Membangun Koperasi Adalah Membangun Kemandirian

Peringatan Ultah ke-3 Koperasi Sejahtera pada Minggu, 10 September 2017

Bagi Buruh Perempuan, membangun Koperasi adalah salah satu upaya membangun kemandirian. Banyak buruh perempuan di KBN Cakung terjerat hutang rentenir yang berkedok sebagai koperasi. Sadar atau tidak, mereka rela menyerahkan ATM, Ijazah, akta kelahiran, sampai Kartu Keluarga atau Buku Nikah, demi mendapatkan pinjaman yang besar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Hal ini terjadi karena ada banyak faktor, antara lain karena nilai upah yang kecil, biaya hidup yang tinggi, juga karena ketidaksanggupan membedakan mana kebutuhan dan keinginan.

Situasi ini yang mendorong sebagian buruh perempuan ex-PT Makalot mendirikan koperasi tiga tahun lalu. Berbekal peangon PHK, mereka sama-sama membentuk sebuah wadah ekonomi kolektif tersebut. Tujuan utama koperasi ini adalah memerangi renternir. Di KBN Cakung, Jakarta Utara, renternir bergentayangan mencari buruh untuk menawarkan pinjaman dengan bunga mencekik hingga 50 persen.

Menurut perkiraan FBLP, sekitar 30-40% buruh perempuan di KBN Cakung yang terjerat rentenir, para rentenir ini bergerak melalui makelar atau agen, yang mana agen ini tersebar di berbagai pabrik, bahkan masuk sampai ke lini terkecil, yaitu Line (bagian) di dalam pabrik.

Alhasil kawan menjadi tega terhadap kawan sendiri demi mendapatkan keuntungan. Perkawanan jadi makin luntur, empati merosot. Yang muncul adalah individualistis, menyelamatkan diri sendiri.

Selain untuk berperang terhadap rentenir, koperasi juga memberikan penyadaran kepada anggota tentang pengelolaan keuangan diri dan keluarga. Anggota koperasi mendapatkan pendidikan pengelolaan secara rutin.

Berhutang sesuai kebutuhan, kemampuan dan keamanan anggaran di kantong, adalah masih hal sulit bagi buruh perempuan, tapi koperasi sejahtera berusaha menguatkan situasi. Koperasi Sejahtera menawarkan bantuan utang dengan bunga lunak. Anggota juga didorong untuk menggunakan uang pinjaman secara produktif untuk berusaha.

Jadi 3 tahun koperasi tidaklah mudah. Ditengah besarnya kebutuhan dan kecilnya upah. Budaya utang serampangan masih kuat, juga di pemerintah. Juli 2017, utang Indonesia sebesar Rp 3.780 trilyun. Dibagi 250 juta penduduk (dari bayi hingga jompo) masing-masing menanggung utang negara 12 juta120 rb (Rp 12.120.000).

Terkait hal itu, yang bisa kita lakukan sebagai Serikat Buruh adalah :
1). Memberikan pendidikan kepada anggota (bahkan buruh secara umum) tentang pentingnya memahami pengelolaan ekononi diri dan keluarga, termasuk pengetahuan lain tentang ekonomi mandiri.
2). Mendirikan Koperasi, baik koperasi simpan pinjam maupun koperasi sembako.
3). Tetap melibatkan sebanyak mungkin buruh untuk berjuang atas upah. Karena meskipun setiap tahun upah mengalami kenaikan, tapi secara reel, nilai upah tidaklah meningkat.
4). Berjejaring dengan berbagai kelompok gerakan, baik dalam aspek kampanye, penyadaran maupun advokasi.

Koperasi Sejahtera FBLP,
Koperasi Buruh untuk Kemandirian.

Jumisih- ketua FBLP
Dian Septi – Sekjend FBLP

Ketua Umum FBLP Jumisih (Tengah) pada perayaan ultah 3 tahun koperasi