Mengenang Intifada Kedua: Api Rakyat Palestina

Marwan Barghouti

Tak banyak lelaki yang bisa sedemikian kokoh hingga uzur. Tahun lalu ketika Marwan Barghouti memimpin pemogokan massal 1500 tahanan Israel, usianya telah merangkak ke arah senja seorang pria, 58 tahun.

“Kebebasan dan hidup yang bermartabat ialah hak universal yang melekat dalam kemanusiaan, dinikmati oleh semua bangsa dan manusia. Tidak terkecuali warga Palestina.”, tulis Marwan Barghouti di pernyataan sikap mogok makannya.

“Saya baru berumur 15 tahun saat pertama kali dipenjara. Saya hampir 18 tahun ketika penyidik Israel memaksa saya mengangkang telanjang bulat di ruang interogasi, sebelum dia memukul kemaluan saya.”

“Saya pingsan karena kesakitan. Penyidik menghina saya, mengatakan saya tidak akan pernah punya anak karena orang-orang seperti kami hanya akan melahirkan teroris dan pembunuh.”

Sementara kala ayahnya dijebloskan ke penjara, Arab Barghouti, seorang putera Marwan, masih seusia bocah. Di muka televisi dia mengucurkan air mata, mendapati gambar ayahnya dicokok otoritas Israel.

Itu adalah tahun 2002, tahun dimana pembangkangan rakyat Palestina tengah mengalami pasang naik. Ombak pemberontakan paling deras pasca periode 1987. Sebuah peristiwa kolosal yang dikenal dunia sebagai Intifada Kedua.

Arab sendiri tak berpikir momen buruk itu akan berlangsung lama. Tak mengira hukuman yang ditimpakan ke ayahnya begitu panjang. Kurang delapan bulan selepas penangkapan, bersama kakaknya untuk kali pertama dia pergi membesuk.

“Kami melewati 20 pintu. Ayah sedang dalam isolasi, dan ketika kami tiba, dua sipir menjaga dia di sisinya dan di sisi kami, dan ada banyak kamera di sekitar kami.”

Arab Barghouti mengingatnya,

“Saya suka cara dia memperkuat dan menghibur kami. Dia tak ingin menunjukkan tanda-tanda kelemahan. Saya sudah tahu berbagai jenis interogasi dan penyiksaan yang dia lalui, tetapi seperti biasa, senyuman itu tidak pernah meninggalkannya.”

Tiga belas tahun semenjak ayahnya dibui, Arab kembali pergi ke penjara,

“Saya melihat rambut putih yang tiba-tiba muncul di janggutnya, dan dia juga memiliki lebih banyak rambut putih di kepalanya. Saya melihat mata merah. Jujur, saya melihat dia semakin tua.”

“Semua orang berpikir kunjungan ini akan menguatkan dia, tetapi justru dialah yang menguatkan kami. Pria itu sungguh luar biasa. Dia bisa memberi harapan dan kekuatan kepada seluruh orang.”

Orang-orang di seputar peristiwa pembangkangan itu akan mengingatnya hingga sanubari terdalam sebagai simbol Intifada Kedua. Marwan Barghouti. Pria yang berbicara sangat keras, menyaringkan semangat berlawan hingga menembus tulang sumsum. Seorang pria sejati.

Intifada sendiri, -meminjam istilah Ramzy Baroud-, selalu dimengerti sebagai
momen kehormatan bersama, dan kesempatan lain untuk berharap. Populasi tanah jajahan bangkit menolak kontrol apapun atas perkembangan ekonomi, sosial dan politik mereka.

Di pembuka abad 21, situasi politik tanah jajahan memang tengah menuju titik didih. Pembicaraan Camp David buntu, Arafat yang kerajingan diplomasi tak berhasil memperoleh jabat tangan. Sharon melakukan provokasi di Al Aqsa, tak jauh dari hari peringatan Sabra dan Shatila.

Rakyat Palestina murka. Dimulai 28 September, badai kemarahan menyapu keseluruhan negeri. Seperti dituturkan Amos Malka, direktur intelijen militer, badai ini tak sanggup dikisutkan bahkan ketika hari-hari awal permberontakan sekitar 1,3 juta peluru ditembakkan.

Sebulan Intifada Kedua berlangsung, dunia diberi pelajaran ulang perihal: apa itu arti perjuangan kemerdekaan. Faris Ouda bocah 14 tahun berdiri seorang diri dengan tangan cilik mengenggam batu. Dia menghadang tank baja Israel.

Perlawanan Faris Ouda

Foto Ouda yang heroik itu lantas menjadi buah bibir. Dunia dipaksa membuka mata lewat aksi seorang bocah kecil bernyali raksasa. Kurang dari sebulan berselang, 8 November 2000, Faris Ouda terbunuh. Bocah asal Gaza ini ditembak dilehernya oleh serdadu IDF. Hati nurani dunia seketika patah.

Saat kunjungan khusus ke sekolah Ouda, Yasser Arafat pemimpin Otoritas Palestina berujar,

“Kami bangga kepada kalian, yang telah mempersembahkan ketabahan dan pengorbanan dari rekan kalian, pahlawan serta martir, Faris Ouda!”

Intifada Kedua berlangsung hingga sekurangnya lima tahun. Terutama diseputar operasi militer Israel di bulan Desember, ribuan nyawa telah melayang. Korban yang berjatuhan seolah menjadi deklarasi demi menyatakan tak ada pengorbanan yang kelewat batas guna mengenyahkan penjajahan.

Kini, delapan belas tahun telah berlalu, sejak batu pertama dilemparkan ke udara menghujam serdadu penjajah. Keteguhan rakyat Palestina terkait ingatan kolektif mereka, hampir tidak ada tandingannya. Mahmoud Darwis, sastrawan besar Palestina, menulis dalam sajaknya,

Kami rayakan kehidupan sesering mungkin.
Kami menari dan melempari menara atau menanam pohon-pohon palma yang menumbuhkan warna jingga diantara sepasang martir.

Intifada, sebentuk cara “merayakan” kehidupan di bawah syarat-syarat penjajahan. Batu menjadi bunganya, pekik berlawan serupa hymne nya. Penjajah tak pernah belajar dari sejarah, rakyat Palestina telah menawarkan ratusan pemimpin dan ribuan pejuangnya, untuk tidak berlutut menyerah. Sampai kemerdekaan datang.

****