Mayday : Perlawanan, kemenangan dan persatuan.

Sekjend FPBI Sukanthi

Hari Buruh Internasional tanggal 1 Mei yang disebut sebagai May Day merupakan hari bersejarah bagi kelas buruh dunia dan menjadi pelajaran sejarah perjuangan yang penting bagi rakyat karenanya tidak ada pengecualian satupun buruh di banyak Negara di belahan dunia ini yang tidak bisa menikmati hasil perjuangaan tersebut. Sampai sekarangpun hasil itu tetap kita nikmati. Akan tetapi tidak demikian adanya, tidak semua klas buruh di banyak Negara yang memperingati dan meneruskan nilai-nilai perjuangan May Day. Padahal, sangat disadari bahwa kondisi klas buruh dunia saat ini masih jauh dari cita-cita kesejahteraan sebagaimmana yang diharapkan bersama.

Perjuangan menuntut perbaikan hidup di awal-awal kekuasaan para pemilik modal menjadi keharusan untuk dilakukan jika tidak mau bertahan dalam hukum kebinatangan. Situasi kelas buruh yang terus memburuk di satu sisi dan kepentingan ekspansi dan akumulasi di sisi yang lain menjadi sebab musabab lahirnya perlawanan rakyat, tidak perduli dengan segala ancaman tidak diupah, ancaman diputus pekerjaan, ancaman kekerasan negara dan lain sebagainya. Proses perjuangan perbaikan hidup dengan menuntut pengurangan waktu kerja-8 jam kerja, 8 jam sosial, 8 jam istrahat atau yang di sebut gerakan tiga delapan (38), tidk berjalan mulus tanpa hambatan, tapi sebaliknya mendapatkan balasan dengan cara barbar, lagi-lagi klas buruh menjadi korban.

Rentetan perjuangan panjang tersebut satu sisi menimbulkan korban jiwa (massa buruh), di sisi yang lain menghasilkan buah kemenangan yaitu terbentuknya persatuan antar sesama klas buruh dalam satu negara dan lintas negara. Buah persatuan itu pun menghasilkan kemenangan massa rakyat di seluruh dunia yaitu ditetapkannya jam kerja menjadi 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk bersosial dan 8 jam untuk istrahat dan 1 mei ditetapkan sebagai hari buruh sedunia. Maka hasil ini lah yang akhirnya dinikmati oleh buruh dimanapun sampai saat ini termasuk kita di Indonesia. Sekali lagi hasil itu buah dari perjuangan bukan dari kebaikan sang pemilik modal dan penguasa.

Patut menjadi perhatian untuk menjadi catatan dari sejarah perlawanan dan buah kemenangannya adalah pertama; pada masa itu, tidak bisa dihindari di mana kapitalime terus berusaha membesarkan, dan menguatkan dirinya untuk menjadi sang penguasa dunia dengan cara melakukan eksploitasi manusia dan alam demi akumulasi modal sebesar-besarnya. Watak ini sudah melekat dalam dirinya sebagai bawaan lahir karenanya kapitalisme tidak akan hidup tanpa eksploitasi, ekspansi dan akumulasi.

Kedua; atas pemenuhan kepentingan para pemilik modal melahirkan situasi yang berbanding terbalik-kemakmuran bagi sang pemilik dan penderitaan bagi sang penghasil kekayaan (massa buruh). Ketiga; dua hal di atas melahirkan perlawanan dan peredaman disisi yang lain (tidak ada jalan tengah). Maka terang bahwa terdapat pertentangan (buruh dengan pemilik modal) yang melekat di tubuh kapitalisme, hukum ini akan berlaku selama kapitalisme ada.

Kenyataan obyektif terus memberikan kita penerangan bahwa kapitalisme bukan lah akhir dari sejarah. Sebaliknya sejarah kapitalisme terus ditandai dengan krisis-krisis dalam tubuhnya, kapitalisme dalam sejarahnya gagal menjadi jalan keluar bagi kesejahteraan massa rakyat. Krisis dan kegagalan-kegagalan tersebut lah yang terus melahirkan gejolak perlawanan massa rakyat di belahan dunia termasuk di Indonesia. Dari awal berdirinya sampai tahapan tertingginya kapitalisme tidak mampu menyembuhkan dirinya apalagi menghilangkan penyakitnya Karenanya sang pemilik modal terus memperbaharuai diri dan perkakasnya untuk mencoba keluar dari krisis, tapi tidak lebih hanya sebagai obat penenang sekaligus penghibur sementara.

Sebagaimana kita melihat dalam negeri saat ini, para pemodal (dalam dan luar negeri) berusaha tanpa henti menyimpan borok mereka lalu bersembuyi dibalik kekuasaan politik-eskutif, legislatif, yudikatif sama saja, Negara dijadikan banper alias tameng untuk kepentingan mereka. Selanjutnya atas nama kepentingan Negara, kepentingan public blabla.memaksakan kehendak dengan segala program-programnya demi kemaslahatan segelintir orang para pemilik pemodal.

Program liberalisasi lewat pembentukan World Trade Organitation (WTO), UE, RCEP, MEA, TPP, UCEPA dll. Selain itu disektor keuangan ada World Bank, IMF, ADB dll. Kesemuanya itu untuk mengoalkan mega proyek pasar bebas (FTA) yaitu memberikan kebebasan tanpa proteksi, tanpa pajak dan hambataan lainnya bagi modal untuk keluar masuk sesuka hatinya.

Perempuan petani merupakan yang paling terdampak dari pembangunan pabrik semen.

Mega proyek tersebut selanjutnya termanifestasikan dalam politik kekuasaan Negara dalam berbagai program seperti; MP3EI, Paket kebijkan jilid I-XIII, deregulasi, pencabutan subsidi, penghilangan proteksi, dll. Sampai cara cara primitive dengan cara penggusuran dan perampasan tanah rakyat secara paksa. Sementara para elit politik yang bersarang di berbagai lembaga Negara masih sibuk berebut kue-kue kekuasaan, memakan uang rakyat dan tindakan amoral lainnya.

Akibatnya rakyat yang seharusnya menjad titik pangkal (Subyek) orientasi pembangunan kesejahteraan justru menjadi obyek pembangunan. Paket kebijakan politik berpangkal pada perlindungan para investor baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Maka tidak mengherankan kita menemukan pencabutan subsidi disektor public yang memicu kenaikan harga-harga termasuk kenaikan biaya pendidikan, praktik labour market fleksibilty (LMF) yang menyebabkan PHK sepihak di mana-mana dan meningkatnya penggunaan tenagakerja berstatus kontrak&outsoursing, harian, borongan tanpa kepastian, kita menemukan politik upah murah yang menyebabkan penurunan daya beli, lahirnya peraturan yang memberikan kemudahan bagi eksploitasi hutan, tambang sehingga semakin mempermudah investor menguasai laha-lahan produktif rakyat.

Situasi ekonomi dan politik yang berkembang kenyataannya tidak memberikan harapan banyak untuk perbaikan hidup karenanya tidak mengherankan juga di mana-mana di berbagai sector terjadi aksi-aksi massa menuntut perbaikan penghidupan dan pekerjaan yang layak. Mahasiswa menuntut pendidikan gratis, petani menuntut reforma agraria sejati dan melawan perampasan tanah, pemuda, kaum miskin kota menuntut pekerjaan yang layak untuk kehidupan dan buruh menuntut perbaikan upah, menuntut kepastian kerja, menuntut system kerja yang manusiawi singkatnya rakyat menuntut keadilan dan kesejahteraan.

Aksi-aksi tuntutan di berbagai sector menjadi cermin keadaan massa rakyat bahwa sesungguhnya cita-cita kesejahteraan masih jauh dari pengharapan, sebagai cermin kekayaan yang dimiliki bangsa ini hanya dinikmati oleh segelintir orang, artinya kepemilikan individu atas sumber-sumber produktif untuk peradaban manusia bukan jawaban atas kemajuan peradaban itu sendiri.
Disamping itu juga banyaknya perlawanan-perlawanan yang muncul merupakan bukti nyata bahwa perlawanan sebelumnya masih terus harus dilanjutkan sebagai konsekuensi logis dari hukum kontradiksi dalam tubuh kapitalisme. Begitu juga sebaliknya atas aksi-aksi tersebut bergaris lurus dengan reaksi-reaksi para penguasa, dari cara paling halus sampai cara yang paling kasar seperti; mencoba menutup rapat ruang-ruang demokrasi dan demokrasi hanya menjadi milik segelintir pemilik kekuasaan karenanya demokrasi yang berlaku adalah demokrasi liberal yang bersandarkan pada hukum pasar.

Sejarah panjang perlawanan rakyat akan tetap terdapat catatan perlawanan balik penguasa (aksi-reaksi) di dalamnya, yang berarti juga terdapat kemenangan-kemenangan kecil dan juga kekalahan-kekalahan massa rakyat akibat dari pukulan balik penguasa. Hal ini sangat jelas terlihat bahkan kita rasakan langsung, misalnya tuntutan yang masih normative seperti upah, kepastian kerja dibalas dengan PHK, dibalas dengan kriminalisasi, divonis makar sampai politik adu domba buruh dibenturkan antar sesama buruh dan rakyat dibenturkan dengan buruh, begitu juga petani, mahasiswa dan setiap rakyat yang melawan.
Demikian lah situasi kita saat ini, mau tidak mau, suka tidak suka dua sisi kepentingan yang berbeda itu akan selalu ada selama kekuasaan modal itu ada-kekayaan bagi sang penguasa dan kemiskinan bagi sang penghasil kekayaan (massa rakyat).

Bagaimana (kita) selnjutnya?
Sangat disadari betul bahwa situasi yang ada tidak menguntungkan massa hanya menjadi korban, disamping itu massa rakyat dari berbagai sector muncul aksi-aksi menuntut kesejahteraan, tentu saja hal ini menjadi lahan subur tumbuhnya persatuan luas untuk bersama-sama menggabungkan kekuatan sehingga menjadi energy perlawanan yang besar, mulai dari bersama dalam tuntutan normative, selanjutnya berkembang menuju tindakan politik bersama.

Akan tetapi sangat disadari juga bahwa persatuan massa rakyat belum lah tumbuh subur sebagaimana seharusnya, karena hal ini sudah menjadi rahasia umum bahwa ditubuh gerakan massa rakyat masih terpolarisasi alias terpecah dan menjadi gerakan yang parsial antar sector yang satu dengan sector yang lainnya.
Polarisasi gerakan massa terjadi tentu saja tidak bisa kita sederhanakan atau generalisasi karena persoalan ego (paling benar yang lain salah, paling besar yang lain kecil) atau eksistensi semata. Sehingga menjawab situasi ini tentu saja butuh proses melalui tukar pikiran dan pengalaman antar sesama gerakan massa.
Menjadi sangat tepat dalam moment mayday sebagai moment bersejarah bagi gerakan massa rakyat untuk memulai membangun persatuan luas ditengah gerakan massa yang terus berlawan. Moment ini harapannya mampu mempersatukan energy berlawaan massa sebagai emberio kekuatan gerakan massa yang memiliki arah perjuangan politik selanjutnya.

Dalam menentukan arah politik gerakan massa selanjutnya tentu saja butuh waktu karena sifatnya berbeda dengan perjuangan normative, artinya tidak bisa kita sederhanakan dengan berkata yang penting bersatu dulu, sehingga atas dasar itu setidaknya perlu bagi kita untuk;

Pertama; Di internal kita terus melakukan konsolidasi-konsolidasi untuk melakukan input pandangan mengenai politik gerakan massa kedepan sekaligus sebagai upaya penguatan dan bentuk partisipasi politik massa anggota.
Kedua; Penyamaan pandangan dalam konsep bentuk dan isi arah perjuangan politik kedepan dengan sector/gerakan lainnya, sehingga terdapat mekanisme dan prinsip-prinsip politik sebagai pijakan dan batasan dalam melakukan tindakan-tindakan politik kedepan.

Mungkin semua kita bersepakat bahwa moment May Day (2017) tidak boleh menjadi sekedar seremonial atau rutinitas setiap tahun apalagi sekedar menggugurkan kewajiban biar tidak dibilang serikat buruh katro lah..bla.bla.bla . akan tetapi lebih dari itu moment May Day menjadi peluang bagi gerakan massa untuk kembali menyampaikan bahwa massa rakyat disemua sector menginginkan keadilan dan kesejahteraan. Selain itu menjadi penting untuk duduk bersama berdiskusi dengan gerakan massa yang lain menyamakan konsepsi tentang arah politik gerakan massa di masa yang akan datang.

*penulis singkat; Sukanti.

rapat akbar menjelang Konfrensi FPBI cab. Bekasi Ke II