuah kesalahan. Anak muda tempatnya kesalahan. Saya dulu berorganisasi, Pak. Waktu saya banyak habis disana.”

Saya memilih diam, kecuali menatapinya terus. Selayaknya aktor film mobster, saya memplagiasi plot menakut-nakuti orang. Memaksa pria muda ini untuk terus bicara tanpa harus diperintahkan.

“Dulu saya punya masalah. Itu pelarian saja, Pak. Tak ada yang serius dan bagus. Tapi saya juga dapat hal yang positif kok”.

Orang pintar menyebutnya contradictio in terminis. Pernyataan yang bertentangan satu sama lain. Anak muda ini berusaha betul terlihat sempurna. Sempurna menurut presepsinya. Keterlambatan menyelesaikan kuliah mesti ditutupi dengan sangat keras. Bisa jadi dahulu dia menyukai kegiataannya itu, membuatnya berlama-lama di kampus, tapi gaji bagus membuatnya menjadi sangat kuatir. Kuatir, kalau-kalau calon majikan menilainya sebagai aib. Sayangnya hal terakhir yang pantas dipercaya dalam hidup ini, bahwa manusia tanpa cacat itu ada.

Anak muda ini jelas berkontradiksi dengan catatan masa lalunya yang terlampir di selembar ijazah. Sementara saya, lelaki yang duduk di kursi pengambil keputusan, berkontradiksi dengan masa kini. Membenci setengah mati pekerjaannya, tapi menyukai besaran gajinya. Kami berdua, hidup dalam riuhnya sirkus tenaga upahan. Keterasingan perbudakan modern kami rayakan dalam siklus nine to five yang menyebalkan. Dan manusia tentu berbeda dari benda, sebab benda tak bisa memutuskan moralitas mana yang diinginkannya. Dalam industri, kami berdua adalah benda. Komoditas. Moralitas kami adalah moralitas pasar.

***

Penulis: Saif Roja