Mahasiswa Hukum Ini Gabung di Pendidikan Dasar Serikat Buruh

Mahasiswa Hukum Jentera Muhammad Adhar Nasir di tengah buruh dalam pendidikan dasar SERBUK

Ada pemandangan tak biasa dalam pendidikan dasar Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Indonesia pada Sabtu, 3 Februari 2018 di Karawang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa hukum, Muhammad Adhar Nasir, ikut nimbrung bersama buruh-buruh anggota SERBUK.

Pria yang biasa dipanggil Dahar itu, masih mengenyam pendidikan mahasiswa Fakultas Hukum pada Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera. Ia mengaku ingin belajar soal perburuhan karena memiliki pengalaman pribadi bersentuhan dengan buruh migran.

Di Nunukan, Kalimantan Utara, Dahar tumbuh di tengah lingkungan buruh migran.  Dahar bercerita bahwa Nunukan (tempat asalnya) adalah daerah yang identik dengan buruh migran; kampungnya langsung berbatasan dengan Malaysia. Menurutnya, ada ironi yang setiap hari dilihat pada aktivitas masyarakat Nunukan. “Masyarakat lebih bangga menyebut dirinya sebagai bagian dari Malaysia,” ceritanya.

Dahar menceritakan tempat asalnya sebagai pintu masuk dan pintu keluar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke negeri Jiran itu. Banyak yang masuk ke Malaysia dengan mudah, tapi juga dideportasi dengan mudah. “Ini semacam pintu ajaibnya doraemon, dari dunia penuh masalah menuju dunia yang seolah-olah bersahabat, padahal kondisi sebenarnya penuh resiko,” keluh Dahar. Buruh-buruh migran itu seolah bersabung nyawa menyeberang ke Malaysia karena ketiadaan lapangan kerja di kampung asalnya.

Dahar mengatakan, ia bergabung dengan pendidikan dasar SERBUK untuk lebih memahami persoalan buruh langsung dari sumbernya. “Saya ingin belajar tentang perburuhan, memahami dinamikanya, memahami sejarahnya, dan tentu saja memahami perjuangannya,” tutur Dahar ketika ditanya tentang motivasinya mengikuti pendidikan keserikatburuhan.

Lebih lanjuut Dahar bercerita tentang pengalamannya selama 6 bulan berkuliah di STHI Jentera., sekolah hukum yang menggerakan pembaruan dan menembus kesemrawutan hukum di Indonesia. Dahar mengeluhkan kondisi hukum Indonesia yang jalan di tempat dan cenderung mundur pelan-pelan. Semakin hari semakin banyak penyimpangan yang mengindikasikan hukum menjadi kuda tunggangan penguasa dan pemodal. “Hukum bisa dipesan, dibeli, dan ditransaksikan dengan harga yang murah. Nasib rakyat dipertaruhkan dengan semaunya,” gugat Dahar.

Selama belajar hukum di Jentera, Dahar akhirnya menemukan sedikit demi sedikit jawaban terkait terpuruknya kondisi hukum. Masyarakat berjalan dalam situasi yang buruk, ada hukum tapi tak berpihak. “Akhir tahun lalu, saya mengerjakan sebuah penelitian terkait buruh anak pada sektor transportasi di Jakarta. Saya menemukan kondisi kerja yang buruk pada buruh anak tersebut. Kerja sampai 16 jam, berbahaya, pendapatan jauh di bawah Upah Minimum Propinsi, tanpa jaminan sosial, dan harus berhadapan dengan ancaman nyawa di jalan raya,” cerita Dahar. Selama mengerjakan penelitian itu, Dahar harus melakukan observasi lapangan, ketemu para calo jalanan, menunggu berjam-jam anak untuk melakukan wawancara, dan kadang harus ikut berkeliling mengikuti trayek mereka. “Upah mereka hanya 30 ribu, setoran harus 200 ribu, bensin beli sendiri, dan kalau kena tilang harus beresin sendiri,” lanjut Dahar.

Selama dua hari, Dahar ikut menjadi peserta dalam pendidikan Dasar-dasar Serikat Buruh di Karawang. Motivasinya semakin terasah ketika terlibat dalam berbagai sesi pelatihan. Menurutnya, buruh-buruh itu manusia hebat. Bekerja siang malam, tenaganya diperas, tapi punya keinginan kuat untuk berjuang melalui serikat buruh. Kedisiplinan mereka di tempat kerja dan kedisiplinan mereka dalam berserikat menjadi sebuah catatan bagi Dahar. “Saya harus menyampaikan rasa hormat yang teramat dalam untuk mereka. Berjuang dengan gigih, bekerja dengan disiplin, dan tak kenal lelah mengadakan perubahan. Sungguh beuntung saya bisa belajar dari para buruh pabrik ini,” ungkap Dahar.

Maju terus Dahar, teruslah belajar dalam kampus kehidupan bersama buruh!