ILO: Upah Indonesia Terendah Ketiga se ASIA-Pasifik

Laporan Organisasi Perburuhan Internasional (International Labor Organisation-ILO) menemukan upah riil Indonesia berada pada peringkat ketiga terendah di antara negara-negara Asia dan kepulauan Pasifik. Dalam laporan berjudul “Laporan Upah Global 2016/17: Ketimpangan Upah di Tempat Kerja”, ILO menyebutkan rata-rata upah Indonesia hanya mencapai kurang dari 200 Dolar Amerika Serikat atau Rp 2,6 juta per bulan.

“India berada di peringat terendah dengan 140 Dolar Amerika Serikat per bulan. Indonesia berada di tingkat ketiga terbawah setelah Pakistan dan India,” tulis Siaran Pers ILO yang diterima Buruh.co. Laporan itu diluncurkan pada Selasa, 19 September 2017 di Jakarta Sementara, Australia berada di peringkat pertama upah tertinggi di Asia dan Pasifik. Negara di selatan Indonesia itu memiliki upah 3.715 Dolar Amerika Serikat per bulan.

Selain itu, laporan menyatakan bahwa kesenjangan upah berdasarkan gender di tempat kerja masih terjadi. Kendati telah menyempit dengan berjalannya waktu, namun belum terhapus sama sekali. Selain itu, terjadi kesenjangan yang semakin parah antara upah di perusahaan besar dan kecil. “Ketimpangan ini mencerminkan penurunan dalam pangsa pendapatan tenaga kerja (labour income share/LIS), yang memperlihatkan bahwa penurunan dalam pangsa pendapatan tenaga kerja ini hampir sejalan dengan peningkatan rasio Gini,” demikian bunyi laporan itu. Rasio gini adalah ukuran untuk menunjukan ketimpangan ekonomi antara yang kaya dan miskin.

Pertumbuhan Upah Global Terendah dalam Empat Tahun 

Kabar duka lainnya, pertumbuhan upah riil secara global menurun dari 2,5 persen pada 2012 menjadi 1,7 persen pada 2015, yang merupakan tingkat terendah dalam empat tahun ini. Ini diakibatkan pertumbuhan upah di Amerika Utara dan sejumlah negara Eropa tidak memadai untuk mengimbangi penurunan upah di negara-negara ekonomi baru dan berkembang, demikian laporan upah terbaru ILO yang diluncurkan di Jakarta pada Selasa, 19 September 2017. Laporan memperlihatkan bahwa pertumbuhan upah di negara-negara Asia-Pasifik meningkat dua kali lebih besar dibandingkan rata-rata global.

Laporan terbaru ini memperlihatkan bahwa tingkat rata-rata pertumbuhan upah riil pada 2015 adalah sebesar 1,7 persen, sementara Asia sebesar 4 persen. Selanjutnya, laporan mengatakan bahwa upah kerja terus meningkat di negara-negara Asia-Pasifik, yang mencerminkan evolusi perekonomian dari produksi untuk konsumsi sendiri menjadi berorientasi pasar. Tren ini artinya perundingan bersama dan sosial dialog semakin berjalan baik dan berperan di kawasan ini.

ILO Serukan Kerjasama Global

Laporan menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan di tingkat global untuk menghindari upaya menerapkan kebijakan moderasi upah, atau penurunan upah kompetitif, yang dapat berakibat pada penurunan permintaan agregat atau deflasi di tingkat regional atau global. Sementara di tingkat negara, laporan menyebutkan adanya kebutuhan terhadap pilihan-pilihan kebijakan termasuk mempromosikan penetapan upah minimum yang lebih efektif dan jangkauan perundingan bersama yang lebih besar, kebijakan mengenai pajak dan fiskal serta pendidikan dan pengembangan keterampilan.

Peluncuran laporan upah global ini diselenggarakan oleh ILO melalui Proyek Standar Ketenagakerjaan dalam Rantai Pasokan Global. Didanai oleh Kementerian Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi Jerman (BMZ), Proyek ini bertujuan meningkatkan kepatuhan terhadap standar-standar ketenagakerjaan dan meningkatkan kondisi kerja dalam rantai pasokan garmen melalui perundingan bersama dan dialog sosial. Selain di Indonesia, kegiatan proyek juga berada di Kamboja, dan Pakistan, serta di tingkat regional dan global.