Gaji Tak Dibayar, Unjuk Rasa Buruh Berakhir Bentrok dengan Polisi

Buruh.co, Jakarta – Unjuk rasa buruh di Sukabumi, Jawa Barat, berujung bentrok dengan kepolisian setempat pada Senin, 28 Mei 2018 sekitar pukul 15.00. Ratusan buruh berunjukrasa setelah upah mereka pada bulan April tak kunjung dibayar oleh manajemen CV Bumi Alam Saribum (BAS). Sementara, perundingan selama 10 hari terakhir berujung buntu.

Perusahaan di Kampung Bungurpandak, Desa Bojongkembar, Kecamatan Cikembar, Kabupaten Sukabumi, itu sempat menjanjikan akan membayarkan upah. Para buruh di sektor garment tersebut akhirnya marah setelaha janji tersebut diingkari.

“Saat terjadi bentrokan saya lagi di depan. Saat saya mau lari ke belakang mendengar ledakan, tiba-tiba ada yang kena pinggang saya,” ujar seorang buruh Rian Hidayatullah (27) sebagaimana diberitakan Kompas.com.

Total sebanyak 11 orang terluka dalam bentrokan dengan polisi tersebut. Para korban dilarikan ke klinik setempat untuk mendapat pengobatan.

Kepala Polres Sukabumi, AKBP Nasriadi menjelaskan kepolisian melakukan penjagaan terhadap aksi unjuk rasa. “Kami mengamankan karyawan sampai 600 orang agar tidak melakukan tindakan anarkis. Mereka berusaha masuk ke dalam, dan sempat ada yang mau merobohkan tembok,” jelasnya.

Akibat bentrokan itu, empat personel anggota Polres Sukabumi terluka, di antaranya luka pada bagian kepala karena lemparan batu. Selain itu terdapat dua pekerja yang dievakuasi ke dalam lingkungan pabrik karena mengalami cedera.

Selain kepolisian, tentara juga terlibat dalam pengamanan di sekitar pabrik. Kompas.com memberitakan penjagaan dibantu Kodim 0607.

Belakangan, keterlibatan tentara dapat ditemui dalam mengamankan pabrik. Di Cianjur, tentara bahkan dilaporkan membantu pengusaha mengevakuasi stok produk dari blokade buruh yang mogok menuntut kepastian kerja. 

Keterlibatan tentara dan polisi juga terjadi ketika mengamankan perusahaan-perusahaan yang bersifat mengeruk sumber daya alam. WALHI menyebut fenomena ini terjadi di berabgai tempat di Indonesia.