Millenials Kanada: Yang Magang, Yang Melawan

Pemogokan Musim Dingin Quebec

Quebec tengah dibalut musim dingin kala pemogokan pekerja meletus pekan lalu. Sebagaimana diberitakan CBC News, tak kurang 55.000 pekerja magang di belahan selatan Kanada itu terlibat perlawanan. Praktek magang tanpa dibayar (unpaid internships) menjadi pangkal masalah. Pemogokan digelar sejak Senin hingga Jumat, 19 sampai 23 November, atau sepekan penuh dari skema lima hari kerja. Ribuan pekerja magang menandai aksi protes dengan membanjiri jalan. Udara beku Kanada rupanya tak cukup basah guna memadamkan bara kemarahan kaum muda.

Para pemogok merupakan millenials, mereka siswa-siswi pendidikan pasca sekolah menengah atas. Kerja magang yang mengikat anak-anak muda ini adalah bagian dari program penyelesaian pendidikan pra-universitas. Di Kanada sendiri ada sekitar 300.000 pekerja magang (55.000 di Quebec) tiap tahun. Di sisi lain, magang tidak dibayar menjadi program terkonsentrasi yang pendaftarnya didominasi kaum perempuan. Quebec tiada lain merupakan kawasan dengan populasi tertinggi tenaga kerja magang tak dibayar.

Benar bahwa pemerintah Trudeau telah meratifikasi pasal yang mengakhiri magang tanpa bayaran di bawah yurisdiksi federal. Namun regulasi masih mengijinkan penggunaan tenaga magang tanpa bayaran jika menjadi bagian dari program studi. Lubang besar aturan inilah yang menyedot ratusan ribu kaum muda dalam mesin perbudakan modern. Eksploitasi kasar ini terjadi tak lepas dari dinamika dunia pendidikan yang berjalan di Kanada.

Kebanyakan lulusan pendidikan dasar di Kanada menempuh jalur College and Technical Institute. College and Technical Institute merupakan jalur yang populer di kalangan anak muda. Sederhananya ia semacam sekolah vokasi, akademi kejuruan atau program diploma. Di tempat ini ditawarkan pendekatan “profesional” yang langsung terhubung dengan dunia kerja. Sebelum melanjutkan ke jenjang lebih tinggi banyak juga pemuda-pemudi Kanada memilih melintasi tahap ini. Transfer kredit nilai akan dipakai untuk melanjutkan ke tahap pendidikan lanjut universitas. Dan yang terpenting adalah faktor biaya kuliah. Biaya tahunannya hanya separuh atau kurang dari biaya program reguler di universitas.

Maka praktek kerja magang tanpa dibayar menjadi keseharian milenial pas-pasan di Kanada. Sistem pendidikan vokasi melekatkan kerja magang sebagai fitur utama dan bagian dari syarat kelulusan. Berharap dikemudian hari menjadi profesional harus dimulai dengan belajar sambil bekerja, tetapi karena belum sepenuhnya profesional, pantaslah jika pekerjaannya tidak dibayar, mungkin begitu dalih pembenarannya. Meski tiap kerja produksi bisa ditakar nilai ekonomis yang dihasilkan, namun dalam kasus ini semuanya raib, hingga anak-anak muda di Quebec pun murka.

Selama aksi protes para pemogok mengajukan pengakuan, kebanyakan siswa program magang diceburkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang tak sesuai dengan upaya peningkatan skill, sebagaimana klaim dari tujuan pemagangan. Pekerja magang banyak bekerja di berbagai bidang seperti keperawatan, terapi okupasi, pendidikan dan pekerjaan sosial. Pekerjaan yang mereka lakukan sama dengan pekerjaan yang dilakukan buruh biasa, tak ada beda, kecuali minus upah. Seperti kasus Anne, pelajar diploma di Western University yang kenyataannya harus bekerja 40 jam seminggu.

Pemogokan musim dingin dari para pelajar salah satunya diinisiasi oleh komite pekerja pelajar yang biasa disebut CUTE. Mereka menuntut penghentian tenaga magang tanpa bayaran, penerapan standar hukum perburuhan pada tenaga magang dan memastikan pelajar dilindungi dari pelecehan, penyerangan atau kecelakaan di tempat kerja. Jacqueline Ohayon dari Asosiasi Pelajar Pekerja Sosial Universitas McGill menyatakan sistem kerja magang turut melegitimasi peminggiran gender, melihat dominannya kaum perempuan yang mengisi program tersebut.

Kapitalisme terus menerus lapar atas nilai lebih (surplus value) dari kerja buruh. Kapitalis selalu berusaha mencari 1001 cara demi menggendutkan perutnya, yang sialnya tak mengenal kata kenyang itu. Sistem magang yang manipulatif adalah satu cara paling tak tau malu dari deretan teknik penghisapan nilai lebih. Di Kanada telah lama muncul polemik apakah sistem pemagangan adalah bagian dari upaya mendorong pengalaman kerja dan peningkatan skill atau justru penyediaan lapak bagi tenaga buruh gratisan (free labour).

Sementara di sini, Hanif Dhakiri, buru-buru menutup perdebatan dengan stempel katrok (norak) ke serikat buruh yang coba mengkritisi Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 36 Tahun 2016 Tentang Penyelenggaraan Pemagangan Dalam Negeri. Ketika praktek di lapangan kemudian hari menemukan bukti bahwa kerja magang dipakai untuk menyediakan tenaga murah, kita pun pada akhirnya insaf. Peraturan tersebut tak lebih hanyalah hadiah Bapak Menteri demi menunjukkan darma baktinya kepada tuan modal. Oleh karenanya tidak bisa tidak, kita harus sekalilagi mengudarakan pekik berlawan. Dimana tenaga magang diperas, disanalah Quebec-Quebec baru bermunculan. Di Quebec, puluhan ribu millenials menyobek topeng pemagangan demi menunjukkan wajah asli pemerasan.