Kekuatan Serikat Buruh Ada di Kekompakan

Erman Wahyu Hidayat

Buruh.co, Jakarta – Saya mulai mengenal serikat buruh sejak awal 2000an. Hingga kini, sudah sekitar 17 tahun saya bergelut sebagai buruh, membangun dan berdinamika dalam serikat buruh. Waktu belasan tahun itu memberi hikmah, bahwa kekuatan buruh berada padakekompakan. Ketika kompak, buruh bisa menghentikan produksi pabrik, atau bahkan kawasan, dan menjadi kekuatan politik yang berarti.

Melek Serikat di Tangerang

Pada November 1999 saya pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Tangerang, Banten. Saya pernah merasakan hidup di rantau jauh dari orang tua. Kampung saya ada di Sumatera Selatan, ribuan kilometer dari Tangerang.

Pekerjaan ketika itu hanya memberi pendapatan pas-pasan. Upah habis karena saya harus makan sendiri, bayar kontakan sendiri,  pokoknya serba sulit.Saya juga pernah merasakan dinginnya ubin pabrik, tidur di lorong-lorong mesin,makan mie masih di dalam bungkus plastik, dan minum secangkir kopi bersama untuk buruh di satu line di pabrik.

Penderitaan-penderitaan sebagai buruh menyadarkan saya untuk bergabung dalam serikat. Terlebih, pemerintah bersama DPR berencana untuk menghapus pesangon dan mempersulit kepastian kerja dan posisi tawar buruh melalui revisi Undang-undang Tenaga Kerja 13/2003.

Pada 2006, saya dan teman-teman bahkan melakukan unjuk rasa dari Monas menuju Istana Negara dan berakhir ke DPR. Unjuk rasa dilakukan berbagai serikat dari berbagai bendera. Satu yang saya tidak pernah lupakan adalah kami pernah merobohkan pagar DPR RI. Ketika itu, buruh berteriak menyerukan penolakan revisi UU Tenaga Kerja 13/2003.

Di sanalah, saya benar-benar meyadari kekompakan merupakan kunci. Mungkin bung Khamid Istakhori dan Bung Subono juga ada di lokasi. Namun, ketika itu kami berbeda bendera. Bagaimanapun, perbedaan bendera terbukti tidak menghalangi buruh untuk kompak. Alhasil, pemerintah menangguhkan revisi UU Tenaga Kerja 13/2003.

Ada pelajaran yang sangat berarti disini kami tidak saling kenal,kami bedah bendera tapi kami kuat karena kami bersatu.saya teringat betapa hebatnya buruh tangerang menutup tol bitung dan buruh kerawang bekasi melumpuhkan kawasan industri jababeka.

Buruh SERBUK dari 9 Perusahaan yang Mogok Serentak

Hijrah Ke Sumatera Selatan 

Desember 2011 saya mengundurkan diri dari tempat kerja ditangerang. Pada Januari 2012, alhamdulillah saya bekerja kembali disalah satu perusahaan di PLTU di desa kelahiran saya di Muara Enim, Sumatera Selatan. Ketika itu, saya mengira pekerjaan di Tangerang sudah cukup tidak layak.

Namun, pandangan itu berubah ketika menyaksikan kondisi kerja di Muara Enim, Sumatera Selatan.
Di sini, banyak cerita yang sangat bertolak belakang dengan kondisi kerja saya selama ini. Kegiatan itu bermulai ketika melamar kerja saya. Ketika itu, saya sudah disuguhi dengan pemandangan yang sangat aneh,orang melamar kerja kok pakai baju kaos,celana jeans bolong, dan sepatu safety.

Selain itu, Muara Enim terasa semakin global. Banyak pekerja asing tempat asal usul investasi itu berlalu-lalang. Meskipun begitu, mereka tetap kerja kasar.

Di hari pertama kerja saya tidak dikasih makan siang saya masih berpikir positif mungkin karena hari pertama. Hari kedua, kerja saya dikasih makan tapi lauk pauknya sudah ada yg ngembat saya masih berpikir mungkin karena saya baru. Hari ketiga saya tidak dapat makan lagi.Saya berpikir ini suatu kemunduran dan mesti ada tindakan untuk memprotes ini.

Saya bilang ke teman saya “stop nimbang batubara, kebetulan saya bekerja timbangan batu bara .
“Saya mau makan dan istirahat di luar,” kata saya pada teman.

“Nanti bos marah mobil antri,kebetulan teman saya orang kampung belum pernah kerja,” sanggah teman saya.
Saya bilang, “istirahat” meski ketika ituada orang. akhirnya dia ikuti saya juga.
Jam 01.00 saya kembali masuk saya lihat memang betul yang dikatakan teman. ” dari kejauhan mobil ngantri didepan pintu pos timbangan kami.

Saya lihat bos berdiri dengan muka ditekuk..Setelah dapat ceramah dari bos saya kembali bekerja saya tetap dengan argumen saya”Saya juga karyawan diperusahaan ini mengapa saya dibedakan dengan karyawan lain,”seru saya.

Seiring waktu bejalan. namun pihak letola itu memprotes lerauaam  tidak dapat makan,tidak istirahat.
Bos bilang nanti pulang kerja keruang hrd,Pikiran saya sudah jauh mungkin saya diphk. Jam 16.00 Pulang kerja saya menghadap keruangHRD tapi ternyata dugaan saya salah tuntutan saya dipenuhi,dapat kartu buat makan,jam istirahat kerja dihitung lembur. Dari sini saya dapat pelajaran,”Kita harus stop produksi dulu baru tuntutan kita dipenuhi”.

Waktu terus berjalan hingga 2003, tidak berasa masih banyak pelanggan yang dilakukan oleh perusahaan. Akhirnya, kawan-kawan mendirikan serikat. Tidak mudah dari mulai ketidak tahuan tentang organisasi dan tidak kompaknya karyawan. Namun, berjejaring dalam serikat lain mengajarkan menempa hal-hal tersebut.

Pada November 2016, akhirnya kami menemukan orang tua kandung dari serikat. Kami memutuskan berafiliasi dengan Federasi Serikat Buruh Kerakyatan Indonesia. Federasi SERBUK Indonesia berada di bawah naunan KPBI.

Federasi SERBUK dan saudara tua serikat-serikat di Federasi Serikat Pekerja Pulp dan Kertas INdonesia (FSP2KI) selalu membimbing kami. Selalu terngiang di pikiran.  “jangan tanya siapa yang berjuang atau diperjuangkan,ini perjuangan dan solidaritas tanpa batas” Sebenarnya perlawanan itu sudah ada dari beberapa tahun yang lalu tapi belum semuanya berhasil. Kekompakan kami sudah diuji apda Mogok 19-21 Juli.
Ditulis oleh ,Erman Wahyu Hidayat
Dari Serikat Buruh GHEMM Indonesia