Gonjes Mantopane (Kepal Genk): May Day itu Teladan Persatuan dari Kaum Buruh!

Gonjes Mantopane (Kepal Genk)

“…………. Kukencangkan sepatuku dan siap untuk bertemu, bertarung siap bergabung dengan kaum buruh…,” demikian sepotong syair dari lagu yang diluncurkan Kepal Genk menjelang Peringatan Hari Buruh Internasional 2017 lalu. Kelompok musik perlawanan di Yogyakarta itu meluncurkan sebuah lagu yang khusus bercerita mengenai pengalaman ikut aksi May Day. Dengan musik yang berkesan riang, disertai suara orang menyeruput kopi pagi terdengar beberapa bait yang menceritakan pengalaman bergegas menuju aksi buruh.

Di balik lagu itu, suara berat Gonjes sangat dominan. Dia bercerita mengenai asal muasal lagu itu dibuat. “ Lagu ini, berdasarkan pengalaman nyata mengikuti aksi bersama front buruh,” jelas Gonjes. Aksi buruh, menurutnya, merupakan aksi yang sangat terpimpin. Keteraturan aksi itu merupakan buah dari pendidikan yang bagus di serikat buruh. Kepemimpinan buruh, tercermin dari cara mereka menggelar aksi. Baik aksi yang damai maupun aksi yang penuh tekanan karena tuntutan. Mereka, satu komando dalam satu barisan.

May Day 2017, Gonjes ikut bersama barisan buruh di Yogyakarta yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Untuk Satu Mei (ARUS). Aliansi itu dipimpin oleh Husain dari Serikat Buruh Kerakyatan (SERBUK) Indonesia, Yogyakarta. ARUS, mengusung tema Perkuat Persatuan dan Perjuangan Rakyat.

Menurut Gonjes, tema ini menjadi penting dalam konteks perjuangan hari ini ketika rezim neolibh semakin represif terhadap gerakan rakyat. “Buruh aksi ditangkap, petani mempertahankan tanah dipenjara, mahasiswa diskusi dibubarkan, berbeda keyakinan didiskriminasi dan berbagai masalah lainnya menjadi alasa utama mengapa kita usung tema persatuan rakyat,” kata Gonjes.

Aksi bersama buruh dan rakyat, sebagaimana dipaparkan Gonjes, selalu memberikan pengalaman baru. “Aksinya seru, asyik. Ketemu kawan-kawan baru dan tentu saja masalah baru,” lanjut Gonjes. Masalah baru, menurutnya memang semakin berat dihadapi ketika masalah lain belum terselesaikan. Tetapi dinamika rakyat dalam menghadapi dan mengatasi masalah itu, niscaya akan memperkuat posisi rakyat.

Gonjes memberikan perumpamaan, “Gerakan rakyat itu seumpama tangan kita yang berotot karena terlatih mengangkat beban berat, maka ketika rakyat terdidik di medan perlawanan, percayalah otot dan kekuatannya akan membesar”.

Pasca May Day, menurut Gonjes adalah momentum untuk kembali menguatkan gerakan rakyat. Ada banyak momentum yang akan menjadi bagian dari konsolidasi sebab bulan Mei dikenal sebagai bulan perlawanan. Gonjes memberikan sebuah pesan penting bahwa persatuan adalah kunci utama.

“Buruh harus memberikan teladan tentang persatuan dan teladan dalam menggagas berbagai permasalahan,” harapnya. Berjuang dengan mengembangkan persatuan yang hangat dan saling berbagi pasti lebih menyenangkan. Tepat, seperti yang disampaikan dalam lagunya Hari Buruh, hari yang menyenangkan.⁠⁠⁠⁠