Menjadi Pekerja Perpustakaan, Menyebarkan Gagasan Perempuan

Pekerja Perpustakaan

*Alea Pratiwi- www.Konde.co

Di sebuah diskusi tentang teknologi yang saya ikuti beberapa waktu lalu, banyak pekerja perpustakaan atau pekerja library yang datang karena topiknya memang merupakan topik yang menarik, yaitu bagaimana peran para pekerja perpustakaan di era digital.

Dalam diskusi ini, kemudian banyak yang melakukan sharing pengalaman bagaimana pekerja perpustakaan adalah sebuah subyek yang berubah. Selama ini pekerja perpustakaan selalu identik dengan orang yang berada di balik layar. Teman perempuan saya juga mengalami hal ini. Mereka hanya dibutuhkan ketika ada orang yang mencari riset sebagai bahan sekunder. Mereka juga dibutuhkan untuk membantu melihat buku, mencari dan merapikan buku. Padahal, bukan itu.

Sudah seharusnya para pekerja library harus menjadi subyek yang menyebarkan pengetahuan baru ke dunia digital secara lebih cepat.

Penyebaran adalah merupakan kerja-kerja penting di jaman sekarang. Bagaimana informasi tidak hanya dimiliki oleh satu orang, namun bagaimana informasi kemudian disebarkan dan dibaca oleh banyak orang.

Karena internet selalu tergantung pada massanya. Artinya masyarakat adalah sumber primer sebagai subyek yang menerima penyebaran, kemudian mendiskusikannya dan berdebat soal buku. Disinilah pentingnya pekerja library.

Saya membayangkan, bagaimana jika buku-buku penting tentang sejarah perempuan tidak disebarkan atau tidak bisa diakses oleh para siswa dan para mahasiswa. Maka, perempuan akan selalu menjadi sejarah yang salah, sejarah kalah.

Para feminis menyebutkan bahwa pekerja library mempunyai peran yang penting, karena ia tidak hanya menjadi bagian dari sebuah penelitian besar, namun ikut menyebarkannya. Ia menyebarkan sejarah hidup perempuan. Dan sejarah hidup ini memainkan peran yang sangat penting dalam produksi pengetahuan perempuan karena ini berhubungan dengan hidup perempuan, ketertinggalan, penindasan yang dialami perempuan.

Gagasan-gagasan penting ini tidak hanya harus disebarkan oleh penulisnya, namun seorang pekerja library adalah penyebar lebih meluas gagasan-gagasan ini. Agar pengalaman perempuan terbaca oleh semua orang. Inilah hal penting yang harus dilakukan, menyebarkan pengetahuan perempuan, sehingga bahasa yang digunakan adalah bukan bahasa maskulinitas, namun bahasa perempuan menjadi bahan penting untuk mendekonstruksi bahasa-bahasa maskulin.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay.com)

*Alea Pratiwi, Pembaca Buku di Library.