Jangan Jual Nasib Rakyat! : Gerakan Sosial dan Perdebatan Via Vallen vs JRX SID

jerinx SID dan Via Vallen (Foto Tribunnews)

Berawal dari balasan JRX kepada Outsider di sosial media, maka muncullah sebuah fakta bahwa Via Vallen tidak pernah meminta ijin saat mengcover lagu-lagu SID. JRX penggebuk drum group SID itu juga menyebut ‘tanpa Sunset di Tanah Anarki, Vallen ga akan di posisinya saat ini’ JRX menambahi hesteg ‘fact’, sebagai penegasaan bahwa itu sebuah fakta. JRX juga menumpahkan kekesalahannya ketika membalas sebuah akun twitter @obetoy yang mengkonfirmasi apakah benar-benar Via Vallen tidak minta ijin.

“Exactly. But then again, money is not my objective. Anyone can cover it SELAMA dilakukan dengan itikad baik; bagi sejarah, sesama & masa depan bangsa. Jika hanya utk memperkaya diri, then she’s no different than a f*cking wh*re.,” balas Jerinx.

Hal ini menjadi ramai setelah banyak orang menyebarkan dan nimbrung berkomentar. Yang pada akhirnya, melalui akun Instagramnya, Via Vallen mengklarifikasi tuduhan dan kekesalan JRX tersebut.

Dalam klarifikasinya, penyanyi asal Darjo itu, pertama-tama, meminta maaf jika telah merusak Ruh lagu sunset di tanah anarkhi karena telah mengoplonya. Kedua, bahwa pihak Via Vallen tidak tahu menahu soal komersialisasi versi koplo lagu sunset di tanah anarkhi. Ketiga, soal cover, mencuri lagu sampai memperkaya diri, Via Vallen memastikan bahwa dia belum pernah mencairkan satu rupiah pun dari Hasil akun Youtube Via Vallen Official.

Mengapa Via Vallen memilih mengklarifikasi di sosial media bukan langsung ke JRX? Seperti pengakuannya, Via Vallen kesal telah disamakan dengan pelacur, karena dianggap bernyanyi hanya untuk memperkaya diri (saja). Jadi, merasa tak perlu mengklarifikasi secara langsung.

Nampak dari status Facebooknya Sepertinya JRX sudah membaca klarifikasi dari Via Vallen. Untuk beberapa hal dia sudah menerima permintaan maaf dari Via Vallen, seperti mengcover tanpa meminta ijin dirinya dan meminta maaf apabila telah menghilangkan RUH dari Sunset di Tanah Anarkhi. Namun, JRX enggan menarik kata-katanya soal F*cking W*re, malahan ia mempertegas kata-katanya? Bahwa perilaku Via Vallen memang seperti pelacur.

Sebagai Vianisty bukan berarti sy taqlid buta, Via Vallen pasti benar dan yang lain pasti salah, bukan begitu. Dan saya sih berharap sekali mereka berdamai, ada sebuah solusi yang baik tanpa merugikan keduanya. Toh Via juga sudah mengakuinya, tinggal urusan royalti, dicari solusi seadil-adilnya. Betul?

Namun begitu, ada dua pernyataan Bli JRX yang mengganjal dihati saya. Menurut saya ini perlu diuji didepan khalayak SJW. Pertama, pernyataan “tanpa Sunset di Tanah Anarki, Vallen ga akan di posisinya saat ini.” Kedua, Tentang mempertanyakan kontribusi Via Vallen kepada gerakan melawan lupa, pelurusan sejarah 65, perjuangan kendeng atau yang lain.

JRX berlebihan.

Jadi, apakah benar Via Vallen menjadi sukses seperti sekarang ini karena lagu Sunset di Tanah Anarkhi?

Via Vallen, seperti halnya penyanyi-penyanyi dangdut koplo lainnya, memang sering mengcover lagu milik orang lain saat mentas, baik itu sesama lagu dangdut atau dari genre musik lainnya. Bahkan, khususnya lagu-lagu dangdut koplo kontemporer, kita, terutama saya, hampir tidak tahu siapa penyanyi aslinya. Namun, siapa bisa membantah kalau lagu “Sayang” lah yang membuat peruntungan Via Vallen berubah, hayo?

Lewat lagu ini Ia menjadi bintang utama di genre dangdut ala Pantura ini. Dia juga berhasil, menurut saya, merubah mindset dangdut koplo, dari hiburan menjual goyang menjadi selayaknya musik dan lagu pada umumnya, yang biasa mengandalkan kualitas suara. Jika kita mau sedikit ‘berselancar’ di Internet, menurut rilis Idn, tribunnews, dll, bukan Sunset di Tanah Anarkhi yang menjadi lagu-lagu yang melejitkan Via Vallen, tapi sebangsa lagu-lagu; kimcil kepolen, bojo galak, secawan madu, atau ditinggal rabi. Tanpa mengurangi respect ke JRX atas komitmennya bagi nusa dan bangsa, Penolakan terhadap reklamasi Benoa dan pembelaan pada mereka yang digilas roda pembangunan, saya kira pernyataannya soal bahwa Sunset di tanah Anarkhi adalah faktor utama kesuksesan, saya kira berlebihan. Kalau menyumbang kesuksesan Iya. Bahkan kalau mau jujur, Sunset di Tanah Anarkhi lebih banyak lagi didengar (pesannya) oleh Grassroot ketika dikoplokan. Hei, Lik Pardi, sampeyan ngerti lagu Kuta Rock City?

Bagaimana dengan dorongan JRX agar Via Vallen berkontribusi pada gerakan melawan lupa, pelurusan sejarah 65, dll. Ya boleh saja, namanya juga dorongan, sekaligus ajakan. Tapi ya jangan direndahkan juga saat ini juga dengan tuduhan memberkaya diri apalagi dengan sebutan Pelacur. Seperti kata Pram: didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan. Pernahkah Bli JRX berdiskusi dengan Via Vallen soal apa itu Gerakan Menolak Lupa? Apa itu pelurusan Sejarah 65 atau kasus yang menimpa teman-teman kita di Kendeng? Via “sayang” perlu dibimbing, diorganisasikan, bung Jerinx. Agar tahu apa itu A, B dan C. Bukan dilawan, karena dia bukan lawanmu.

Dengan kualitas lirik lagu-lagu dangdut kita hari ini, rasanya tidak perlu lagi kita menegaskan seberapa tinggi nilai sastrawinya. Atau kalau belum cukup meyakinkan kita lebarkan ke Genre musik yang lain, yang dianggap lebih elit dari pada dangdut Koplo. Hemmm sami mawon kan? ‘Kaki di kepala kepala di kaki’, tuuuh. Bukan bermaksud merendahkan, Apalagi untuk memahami Gerakan Menolak lupa dll itu, jelas tidak bisa dengan cemoohan. Kalau dengan cemoohan yang ada malah anti pati bukan simpati, padahal Via Vallen, menurut saya, dengan perjuangan hidupnya dia memiliki potensi yang besar menjadi buzzer suara keadilan.

Jadi, Menurut saya, pertanyaan, pernyataan dan cemoohan Bli JRX soal komitmen Via Vallen terhadap gerakan melawan lupa, pelurusan sejarah 65, dll. Lebih pas diarahkan kepada Mereka-mereka yang mengkapitalisasi isu-isu 65 dan melawan lupa untuk perut dan perabotan rumah mereka. Bukan pertanyaan dink, tapi ancaman: Jangan jual nasib rakyat!

Penulis: Vianisty gunung merapi