Kesehatan dan Keselamatan Kerja Buruh Kreatif Sirna dari Perbincangan

Ikhsan Rahardjo, Presidium SINDIKASI

Buruh.co, Jakarta – Buruh industri kreatif melihat kesehatan dan keselamatan kerja diabaikan ketika berbicara persoalan ekonomi kreatif. Padahal, Badan Ekonomi Kreatif memproyeksikan sektor ini sebagai “tulang punggung ekonomi Indonesia”. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri kreatif menyerap 15,9 juta pekerja tahun lalu dan tumbuh 4,3 persen dalam setahun.

Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI)yang hadir dalam diskusi Pannel Keselamatan dan Kesehatan Kerja di LBH Jakarta pada tanggal 26 Juli 2017 yang lalu, memberikan beberapa testimoni terkait dengan dunia kerja para kreator sinema dan pekerja seni lainnya.

Ikhsan Raharjo, salah satu pekerja Media yang sedang merencanakan Kongres I SINDIKASI pada Agustus 2017 nanti memberikan gambaran mengenai K3 bagi pekerja kreatif. Ikhsan menjelaskan fenomena kematian di dunia kerja kreatif tersebut dengan mengambi contoh kasus “Karoshi”. Karoshi, demikian orang Jepang menyebut kematian akibat bekerja melampaui batas (overwork). “Kementerian Perburuhan Jepang mencatat kerja lembur berlebih mengakibatkan 96 pekerja tewas karena sakit dan 93 kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri karena gangguan mental. Melihat pekerja industri kreatif Indonesia memiliki kecenderungan overwork dan depresi dan rentan mengalami tragedi seperti di Jepang. “ Jelas Ikhsan.

Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) membagi sektor ini menjadi 16 subsektor yaitu aplikasi dan game developer, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film, animasi, dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio.

Pekerja kreatif diduga banyak mengalami depresi karena kelebihan kerja. “Saya cerita ke teman bahwa saya mengalami gejala depresi. Ternyata mereka pun mengalami gejala yang sama,” kata Anggota SINDIKASI Ellena Ekarahend. Desainer grafis itu menyampaikan keprihatinannya atas kondisi ini. Pernyataan Ellena tersebut, pernah disampaikannya dalam sebuah diskusi bertajuk “Antara Dedikasi dan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)” yang diselenggarakan SINDIKASI dan didukung Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta Selatan.

SINDIKASI dalam May Day 2017

Salah satu kasus yang menyita perhatian di Jepang adalah peristiwa tewasnya Matsuri Takahashi, pekerja perusahaan periklanan raksasa Dentsu Inc setelah terjun dari apartemen. Hasil penyelidikan menyimpulkan perempuan 24 tahun ini mengalami depresi akibat beban psikologi di tempatnya bekerja. Kondisi ini terjadi karena beban kerja Matsuri bertambah drastis dan membuatnya harus lembur selama 150 jam dalam sebulan. Setelah kematian Matsuri, perusahaan iklan Dentsu Inc pun melarang pekerjanya bekerja di kantor di atas pukul 22.

Kehadiran para pekerja kreatif dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Serikat Buruh yang bergerak di bidang manufaktur tentu saja merupakan fenomena baru. Selama ini, sebagian buruh berpikiran bahwa kondisi kerja yang buruk hanya dialami mereka yang bekerja di sektor buruh kerah biru, ternyata hal itu keliru. Nelson F. Saragih, Ketua Departemen Hukum dan Advokasi Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menyambut kehadiran mereka. “Ini merupakan babak baru, dimana pekerja berbagai sektor merasa dirinya sama. Perjuangan ini diharapkan menjadi lebih kuat dengan kehadiran mereka. Selain mengdvokasi diri mereka sendiri, tentu diharapkan sumbangan mereka untuk menjadikan kampanye K3 lebih baik dan kreatif,” harap Nelson.

Berkaitan dengan rencana Kongres yang akan diselenggarakan pada bulan Agustus 2017 nanti, Ikhsan berharap mendapat dukungan dari jaringan nasional yang lebih luas. “Kami berharap dukungan kawan-kawan serikat buruh. Selain itu, kami berharap akan lahir sebuah resolusi maju yang berbicara mengenai K3 nagi pekerja kreatif,” ujar Ikhsan.