Kosmetika dan Kemalangan Aksara

 

ilustrasi Digital literacy

Bagi Elio Carletti, seniman Italia itu, cantik adalah apa adanya tapi sempurna. Tak ada yang mesti ditambah kurangi. Semacam keadaan muasal yang telah paripurna tanpa perlu rekayasa.

“Cantik adalah penjumlahan dari bagian-bagian, lalu bagian-bagian itu bekerja sama sedemikian rupa, sehingga tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, dikurangi, atau diubah”.

Sayangnya, filosofi kecantikan [bisa diartikan juga ketampanan] Carletti tak sejalan dengan sejarah kecantikan itu sendiri. Peradaban mengajarkan orang untuk mengubah. Dan kosmetik menunaikan tugasnya.

Kosmetik ada di dunia setua umur manusia. Orang-orang China mulai mewarnai kuku dengan getah, lilin, gelatin, juga telur, di 3000 SM. Perempuan-perempuan Yunani melukis wajah dengan pensil putih, memakai pemerah pipi dari sari mulberries.

1900 tahun silam, di Roma, tepung gandum dan mentega dipakai menutupi jerawat. Kuku dicat menggunakan darah dan lemak lembu. Sedangkan nenek saya semasa hidup rajin mengguyur minyak kelapa ke rambut.

Kemudian ketika kapitalisme terbit di ufuk [Eropa] Barat dan kerja primitif diganti kerja mekanik, segala yang dimohonkan pasar akan lekas dikabulkan. Kosmetik tak lagi sekedar manifestasi kreatifitas, ia komoditas.

Sama dengan wangsa industri lain, industri komestik hidup dalam sirkuit kebut-kebutan laba dan akumulasi kapital. Kosmetik jadi gurita bisnis raksasa dengan tentakel nilai pasar global mencapai USD 500 miliar.

Proyeksi Research & Markets menyebut pada tahun 2020 nilai pasar kosmetik ditafsir menembus USD 675 miliar. Di Indonesia, menurut Global Business Guide, populasi perempuan pengguna kosmetik telah mencapai 126,8 juta jiwa. Industrinya tumbuh di atas 20%. Penguasanya produk kosmetik halal.

Tak heran jika di jalan, kampus, kantor, warung, cafe, apalagi mall, kita jumpai makin banyak pipi putih bersinar, bibir merekah, atau kumis terawat klimis. Semua itu menjadi konfirmasi final intensifnya konsumsi kosmetik di tahun-tahun belakangan.

Cantik dan tampan ialah keelokan raga. Sementara manusia sendiri merupakan hewan berpikir. Bagus raga belaka tak membuatnya cukup layak jadi manusia. Isi kepala ikutan ditagih. Dalam kaitan ini, terpajanglah tingkat literasi yang buruk rupa di Indonesia.

Pada 2015, masyarakat Indonesia rata-rata membaca hanya 2-4 jam per hari. Angka di bawah standar Unesco yang meminta 4-6 jam per hari. Data lain mengukur, dari 255 juta penduduk, 252,45 juta-nya tak memiliki nafsu membaca. Nafsu kawin mungkin yang kelewat besar.

Merujuk Most Littered Nation In the World 2016, di Eropa atau Amerika, khususnya anak-anak, dalam setahun bisa dilahap 25-27% buku. Jepang 15-18%. Indonesia? Mukamu terlalu licin produk skin care untuk pura-pura iba dengan angka 0,01%!

Dua tahun lalu, pada peringatan Hari Literasi Dunia pemerintah pasang slogan, “Membaca Masa Lalu, Menulis Masa Depan”. Setahun kemudian didapati kenyataan, dari total 61 negara, Indonesia di peringkat 60 tingkat literasi.

Tahun 2017 slogannya baru lagi, amat gagah: “Literasi di Era Digital”. Hasilnya tak kalah cespleng, per Januari 2018, statista.com menunjuk 44% populasi masyarakat dewasa Indonesia memakai ponsel pintar hanya demi unduh foto dan video.

Cuma 3% orang Indonesia yang mendayagunakan ponsel pintar guna membaca buku atau majalah digital. Sisanya, belakangan bisa jadi sibuk debat ugal-ugalan sampai benjut demi tokoh idaman di kandidasi Pilpres.

Ketika militansi selfie warga negara makin mengeras, pangsa pasar buku elektronik [eBook] Indonesia justru selembek bubur, sekedar mencapai 2%. Terlalu jauh jika dibandingkan Amerika, enam tahun silam sudah menembus 35%.

Mereka yang malas membaca pasti memiliki masalah kronis dalam menulis, kecuali sekedar menggores status dangkal dan pamer tampang goblok di Instagram. Tak heran bila produksi jurnal ilmiah universitas se-Asia Tenggara, Indonesia tercecer paling buncit.

Untuk semua pencapaian menakjubkan dalam kancah literasi ini, pantaslah kita bertepuk tangan sambil berdiri, lalu tepuk kepalamu keras-keras dengan palu! Kinclong rupa fisik, kelewat bopeng tampang literasinya, tak banyak kombinasi yang bisa senorak ini.

Menjadi tampan atau cantik, sekaligus plonga-plongo pengetahuan serupa wujud Revolusi Industri 4.0 versi Nusantara. Dikombinasikan semangat ultra religius [bekal satu buku suci, jadi juru bicara kebenaran], lahirlah rumus pasti selamat dunia dan akhirat.

Akhirnya, filosofi Elio Carletti bahwa cantik itu apa adanya tapi sempurna, tak mungkin berlaku buat sengkarut tingkat literasi Indonesia. Apa adanya semacam ini hanya akan berujung kekonyolan masif.

Bila dibiarkan apa adanya, tak kaget jika ditanya siapa Marx, dijawab penemu kera, lalu Pramoedya Ananta Toer dikira pelari cepat era Soekarno. Dan sepasang jawaban itu disemburkan sambil asyik mewarnai alis atau membubuhi obat pembesar penis!

—————————————————————————————–Buruh.co menerima sumbangan berupa tulisan, ilustrasi, dan cerita foto terutama terkait isu-isu kerakyatan (kemiskinan, keadilan sosial, petani) dan gerakan rakyat. Tulisan dapat disampaikan melalui email suarakpbi@gmail.com terima kasih