KRONIK PENDIDIKAN SERBUK: PENDIDIKAN BASIS YANG MENGUATKAN DAN MENCERAHKAN

Pendidikan Dasar Keserikatburuhan bersama dengan Buruh Outsourcing PLN

 

Sepanjang akhir pekan lalu, Federasi Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Indonesia melalui hari-hari yang panjang bersama basis. Setidaknya ada enam aktivitas pendidikan yang digelar di berbagai tempat dengan melibatkan beberapa basis anggota. “Pendidikan yang rutin merupakan kunci untuk menguatkan basis anggota,” ujar Staff Departemen Pendidikan dan Bahan Bacaan Happy Widiamoko di Yogyakarta.

Bersama Ketua Departemen Pengembangan Organisasi Cahya Hermawan, Happy menggelar pendidikan mengenai dasar-dasar keserikatburuhan bersama para buruh outsourcing PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN) di Solo, Jawa Tengah. Pendidikan ini diikuti oleh lintas spengurus dari tujuh rayon yang ada di Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, Palur, Kutoharjo, Grogol, dan Karanganyar. “Pendidikan dasar-dasar serikat buruh diberikan sebagai pondasi bagi pengurus untuk memahami fungsi, peran, dan tujuan besar dalam berserikat,” tutur Cahya Hermawan. Menurutnya, bekal yang cukup mengenai pemahaman keserikatburuhan akan mendorong pengurus terus melakukan upaya serikat untuk menggerakan anggotanya.

Selain di Solo, Pendidikan juga dilaksanakan di Karawang, Jawa Barat. Staff Departemen Hukum. Advokasi, dan Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Yanto Sugiyanto menjelaskan pelaksanaan Pendidikan yang dibagi dalam beberapa pertemuan. Pembagian itu didasarkan pada basis Serikat Buruh Anggota (SBA) dan juga penanganan kasus yang dialami oleh anggota. “Diskusi dengan basis SBA Metal Art dan Mory Industry dilakukan untuk merespon permasalahan perjuangan status hubungan kerja, sementara dengan Basis Meiji membahas permasalahan ancaman union busting,” ujar Yanto. Menurut Yanto, pola pendidikan yang dilaksanakan di SERBUK didasarkan pada dua model. Pertama pendidikan yang sudah diprogramkan oleh SERBUK dengah materi-materi pilihan. Kedua, sesuai permintaan basis di pabrik-pabrik yang didasarkan pada kebutuhan mendesak mereka.

Sementara, Staff Departemen Pengembangan Organisasi Husain Maulana menceritakan proses pendidikan bersama anggota di basis Serikat Buruh Konstruksi Indonesia yang berlokasi di Gunung Kidul. Husain menemui anggota di Gunung Kidul dalam proses pertemuan dengan Dinas Tenaga Kerja di Gunung Kidul untul proses pencatatan pembentukan serikat buruh. “Bersamaan dengan proses pencatatan, kita melakukan pertemuan dan konsolidasi dengan anggota, tujuannya untuk mengajak mereka berpartisipasi dalam aktivitas serikat,” cerita Husain. Menurut Husain, kondisi buruh konstruksi yang tersebar di berbagai proyek infrastruktur membuat SERBUK mensiasati kondisi dengan pendidikan yang berbeda. “Pendidikan bisa dilakukan di rumah ketika mereka tidak bekerja atau dengan menggelar pertemuan-pertemuan kecil di lokasi kerja,”lanjut Husain.

Terkait dengan program Pendidikan dasar, Sekretaris Jenderal SERBUK Khamid Istakhori Indonesia menjelaskan bahwa selain sebagai alat perjuangan, serikat adalah wadah belajar bagi para anggotanya. “Belajar apapun, tidak melulu belajar ketenagakerjaan. Para anggota bisa menggunakan serikat untuk menonton film, membuat kegiatan diskusi, membuat pengajian, belajar bahasa Ingris, belajar komputer, dan lain-lain,” jelas Khamid.

Menurut Khamid, di beberapa tempat, kantor serikat terkadang dipergunakan untuk kegiatan keluarga, seperti silaturahmi antar keluarga anggota serikat. Ada pula anggota serikat yang menggunakan kantor serikat untuk acara pernikahan. Justru dengan cara demikianlah, slogan bahwa serikat memperjuangkan anggota dan keluarganya semakin terasa. Dengan demikian, perjuangan serikat untuk keluarga bukan hanya demonstrasi dan rapat.

Untuk menggerakkan program pendidikan di serikat basis, menurut Khamid, pengurus di level pabrik dapat mengajukan kegiatan kepada pengurus dan itu merupakan adalah hak anggota. Mereka menginisiasi sendiri programnya, mengorganisir diri dalam kelompok kecil, dan pengurus SERBUK akan memfasilitasi mereka dengan pendidikan sesuai permintaan. “Memang ada pula pengurus yang mengatakan bahwa kegiatan terlalu padat dan tidak ada dana. Kita tidak perlu berputus asa. Kegiatan tetap diajukan dan akan dilaksanakan dengan dana mandiri,” pungkas Khamid menjelaskan tentang kemandirian basis.