Ini Momen Pembukaan Mogok AMT Pertamina di Banyuwangi

Intimidasi AMT oleh Kepolisian Banyuwangi

Buruh.co, Jakarta – Mulai hari Senin, 19 Juni 2017 tepat pukul 00.00, buruh Awak Mobil Tangki Banyuwangi, yang selanjutnya disingkat AMT, mulai melakukan Aksi Mogok Kerja Nasional yang sudah di rencanakan jauh hari sebelumnya. Mereka membuat Tenda Perjuangan menggunakan terop sederhana disekitar depan Wilayah Depot Pertamina Banyuwangi, tenda perjuangan ini yang akan dijadikan sebagai tempat dan titik kumpul dalam Aksi Mogok Kerja Nasional AMT selama 6 hari kedepan, terhitung mulai hari ini 19 Juni sampai dengan 26 Juni 2017. Terdapat juga bendera-bendera, banner, dan poster yang bertuliskan tuntutan mereka seperti ‘hapuskan sistem kerja outsourcing’ dan lain sebagainya.

Pembukaan Aksi Mogok Kerja Nasional Buruh AMT ini dihadiri sekitar 68 massa aksi, yang kesemuanya adalah buruh AMT sekaligus anggota serikat dari Ferikat Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia (FBTPI). Dalam pembukaan mogok kerja cukup lancar dan tidak ada kendala yang menghalangi acara, hanya sempat terjadi kemacetan di sepanjang jalan depan depot, itupun dikarenakan membludaknya kendaraan di pelabuhan yang akan menyeberang ke pulau Bali, tidak lama kemacetan pun bisa terurai dan arus lalu lintas kembali normal.

Dalam pembukaan ini dihadiri pula oleh kawan Zaki sebagai ketua serikat FBTPI Jatim, Zaki memberikan arahannya kepada perangkat dan massa aksi secara keluruhan ‘bahwa Aksi Mogok Kerja Nasional ini adalah sah dan tidak melanggar hukum, semuanya sesuai dengan prosedural dan undang-undang yang ada’ demikian Zaki memberikan arahannya.

Lanjut dia memberikan penegasan kembali pada kawan kawan massa aksi untuk tidak takut dan tidak ragu-ragu dalam perjuangan ini, karena apa yang dilakukan adalah sebuah kebenaran dalam rangka menuntut keadilan yang sudah di rampas oleh perusahaan dalam hal ini adalah PT. Pertamina Patra Niaga.

Selain itu, para buruh AMT pun saling menguatkan satu sama lain, salah seorang peserta aksi mengatakan ‘bahwa kita harus selalu bersama-sama dalam perjuangan ini, tidak ada yang boleh pulang, harus 24 Jam di tenda perjuangan sebagai bentuk komitmen kawan-kawan dalam berjuang’ ujarnya.

Aksi mogok pun dilanjut dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan yel-yel sebagai penyemangat mereka dalam aksi mogok kerja Nasional ini, salah seorang mahasiswa dari Malang turut membantu untuk memimpin menyanyikan lagu-lagu Perjuangan dan yel-yel.

Diakhir aksi sebelum sahur, peserta di persilahkan untuk istirahat dan makan sahur, serta arahan pulang untuk mengambil seragam kerjanya dan batas maksimal jam 6 harus sudah kembali ke tenda perjuangan, untuk selanjutnya bersama sama memulai aksi mogok kerja Nasional di hari pertama.

(Laporan Afik Purwanto)