Konsolidasi Buruh Menguat Lawan PHK Liar Anak Perusahaan Asian Agri

Konsolidasi Buruh PT AAJ

Buruh.co, Jakarta – Buruh outsourcing di anak perusahaan Asian Agri, PT Asianagro Agung Jaya (AAJ) terus memperkuat konsolidasi melawan PHK liar. Berbagai serikat sudah menyatakan dukungan pada para pekerja outsourcing tersebut.

Konsolidasi berlangsung pada Rabu, 14 Maret 2018, di kawasan industri Marunda, Jakarta Utara. Ini merupakan tindak lanjut persoalan yang sudah sampai pada tahap tripartit. PT AAJ menggunakan buruh alih daya dari PT SMS untuk pekerjaan. Namun, PT AAJ melakukan PHK pada buruh secara ilegal dan buruh mengadu pada Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI) di PT AAJ.

Dalam pertemuan itu, berbagai pimpinan komisariat atau serikat pekerja tingkat perusahaan yang ada di kawasan KBN Marunda hadir dalam pertemuan tersebut. Ketua Departemen Pengembangan Organisasi FBTPI Abdul Rosyid menyebutkan para perwakilan komisariat yang hadir merasa geram dengan tidak adanya keadilan hak dan kesejahteraan kawan-kawan outsourcing di PT AA. “Kkini saatnya kita bangun rasa kepedulian kita sesama buruh atau kelas pekerja,” pungkasnya.

Pimpinan Komisariat SBAI FBTPI AAJ mengharap seluruh buruh, terutama yang tergabung di FBTPI dan KPBI, dapat mendukung perlawanan buruh outsourcing di PT AAJ yang mencari kepastian kerja. Maka, berangkat dari persoalan yang sedang berjalan para buruh outsourcing dan karyawan PT AAJ terus mendukung penuh perjuangan tersebut kami melihat ini adalah bukti nyata kepedulian kita sesama buruh

Ditempat terpisah, Pengurus Komisariat I FBTPI PT AAJ Marullah mengatakan menjadi karyawan tetap sebenarnya merupakan hak normatif mereka. “Sebenarnya hak merka tidak perlu diminta sebab sudah diatur dalam undang _undang ketenaga kerjaan dan kepmenaker,” ungkapnya.

Selain menggalang dukungan internal, para buruh juga mengkonsolidasikan solidaritas sesama buruh baik di kawasan KBN Marunda dan di luar kawasan yang tergabung di luar FBTPI dan KPBI.

Sebelumnya, telah terjadi PHK liar pada 26 karyawan yang terjadi di PT AAJ di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Padahal, para pekerja outsourcing bekerja menjalankan proses produksi di perusahaan yang tidak boleh dioutsourcingkan.

PT AAJ bergerak dalam industri manufacturing pengelola minyak sawit jenis (CPO,PKO,CNO) yang hasil produksinya didistribusikan ke lokal maupun internasional dan menjadi bagian dari gurp Asian Agri. Berjalannya produksi di PT AAJ selama 4 tahun telah memberikan keuntungan bagi tipan Sukanto Tanoto. Sukanto merupakan orang terkaya ke-30 menurut majalah Forbes dengan kekayaan mencapai USD 1,1 miliar.

PHK terjadi ketika karyawan outsourcing itu sedang menuntut hak melewati jalur litigasi tripartit  di suku dinas Jakarta Utara. Alasan PHK muncul karena karyawan tidak mau tanda tangan kontrak Perjanjian Kerja Waktu Tertentu.

Ketua Advokasi SBAI Menurut Asenmulyanto ADV SBAI-FBTPI Tidak dapat di benarkan jika adanya PHK liar. “PHK harus berdasarkan mekanisme Undang-undang Ketenagakerjaan,” jelasnya. Menurut UU Ketenagakerjaan 13 2003 pasal 151 butir 3, jelas menyatakan bahwa, “Pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja dengan pekerja/buruh setelah memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.” Pada kesempatan yang sama, Ketua Serikat Buruh Aneka Industri FBTPI Salman menegaskan bahwa FBTPI akan mengerahkan dukungan penuh pada para buruh outsourcing.

(Reporter Marulloh dan Asen Mulyanto)