IDENTIFIKASI PEREMPUAN DI DUNIA KERJA


Poedjiati Tan dan Luviana- www.Konde.co

Jakarta, Konde.co – Anastasia, seorang aktivis perempuan mengeluhkan, mengapa dalam sebuah kantor maupun organisasi dimanapun, perempuan selalu diberikan tugas sebagai notulen dalam suatu rapat. Apakah perempuan selalu identik sebagai notulen, sekretaris dan sesuatu yang berhubungan dengan tulis menulis dimana dalam sebuah rapat, perempuan diharapkan hanya untuk aktif untuk menulis dan tidak aktif untuk bersuara atau memimpin?

Jika tidak sebagai notulen, maka perempuan akan diposisikan sebagai bendahara. Di luar itu, perempuan akan diberikan tugas sebagai seksi konsumsi.

Identifikasi ini yang kemudian melekat. Jika perempuan dalam sebuah rapat selalu sibuk menjadi notulen, maka kapan ia akan punya kesempatan untuk menjadi pemimpin rapat? Kapan ia akan memimpin sebuah pertemuan?

Hal inilah yang mengemuka dalam sebuah diskusi bertajuk “Feminism for Men” yang didakan Kenobi Working Space dan Jakarta Feminist Discussion Group di Kemang, Jakarta pada 14 April 2018. Diskusi ini memang diadakan untuk mengidentifikasi perlakuan apa saja yang terjadi pada perempuan dalam pekerjaan mereka?

Luviana dari www.Konde.co menyatakan, sesungguhnya di dunia kerja terdapat banyak identifikasi, stereotype yang kemudian melekat pada perempuan. Dunia kerja ini mencakup dari perempuan keluar dari rumah, ketika perempuan bekerja hingga ia berada di dalam rumah lagi.

Dalam kerja-kerja di rumah misalnya, perempuan selalu diidentifikasi sebagai orang yang mempunyai konsep pengasuhan. Maka perempuan harus mngambil pekerjaan sebagai pengasuh anak. Padahal konsep pengasuhan hanyalah konstruksi yang dibesarkan secara sosial, karena itu pegasuhan bisa saja dilakukan oleh suami maupun istri atau pasangan mana saja. Jadi tidak ada alasan konsep pengasuhan hanya bisa dilakukan oleh seorang istri atau perempuan.

“Maka pengasuhan bisa dilakukan oleh siapa saja yang berada di rumah, baik laki-laki maupun perempuan maupun pasangan manapun,” ujar Luviana.

Di tempat kerja, konsep ini kemudian melekat kuat, sekretaris selalu harus perempuan, notulensi rapat selalu harus perempuan. Hal seperti ini kemudian menjalar ke dunia kerja yang lain.

Nadina dari Kenobi Worksing Space misalnya mengidentifikasi bahwa dulu pekerjaan wardrobe yang mengurus pakaian, selalu identik dengan perempuan, demikian juga dengan pekerjaan di bagian kosmestik film misalnya. Namun dunia kerja makin lama makin berubah. Tak semua tugas wardrobe dan kosmestik dipegang oleh perempuan, demikian juga tak semua chef atau juru masak selalu identik dengan perempuan. Ini bisa dibuktikan di lingkungan kita.

Hal ini membuktikan bahwa dunia kerja selalu mengalami perubahan dan ini semua merupakan bagian dari konstruksi sosial.

Qory Delaserra dari Sang Akar Institute menanggapi bahwa, jika perempuan memang tidak merasa nyaman menjadi seorang notulen rapat, maka perempuan berhak untuk menolak.

“Tidak ada alasan untuk menerima pekerjaan apapun jika kita tidak mau melakukannya. Karena secara prinsip, kerja-kerja seperti ini seharusnya bisa dipertukarkan oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang sifatnya menetap.”

Yang Dirasakan Laki-Laki

Dalam diskusi tersebut, sejumlah peserta laki-laki yang hadir menyatakan bahwa para laki-laki juga sering merasakan hal yang sama. Di rumah sejak kecil, mereka juga diajarkan untuk tak boleh menangis. Maka ketika mereka merasa sedih, mereka tak boleh menangis, karena menangis bagi laki-laki identik dengan sesuatu yang haram untuk dilakukan. Karena jika menangis, maka akan ada cap sebagai lelaki cengeng.

Dari sinilah laki-laki lalu dibesarkan oleh konsep maskulinisme yang kuat, karena mereka harus selalu tegar, harus selalu memimpin, tak mau dimarahi, tak mau dikasih masukan karena harus merasa serba bisa. Hal inilah yang kemudian menciptakan konstruksi bahasa baru dimana laki-laki adalah pemimpin dan perempuan adalah obyek yang dipimpin.

Dominasi dalam bentuk perlakuan dan simbol-simbol kemudian dibesarkan di rumah dan di luar rumah hingga dalam konsep kerja.

Feminis sosialis menyebut bahwa dominasi laki-laki merupakan bagian dari sistem ganda atau sistem multi dominasi seperti yang terjadi dalam kapitalisme, patriarki, heteroseksualisme, rasisme dan imperialisme. Setelah itu menjalar ke dalam dominasi negara, kebijakan dan lingkungan yang membesarkan nilai-nilai ini. Kekuatan ini kemudian menjadi dominasi sudut pandang. Sudut pandang yang sering dibicarakan, diwacanakan laki-laki sering diamini sebagai sebuah kebenaran.

Hal inilah yang seharusnya dibongkar dan bukan menjadikan bahasa laki-laki sebagai sebuah kebenaran, namun bagaimana bahasa ini kemudian mengadopsi pemikiran perempuan serta kelompok rentan lain.

Dalam dunia kerja, sejumlah fakta sudah membuktikan bahwa banyak pekerjaan yang bisa dipertukarkan baik kerja-kerja domestik dan di ruang publik. Ini menunjukkan bahwa sudah saatnya kita mengakhiri identifikasi yang akhirnya memberikan stereotype pada perempuan yang telah membebani kerja-kerja perempuan di dunia kerja.

(Qory Delasera dari Sang Akar Institute, Luviana dari www.Konde.co dan Nadina dari Kenobi Space dalam diskusi Feminism for Men yang diadakan Kenobi Working Space dan Jakarta Feminist Discussion Group, di Kemang, Jakarta pada 14 April 2018)